
"Hah!"
Teriak Lita dan Mita bersamaan. Lita yang sedang menyesap es boba bahkan sampai tersedak mendengar ucapan Sania. Tentu saja mereka sangat terkejut mengingat sikap Sania ke Raja dari dulu bagaimana dan tiba tiba detik ini mereka mendengar Raja mau menanam modal. Benar benar sejarah baru.
"Kamu lagi nggak ngigau kan?" Tanya Mita memastikan apa yang Sania ucapkan. Perempuan yang dilempar pertanyaan hanya menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Emang kalian sudah saling memaafkan?" Kini giliran Lita yang bertanya. Rasa penasaran tercetak jelas di wajah kedua sahabat Sania.
"Emang aku sama Raja musuhan? Sampe harus saling memaafkan segala?" Sanggah Sania Sambil meraih es bobanya.
Ya. Sebelum sampai ke rumah Sania. Lita dan Mita memang sengaja mampir ke beberapa pedagang buat beli jajan. Makanya Sania tak perlu repot repot menyuguhkan minum dan hidangan buat mereka. Selain es boba, Mita dan Lita membeli beberapa gorengan, cilok, batagor, dan cireng.
Mita dan Lita bersahabat dengan Sania sejak masih SD. Meski saat SMP mereka terpisah karena Sania memilih melanjutkan pendidikannya ke pesantren. Namun saat Sania pulang, mereka berdualah yang Sania cari. Awalnya mereka tinggal satu RW, namun sejak SMA, Sania pindah rumah meski masih satu desa. Lita saat ini bekerja sebagai TU di sebuah SMP disitu dan Mita bekerja di sebuah Bank di daerah yang sama pula.
"Tapi kan kita tahu, San. Gimana bencinya kamu sama juragan empang," tukas Mita. Pikirannya sejenak menerawang ke kejadian beberapa tahun lalu di mana Sania dipermalukan oleh Raja.
"Tapi kan bukan berarti aku tidak bisa memaafkannya. Apalagi kejadian itu memang sudah lama banget," ucap Sania sembari menggigit bakwan setelah selesai bersuara.
"Berarti sekarang, kalian sudah baikan dong?" tukas Mita lagi.
"Entahlah, yang pasti beberapa hari ini kita memang sering ketemu sih,"
"Apa!" pekik Mita dan Lita bersamaan.
"Nggak perlu teriak juga kali!" sungut Sania.
Entar dulu, Entar dulu. Kalian sering ketemu? Wow!" ucap Mita. Selain terkejut, kedua sahabat Sania juga pastinya merasa takjub dengan apa yang mereka dengar.
"Biasa aja kali ekspresinya! Emang salah kalau kita sering ketemu?" Mita dan Lita langsung nyengir kuda secara bersamaan.
"Ya nggak salah sih, San. Cuma ya kita heran aja," ucap Mita.
"Heran?" tanya Sania tak mengerti.
"Atau jangan jangan kalian..."
"Nggak usah mikir yang aneh aneh deh!" potong Sania sebelum Mita melanjutkan ucapannya. Seketika kedua sahabatnya terbahak melihat wajah kesal Sania.
"Ya kan kali aja. Lagian sejak kapan kalian sering ketemu? Apa sejak pas peristiwa dangdutan kemarin?" terka Lita.
"Sejak..." Sania pun menceritakan semua rentetan kejadian yang menyebabkan dia dan Raja sering bertemu dan terlibat bersama. Dia juga menceritakan tingkah tingkah Raja yang menurutnya aneh dan kadang membuat sebal.
Kedua sahabat Sania yang sangat serius mendengar cerita anak ustadz tersebut sesekali saling pandang. Bahkan beberapa kali bibir mereka menyunggingkan senyum dan tentu saja Sania semakin sebal saat matanya melihat bibir sahabatnya tersenyum seperti sedang meledeknya.
"Wah! Tidak diragukan lagi," ucap Mita begitu Sania selesai bercerita.
"Tidak diragukan lagi apa maksudmu?" tanya Sania tak mengerti.
"Kamu tuh jadi cewek peka dikit dong, San. Sikap Raja yang seperti itu tuh tidak diragukan lagi kalau Raja tuh suka sama kamu," balas Lita. Sania tercengang, dahinya berkerut sembari menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Suka darimananya? Udah jelas jelas Raja tahu aku membencinya? mana ada pria suka sama cewek yang membencinya," sanggah Sania. Mita dan Lita langsung terkekeh mendengar sanggahan tersebut.
"Ya ampun Sania! Mentang mentang nggak pernah pacaran, masa gitu aja nggak tahu. Lagian kebencian nggak harus di balas kebencian juga kan?" balas Mita.
"Dari sikap Raja juga jelas banget kalau dia suka sama kamu. Peka dikit makanya, jangan benci aja di gedein," sambung Lita.
"Ya ampun! Udah deh! Aku tuh pengin minta solusi ke kalian bukan malah menyuruh kalian menyudutkanku, gimana cara minta maaf ke Raja coba? Sampe sekarang chat aku nggak dibaca sama sekali sama tu orang," Lagi lagi kedua perempuan itu terkekeh mendengar rajukan Sania.
Sementara itu di tempat lain, orang yang di bicarakan Sania dan sahabatnya sedang senyum senyum sendiri sembari menatap layar ponsel.
"Dedek Sansan, gimana rasanya dicuekin? Duh aku kok gemes sendiri ngebayangin wajah kamu yah?" ucap Raja pada dirinya sendiri.
...@@@@@...