Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 82



"Astaga! gitu doang dibikin ribut? Kalian ini? Eh tapi Om penasaran juga? Dia pacar kamu? Kalau iya, mending secepatnya minta di lamar, San? Nggak baik pacar pacaran."


"Huu!" sorak semuanya.


Raja yang menyaksikan hal itu hanya terkekeh lirih dan matanya sesekali melirik ke arah dimana Sania berada. Bahkan sesekali mata Raja dan Sania bertemu dan mereka malah saling salah tingkah dan mencoba berpaling secepat mungkin.


Tapi dalam benak Raja, dia penasaran dengan apa yang tadi di ucapkan seorang perempuan yang Sania panggil Budhe. Tadi telinga Raja mendengar kalau Sania memberi dua jawaban yang berbeda dari satu pertanyaan yang sama. Apa maksudnya? Kenapa Sania menjawab tidak dan iya? Sungguh Raja dibuat sangat penasaran.


Suasana rumah yang sedang berduka itu menjadi ramai. Dan hal itu justru malah menghibur bagi keluarga yang berduka. Dukungan dan hiburan memang sangat penting agar keluarga yang ditinggalkan tidak larut dalam kesedihan.


"San, ajak Raja makan dulu sanah," ucap Umi.


"Makan dimana, Umi?" tanya Sania karena di sekitar situ tidak terlihat makanan. Bahkan dari arah dapur sepertinya sepi tidak ada orang.


"Di rumah sebelah, tempat tante Hindun. Masaknya disana." ucap Umi.


"Oh, ya entar aku nyuruh Bang Amar yang bilang," balas Sania dan dia langsung memberi kode kepada Abangnnya yang duduk disebelah Raja.


Amar pun mendekat kemudian setelah dibisikin sesuatu oleh Sania, Amar kembali ke tempat semula dan memberi tahu Raja pesan yang dia terima dari Sania. Raja mengangguk kemudian dia bediri. Sebelum pergi, tak lupa Raja pun berpamitan dan memberi salam kepada semua yang ada di sana kwmudian dia keluar mengikuti Amar.


"Sopan banget pemuda itu, Din? Padahal penampilannya urakan?" tanya saudara Abah Mudin.


"Iya, Din. Dan kelihatannya anaknya supel dan nggak sombong," timpal saudara yang lain.


"Yah dia memang sopan, makanya dia disana banyak temannya. Apalagi dia loyal. Lihat sendiri kan dia dengan suka rela mau nganter anak anak saya kesini. Padahal dia juga punya kesibukan," balas Mudin.


"Kenapa kamu nggak coba ta'arufkan dia sama Sania, Din? Kalau memang mereka deket mending hubungan mereka di perjelas. Daripada nanti ada fitnah. Kasian mereka," usul saudara Mudin.


"Bener, Din. Coba kamu bicarakan dengan orang tua laki laki itu. Kalau emang laki laki itu belum punya calon istri, bukankah lebih baik mereka didekatkan dalam hubungan yang jelas."


Sementara di rumah sebelah, Raja terlihat sedang menikmati hidangan yang disediakan dengan saudara saudara Sania yang lain. Meski beberapa saat tadi mereka heran dengan kedatangan Raja, namun mereka tetap menyambut pria itu dengan ramah.


"Makan yang banyak, Ja. Nambah lagi nasinya?" ucap Amar menawari.


"Iya, Mar. Makasih. Gampang nanti kalau masih pengin, aku nambah." balas Raja.


"San, kamu jangan sibuk sendirian dong? Temenin Raja. Orang dia nggak ada yang kenal selain kita, kamu malah asyik sendiri," Tegur Amar pada sang adik yang sedari tadi asyik bercanda dengan saudara suadaranya.


"Udah, biarin aja, Mar. Nggak apa apa. Namanya juga ketemu saudara," balas Raja mencoba memaklumi keadaan.


"Iya nih, Abang. Bang Raja aja nggak keberatan, kok malah Bang Amar yang protes," sungut Sania. Amar pun memilih diam dan melanjutka makanannya.


Tak lama kemudian, Raja pun telah selesai makan. Sekarang dia bingung mau ngapain. Sania terlihat asyik ngobrol sama saudaranya di ruang tengah rumah tantenya. Sedangkan Amar sedang bersama istri dan anaknya entah kemana. Raja pun akhirnya memutuskan beranjak keluar dari rumah itu.


Sesampainya di luar, Raja juga bingung mau berbuat apa. Mau gabung sama para orang tua tidak enak karena sendirian. Akhirnya dia pun memutuskan masuk ke dalam mobil dan bermain ponsel di sana hingga rasa kantuk menyerang matanya. Akhirnya Raja pun tertidur.


Tiga puluh menit kemudian.


"Loh? San? Raja mana?" tanya Abah yang menyadari kalau pemuda itu tidak kelihatan di rumah adiknya.


Sania langsung terkesiap. Sontak dia langsung berdiri. "Perasaan tadi bareng Bang Amar."


"Orang Amar lagi tidur di rumah sebelah. Kamu gimana sih? Bukannya Raja di temenin malah asyik sendiri."


Hati Sania pun mencelos. Rasa bersalah langsung bersarang di hatinya. sania pun segera saja bergegas mencari keberadaan Raja sebelum Abah meninggikan suaranya kembali.


...@@@@@...