
Sang ustadzah muda benar benar dilanda dilema. Dan parahnya, baru kali ini ustadzah tersebut dilema karena seorang pria. Wajar jika saat ini Sania benar benar merasa galau, karena bisa dikatakan kalau kejadian ini adalah yang pertama kali dia rasakan selama menjadi wanita.
Sania yang waktu remajanya dihabiskan dalam kehidupan pondok pesantren, dirinya sama sekali tidak pernah terlibat urusan dengan yang namanya laki laki. Apa lagi di pondok pesantren, nyaris tiap hari dia hanya bertemu dengan santri wanita semua karena memang di pondok tempat Sania menuntut ilmu, tempat santri putra dan santri putri terpisah. Mereka bisa berbaur saat jam sholat atau kegiatan agama lainnya saja.
Sania tidak pernah menyangka, ucapannya yang tak sengaja berdampak seperti ini. Sikap Raja menjadi dingin dan acuh. Namun yang membuat Sania heran, Raja masih bisa bersikap baik dengan membayarkan mie ayam yang dia makan.
Rasa bersalah yang semakin menumpuk membuat Sania juga merasa iba. Dia membayangkan bagaimana perasaan Raja yang dihina orang lain. Apa lagi dua kali Sania melihat dengan mata kepala sendiri Raja dihina dihadapannya oleh Kyai Bahar dan Pak Danu.
Sania mengirim pesan permintaan maaf kembali. Selain kata maaf, pesan tersebut juga disertakan pertanyaan tentang kelanjutan belajar mengaji nanti malam. Setidaknya Sania sedikit berharap dengan bertanya seperti itu, Raja akan membalas pesannya.
Sedetik, dua detik, tiga detik, semenit, dua menit, tiga menit, bahkan sampai bermenit menit pesan itu tak kunjung bercentang biru. Sania mencoba berpikir positif, mungkin yang punya ponsel sedang sibuk bekerja. Dan Sani berusaha sabar menunggu sambil nonton televisi.
Ting.
Ponsel Sania berdenting. Segera dia meraihnya dengan senyum terkembang. Namun senyum itu hanya terjadi beberapa detik saja saat matanya menangkap nama yang mengirim chat. Ada nama Rumi di sana yang mengatakan belajar ngajinya tetap berjalan. Sania pun menggeram semakin kesal. Berharap Raja yang membalas pesan namun malah sang adik yang menjawabnya.
Sementara disaat yang sama, Raja hanya senyum senyum sendiri dengan tingkahnya yang tak biasa. Bisa bisanya dia bersikap seperti ini pada Sania. Dia sengaja menyuruh Rumi untuk membalas pesan chat yang Sania kirim.
"Sepertinya Juragan kita lagi bahagia nih? Dari tadi senyum senyum sendiri," ledek Anto. Tentu saja sikap Raja mengundang perhatian anak buahnya. Raja hanya mendengus kemudian kembali tersenyum.
"Namanya juga lagi jatuh cinta, To. mendapat pesan dari si dia saja bahagianya sampai ke tulang sum sum," sambung Kirno dan keduanya terbahak.
"Ish kalian ini," dengus Raja.
"Eh Gan, nanti malam datang kan? Ada dangdutan di rumah juragan Kadir?" ucap Anto.
"Juragan Kadir? Emang ada acara apa disana? Kok ada dangdutan?" tanya Raja.
"Ya ampun, kok aku lupa yah?" ucap Raja sambil tepuk jidat.
"Ya pasti lah bisa lupa, orang akhir akhir ini yang dipikirin Dedek Sansan mulu," cibir Kirno. Mendengar cibiran tersebut Raja hanya cengengesan.
"Biduannya nanti kelas wahid semua loh, Gan. Rugi deh kalau nggak datang," ucap Anto antusias.
"Emang siapa aja?"
"Ara kimoci, Aluna, Evy, Detie. Mantap kan?" ucap Anto.
"Wah!" Balas Raja dengan mata berbinar. Namun binar itu seketika meredup saat dirinya teringat Sania. Raja yang biasa semangat jika mendengar ada dangdutan, kali ini semangat itu menguap begitu saja. Dia sudah niat ingin berubah menjadi lebih baik agar jika dia berjodoh dengan Sania, Raja sudah merasa pantas meski ilmu agamanya masih dangkal.
"Seperti biasa, nanti kita berangkat bareng, Gan? Anak anak yang lain juga sudah sangat antusias buat dangdutan nanti malam," giliran Kirno yang nampak semangat mengeluarkan suaranya.
Namun semangat Anto dan Kirno seketika meredup berubah menjadi rasa heran saat melihat sang Juragan justru terlihat tidak seantusias seperti biasanya. Raja malah terlihat murung dengan bertopang dagu dan tatapanya entah ke arah mana. Keduanya saling tatap dan memberi kode dengan mata.
"Kenapa jadi lesu gitu, Gan? Biasanya kalau ada dangdutan, kamu paling semangat dan maju paling depan?" tanya Kirno.
"Ayolah, Gan. Jangan lesu gitu, semangat! Kita pesta sampai pagi," balas Anto.
Raja melempar pandangannya ke arah Anto dan Kirno yang sedang membujuknya dengan tatapan mata. Dia mengembus kasar nafasnya.
"Kalau aku mabuk lagi? Apa kata Dedek Sansan?"
...@@@@@@...