Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 65



Pagi kini menjelang. Dan seperti biasanya, setiap habis subuh, Raja sudah mulai melakukan aktifitasnya di gudang empang. Saat pagi adalah saat paling sibuk di gudang tambaknya dan juga gudang tambak tambak juragan bandeng dan udang lainnya yang masih satu daerah dengan Raja.


Bandeng bandeng yang siap panen selalu dipanen tiap habis subuh oleh anak buah Raja. Setelah dipanen, bendeng itu dipisah sesuai ukuran kemudian ditimbang dan dimasukan ke dalam tong tong plastik siap di kirim ke pengepul yang sudah memesan di beberapa kota.


Terlihat di sana, Raja dan sang Ayah ikut turun tangan. Raja biasa mengawasi timbangan dan memilah barang. Sedangkan sang ayah menghitung pemasukkan dan pengeluaran bandeng.


Tiap hari tempat tujuan pengiriman bandeng dan udang berbeda beda. Hal itu terjadi lantaran tiap agen memesannya tidak setiap hari. Rata rata dari mereka meminta di kirim antara dua atau tiga hari sekali. Maka itu tiap hari tujuan pengirimannya berbeda tempat.


"Ini nanti yang kirim ke selatan siapa, Sam?" Tanya Abdul pada anak buahnya yang membantu menghitung pencacatan.


"Rudi sama Karyo, Gan. Kenapa?" balas Hisam.


"Bilangin, nanti pas kirim ke Banyumas. uang punya Ramli di minta. Telat dua nota ini," ucap Abdul sambil menunjukkan salinan nota yang ada.


"Baik. Nanti aku ngomong dulu," balas Hisam kemudian dia beranjak menuju mobil yang akan melakukan pengiriman ke Banyumas dan sekitarnya.


Bersamaan perginya anak buah, Raja datang mendekat sambil menenteng dua kantong plastik. Dahi sang ayah berkerut melihat hal itu.


"Itu apa, Ja?" Tanya Abdul menatap ke arah bungkusan yang di tenteng anaknya.


"Bandeng sama udang, Pak," balas Raja sambil menggantungkan bungkusan itu pada sebuah paku yang tertancap di dinding dekat meja.


"Untuk siapa?" tanya Abdul penasaran.


"Untuk di rumah, Pak," balas Raja enteng.


"Emang Ibu pesen? Tadi pas berangkat tidak ngomong apa apa kan?" Tanya Abdul merasa heran.


"Ya enggak sih Pak, kan nanti ada Sania nginep di rumah. Tentunya harus dimasakin yang enak dong. Nggak mungkin hanya lauk tumis kangkung doang sama gorengan," balas Raja sambil cengengesan.


"Astaga!" balas Bapak sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku mandi dulu lah, Bah. Mau jemput Sania," ucap Raja sembari melangkah menuju kamar khusus yang ada di gudang.


"Jam segini? Enggak kepagian?" tanya Abdul sambil melirik sejenak jam yang nempel di dinding. Di sana baru menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Enggak lah Pak, kali aja di tawarin sarapan disana," balas Raja sambil cengengesan dan berlalu meninggalkan Abdul yang ternganga.


"Nanti berangkat jam berapa sih, Mi?" Tanya Sania sembari memotong beberapa cabe, bawang putih dan bawang merah.


"Sekitar jam sepuluh. Jangan lupa kamu nanti ke toko loh, San. Bantuin Vita," balas Umi yang sedang menata perkedel ke dalam piring dan membawanya ke meja makan.


"Ya nanti. Rencananya Umi sama Abah berap hari di sana?"


"Nggak tahu. Mungkin dua hari atau lebih, kenapa?"


"Jangan kelamaan Umi, nggak enak aku kelamaan nginep di rumah Tante Lastri,"


"Ya lihat aja nanti. Emang kamu sudah baikan dengan Raja,"


Sebelum menjawab, Sania menumis bumbu yang tadi dia potong potong. Sedangkan sang Ibu memilih duduk di kursi dekat meja makan.


"Sudah," balas Sania malu malu.


"Tuh, Raja aja mudah banget maafin kamu, tapi kamu malah lama banget membencinya," sindir Umi.


"Apaan sih, Mi," gerutu Sania. Tentu saja dia tidak bisa membalas sindiran Umi.


"Makanya kalau membenci orang itu sewajarnya saja. Karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari," Nasehat Umi.


"Iya, iya, Umi," balas Sania sedikit sewot.


Saat mereka sedang asyik ngobrol, Ibu dan anak itu dikejutkan oleh dua suara pria. Umi dan Sania menoleh hampir bersamaan.


"Eh ada Raja," ucap Umi.


"Assalamu'alaikum Umi," sapa Raja sambil cengengesan.


"Wa'alaikum salam, baru saja kita ngomongin kamu, eh yang di omongin nongol," ucapan Umi langsung membuat Sania terkesiap.


"Umi!"


...@@@@@...