Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 39



Betapa terkejutnya Sania mendengar berita yang Abah ucapkan. Dia yang rencananya akan kembali duduk di depan toko mendadak mengurungkan niatnya dan mematung di depan etalase dengan tangan tersilang di atas etalase tersebut. Matanya menatap kedua orang tuanya dengan banyak pertanyaan.


"Mau ngapain sih, Bah? Mau ngajak ta'arufan lagi? Males ah," keluh Sania. Dia memang tidak pernah setuju dengan acara acara seperti itu. Meski orang tuanya tidak salah dan tidak pernah menjodoh jodohkan dia dengan siapapun tapi tetap saja, Sania jengah karena Abah tidak pernah menolak seseorang yang berniat bertamu ke rumahnya hanya sekedar mengajak Sania untuk menikah.


"Cuma sebentar saja kok, San. Mau diterima atau tidak, Abah tetap menyuruh kamu yang mengambil keputusan," balas Abah setengah memohon.


"Yang ada aku yang bingung nanti, Bah. Abah tahu kan kyai Bahar orangnya gimana? Lagian aku lihat si Ramzi sedang boncengan dengan seorang cewek, Bah. Mana main peluk lagi. Apa iya? Dia bakalan mau di jodohin?" tutur Sania dengan raut wajah yang nampak sangat gusar.


"Iya, Bah. Kasian anak kita nanti. Entar kalau Sania nolak, bisa jadi bibir Kyai Bahar bilang mengerti dan menerima apapun keputusan anak kita, tapi buntutnya dia akan mengeluarkan jurus dalil yang terkesan kalau dia tidak terima di tolak," sambung Umi.


"Lah terus gimana? Orang Abah sudah menyanggupi. Kalau dibatalkan, kalian juga pasti mengerti reaksi dia bagaimana," giliran Abah yang dilema setelah mendengar alasan Umi dan Sania.


"Bah, lagian aku juga nanti ngajar ngaji Raja dan adiknya. Masa iya aku baru ngajar semalam terus langsung libur. Aku nggak enak sama keluarga Raja lah, Bah,"


Abah Mudin pun terlihat sangat frustasi. Dia mengenal dengan baik siapa Kyai Bahar. Orang yang berpengaruh dan sangat di hormati seperti dirinya. Cuma yang membuat Mudin dan Bahar beda adalah, Mudin selalu dengan lapang dada menerima setiap pendapat yang tidak sesuai dengan hati nurani. Berbeda dengan Bahar. Dia mau menerima setiap penolakan, namun dia pasti akan mengeluarkan kata kata lembut tapi cukup tajam yang bisa membuat seseorang yang menolak terbungkam dan merasa malu serta bersalah. Makanya, setiap musyawarah kegiatan apapun, jika sudah melibatkan Kyai Bahar sudah pasti semua mau tidak mau menyetujuinya keputusan Kyai Bahar.


"Gini aja deh, Raja sama Rumi suruh belajar di rumah kita aja malam ini, biar kamu dapat sana sini, gimana?" usul Abah.


"Mana mungkin Raja mau lah, Bah. Pasti dia malu," tolak Sania.


"Coba dulu di hubungi," ucap Abah sedikit memaksa.


"Aku nggak punya nomer telfonnya,"


"Ya ampun, masa nggak punya?" tanya Abah terperangah.


"Ya emang nggak punya, Bah. Aku punya nomer adiknya doang,"


"Ya udah telfon adiknya, suruh ngomong ke Raja, bisa nggak nanti belajar ngajinya di rumah abah,"


Dengan terpaksa, Sania mengitari etalase dan mengambil ponsel yang dia taruh di dalam tas.


Di tempat lain, setelah pulang dari toko Sania, Raja memilih pergi ke gudang dan berkumpul dengan anak buahnya yang bertugas memantau tambak.


Di dalam gudang terlihat Raja sedang bercengkrama dengan Anto, Kirno dan yang lain. Mereka ngobrol dan membahas berbagai macam pembahasan. Mulai dari dunia pertambakan hingga masalah masalah yang tidak ada hubungannya dengan tambak. Kadang obrolan mereka terdengar serius namun beberapa saat kemudian terdengar tawa mereka pecah.


Kluntang kluntang kluntang.


Tiba tiba terdengar nada dering sebuah ponsel mengejutkan mereka yang sedang ngobrol. Raja yang merasa ponselnya berbunyi pun segera mengambil ponsel yang tergeletak di hadapannya. Dahinya berkerut saat dia melihat ada nomer asing dilayar ponselnya. Raja berpikir mungkin itu nomer orang yang akan mengambil bandeng di tempatnya karena memang setiap ada orang yang akan membuka usaha bandeng, banyak nomer yang menghubunginya. Raja pun segera menggeser tombol warna hijau.


"Hallo," sapa Raja.


"Hallo Assalamu'alaikum, Bang,"


Deg.


Raja terpaku tatkala mendengar jawaban dari sang penelpon. Hatinya berdesir. Dadanya berdegup kencang.


"Wa'alaikum salam, Dedek Sansan?"


"Iya, Bang,"


Bulu kuduk Raja meremang. Senyumnya seketika terkembang dengan mata yang berbinar.


"Mimpi apa aku semalam, di telfon Dedek Sansan."


...@@@@@...