Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 33



Sementara itu di malam yang sama namun di rumah yang berbeda. Seorang pria sedang memasuki rumahnya. Pria berambut pendek, berwajah putih dengan memakai peci hitam, koko berwarna hijau tosca dan sarung hitam, nampak menyunggingkan senyumnya memasuki ruangan demi ruangan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara dari orang tuanya.


"Ramzi! Sini sebentar, Abi mau ngomong," Mendengar namanya di panggil oleh sang ayah, pemuda berusia dua puluh lima tahun itu pun membalikkan badan dan segera melangkah ke sumber suara. Seketika raut wajahnya berubah masam dan langkahnya terasa sangat berat. Dia sudah tahu betul, apa yang akan Abi bicarakan.


"Ada apa, Bi?" tanya Ramzi begitu sampai di dekat sang ayah.


"Duduk lah dulu," balas Abi. Sedangkan sang Ibu hanya duduk terdiam di sebelah sang suami. Matanya menatap sendu ke arah putranya.


"Tadi Abi sudah ke rumah Ustadz Mudin, dan sepertinya beliau setuju dengan rencana Abi," ucap Kyai Bahar kepada anaknya. Tatapannya begitu tajam hingga membuat sang anak merasa gusar.


"Bi, Ramzi sudah bilang..."


"Jangan membantah, Abi cuma setuju kamu menikah dengan putri Ustadz Mudin!"


"Bi, Ramzi sudah gede, Ramzi sudah bisa memilih mana yang bisa membuat Ramzi bahagia,"


"Abi bilang jangan membantah! Apa susahnya nurutin kemauan Abi? Apa kamu mau jadi anak durhaka?" bentak Kyai Bahar.


"Bi, jangan terlalu keras sama anak," sergah Umi.


"Umi diam aja! Ini urusan Abi! Abi keras juga demi kebahagian masa depan anak kita,"


"Kebahagian yang bagaiamana, Bi? Kebahagian seperti apa? Apa seperti Mba Fitri yang di poligami? Apa kebahagiaan seperti Mba Ais yang selalu dipukuli suaminya? Kebahagiaan seperti apa? Mereka semua nurut sama Abi, tapi apa yang mereka dapat?"


"RAMZI!" teriak Abi.


"Udah, nak. Udah, mending kamu masuk kamar,"


"Udah, Nak, udah! Masuk kamar!" bentak sang Umi. Sementara Kyai Bahar terbungkam. Nafasnya menderu. Dia tidak menyangka anak lelakinya akan terus melawannya.


"Mau tidak mau, Kamu harus menerima perjodohan ini!" Titah Abi dan dia segera pergi meninggalkan anak dan istrinya dengan segenap emosi.


Ramzi terpaku di tempat duduknya. Matanya terus menatap tajam ke arah sang ayah sampai menghilang ke dalam kamar. Sementara Umi hanya bisa beristighfar sembari menenangkan suasana hatinya.


"Zi," panggil Umi lirih.


"Kenapa Mi? Kenapa Abi tidak pernah belajar dari pengalaman? Aku tertekan Mi, dari dulu aku harus menuruti semua keinginan Abi, bahkan sampai jodoh pun harus Abi yang menentukan, aku lelah Mi, seakan akan aku lelaki yang tidak punya pendirian," Keluh Ramzi lirih.


Akhir akhir ini Ramzi memang sering berdebat dengan sang ayah. Semua berawal saat Ramzi mengenalkan seorang wanita dari kalangan biasa. Dari sana, reaksi Abi sangat jelas terlihat kalau dia tidak menyukai wanita pilihan anaknya. Padahal wanita pilihan Ramzi adalah wanita baik baik dengan ilmu agama yang lumayan luas dan handal. Tapi karena wanita itu hanya dari kalangan keluarga sederhana, Abi menolaknya dengan dalih pacaran itu di larang oleh agama.


Ramzi kenal betul putri dari Ustad Mudin, tapi yang namanya hati tidak bisa berbohong. Ramzi sama sekali tidak tertarik dengan putri ustadz Mudin.


"Umi juga nggak tahu apa mau Abi, Nak. Umi juga lelah menasehati Abi. Berdoa lah, Nak. Semoga ada jalan yang lebih baik," ucap Umi menatap sendu wajah putranya.


"Aku ke kamar dulu, Mi," pamit Ramzi dan sang Umi hanya mengangguk.


Dengan langkah gontai, Ramzi beranjak ke kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang dan merenungi segala apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Aku harus dapat jalan agar perjodohan ini gagal, harus! Sekalipun Abi murka, aku nggak peduli, aku nggak akan nurut lagi untuk hal yang satu ini," tekad Ramzi dalam hati.


...@@@@@...