
Raja pulang dengan hati riang. Sepanjang perjalanan senyumnya terus terkembang. Bahkan orang yang berlalu lalang disepanjang jalan pun dia sapa meski tidak saling kenal. Sekarang dia hanya menunggu waktu ashar datang. Di tambah lagi dia mempunyai tugas tambahan yaitu menjemput wanita idaman saat sore menjelang. Terbesit dalam pikiran, Raja berharap motor Sania hilang agar dia bisa antar jemput Sania setiap waktu. Benar benar pikiran yang jahat.
Sesampainya di rumah, Raja sudah di sambut dua orang anak buahnya sekaligus sahabatnya Anto dan Kirno. Mereka berdua sengaja datang ke rumah juragannya untuk memberi laporan usaha milik Raja. Biasanya laporan itu dikerjakan di gudang tak jauh dari empang. Namun karena pagi ini Raja ada misi di rumah Sania jadi mau tidak mau laporan itu di bawa ke rumah.
"Gimana, Juragan? Sukses?" tanya Anto begitu Raja duduk di kursi tepat di depannya. Anto dan Kirno tahu apa yang baru saja Raja lakukan.
"Sukses dong, Raja gitu loh," jawab Raja, "Eh ini orang rumah udah pada berangkat apa?"
"Sudah, Gan. Malah si Rumi baru saja keluar tak lama sebelum kamu masuk," balas Kirno.
Ayah Raja tiap hari kerjaannya mengawasi tambak dan kalau siang menjelang sore membuat pindang bandeng, sedangkan sang ibu jualan pindang bandeng di pasar dan berangkat tiap jam delapan pagi. Biasanya Abdul, ayahnya Raja, mengawasi tambak sampai menjelang duhur. Sedangkan sang Ibu yang bernama Lastri biasa pulang jualan selepas duhur sekitar jam dua siang.
"Ya udah, kamu ke warung Mbok Romlah dong, Kir. Minta tiga kopi dan gorengan sepuluh ribu," Perintah Raja.
"Siap, Gan." Kirno segera beranjak menuju warung seberang jalan depan rumah Raja. Rumah sekaligus warung mbok Romlah memang letaknya dekat dan Raja biasa membeli lauk di situ kalau di rumah lagi tidak masak.
"Sania gimana, Gan? Apa sikapnya sudah berubah?" tanya Anto sambil menyodorkan buku yang sudah dia buka dan menunjukkan cacatan keluar masuk barang sejak dua hari yang lalu.
"Masih sama lah, To. Jutek banget. Tapi nggak apa apa sih, ini tantangan," Balas Raja sembari melihat cacatan yang dia terima. Anto hanya manggut manggut sambil membuka buku lainnya.
"Ini kenapa selisihnya dua juta, To? Yang pengiriman ke banyumas," tanya Raja sambil menunjukkan cacatan perbedaan antara dana yang masuk dan dana yang seharusnya masuk.
"Oh, itu si Rudi kemarin minjam dua juta buat biaya lahiran istrinya. Baru dicatat di buku kecil milik Rudi, belum dipindahin," jawab Anto sambil mengambil tas dan mengeluarkan setumpuk buku kecil berisi catatan hutang piutang anak buah Raja.
"Bener lah, Gan. Kan istri Rudi pernah main ke tambak pas sudah kehamilan besar," Raja nampak manggut manggut dan sepertinya dia percaya dengan ucapan Anto.
Tak lama kemudian, Kirno datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas kopi dan sepiring gorengan.
"Gan, aku baru dapat info penting nih," ucap Kirno setelah menaruh nampan di atas meja dan dia mendudukkan pantatnya di kursi yang tadi dia duduki.
"Info apaan?" tanya Raja sambil melirik sekilas ke arah Kirno dan kembali menatap buku cacatan yang dia pegang.
"Kamu tahu kyai Bahar?" tanya Kirno. Wajahnya terlihat sangat serius memandang Raja.
"Ya tahu lah, memang ada apa? Kayaknya penting banget," Balas Anto.
"Ya penting lah, To. Apalagi ini ada sangkut pautnya dengan Sania," ucapan Kirno seketika mengehntikan pekerjaan Raja dan dia langsung menatap tajam ke arah anak buahnya.
"Emang ada sangkut paut apaan?" tanya Raja.
"Denger dari mbok romlah, Kyai Bahar akan melamar anak Abah Mudin untuk si Ramzi,"
"Apa?"
...@@@@@@...