Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 90



Acara pengajian untuk almarhum pun malam ini berjalan lancar. Yang hadir dan mendoakan lumayan banyak. Setelah acara selesai, anggota keluarga yang perempuan membereskan segala sesuatu yang telah digunakan selama pengajian berlangsung. Sedangkan anggota keluarga laki laki membantu sekedarnya saja.


Setelah semua beres, mereka pun memilih beristirahat karena waktu sudah malam dan rasa lelah juga menghinggap di tubuh mereka. Sebagai tamu, Raja disuruh tidur di kamar anak tante Hindun yang tidak bisa pulang karena merantau. Sedangkan Sania, dia tidur bersma Umi dan Budhe yang baru saja kehilangan suaminya.


Waktu terus berlalu hingga tak terasa hari pun berganti. Kini tiba saatnya keluarga Mudin pamit pulang. Setelah berpamitan kepada semua saudara dan beberapa tetangga, keluarga Abah Mudin masuk ke dalam mobil Raja dan beberapa saat kemudian, mobil Raja melaju meninggalkan kampung tersebut.


Sekarang yang duduk di sebelah Raja adalah Abah Mudin. Sania duduk di belakang bersama Umi dan istrinya Amar. Sedangkan di tengah ada Amar, Airin dan suami Airin. Dua anak kecil yang ikut, duduk di pangkuan ibu masing masing.


"Semalam tidurnya nyenyak kan, Ja?" tanya Abah di tengah tengah perjalanan.


"Alhamdulillah, nyenyak, Bah," balas Raja sembari menoleh sekilas ke arah Abah Mudin.


Sudah pasti tidur Raja sangat nyenyak. Hal itu terjadi lantaran dia sangat bahagia dengan kejadian yang dia alami di Kebumen. Tentunya kejadian yang dia lewati bersama Sania. Dari berdebat di dalam mobil, Raja mendapat cubitan, hingga pergi ke pantai layaknya orang kencan. Karena semua itu lah, tidur Raja lebih nyenyak dari biasanya.


"Syukur lah, maaf ya, Ja. Abah jadi ngerepotin kamu." ucap Abah tulus.


"Nggak repot kok, Bah. Anggap aja aku lagi piknik," balas Raja asal.


"Pikniknya ke pantai, sama aja bohong, Ja. Empang kamu kan deket pantai semua?" tukas Amar.


"Ya ampun Amar. Kamu tuh nggak peka yah? Ya jelas beda lah. Iya sih sama sama pantai, tapi yang menemani ke pantainya yang bikin beda," ucap Airin dan seketika semuanya tertawa kecuali Raja yang wajahnya menahan malu dan Sania yang pura pura menganggu keponakan yang sedang terlelap demi menutupi rasa malu akibat ledekan yang kakaknya lontarkan.


Selain bercanda, sepanjang perjalanan, mereka isi dengan obrolan obrolan ringan hingga tak terasa mobil telah sampai di kampung mereka hingga tak lama kemudian mobil berhenti tepat di depan rumah Abah Mudin.


Setelah semuanya turun, Raja memilih langsung pamit karena selain ingin istirahat, dia juga tidak enak jika mampir ke rumah Abah Mudin dulu. Bisa saja Abah Mudin mau istirahat. Bahkan keluarga Amar dan Airin pun ikut turun di sana jadi Raja memilih langsung pulang.


"Baru pulang, Ja?" tanya Bapak begitu Raja melangkah mendekat ke arah Abdul yang sedang duduk di teras rumah.


"Iya ni, Pak." balas Raja sembari menghempaskan badannya dikursi depan sang ayah.


"Sania nggak ikut pulang?" tanya Bapak lagi sembari meraih gelas kopi dan meminum isinya.


"Pulang, Pak. Abah Mudin juga ikut pulang jadi Sania nggak nginep disini lagi," balas Raja sembari mencopot kacang dalam toples.


"Nggak. Katanya akan ada acara penting dengan pengurus masjid di kompleks Abah." Mendengar jawaban sang anak, Abdul hanya manggut manggut.


"Bapak tumben jam segini dirumah?" sambung Raja kembali setelah melihat jam di tangannya.


"Abis ashar nanti, Bapak mau kondangan sama ibu di sebelahnya rumah Abah Mudin." jawab bapak.


Raja pun hanya manggut manggut kemudian dia bangkit. "Raja masuk dulu lah pak, ngantuk."


Bapak pun hanya mengangguk dan Raja melenggang masuk. Pas di ruang tengah, Raja berpas pasan dengan ibunya.


"Baru pulang, Ja?" tanya Ibu.


"Iya, Bu." jawab Raja singkat dan dia segera saja menuju kamarnya dan masuk ke dalam.


Sang ibu yang hendak bertanya tentang Sania pun mengurungkan niatnya dan dia segera beranjak menuju teras.


"Raja pulang kok sendirian aja yah? Apa Sania nginep?" gumam Ibu sampai di teras.


Bapak yang mendengar gumaman istrinya pun menjawab, "Sania pulang bareng Abah dan yang lain."


"Raja cerita sama Bapak?" tanya Ibu dan Bapak mengangguk. Akhirnya sang Ibu ikut manggut manggut.


"Eh, Bah. Nanti setelah kita kondangan, kita mampir ke rumah Abah ya?" usul ibu.


"Mau ngapain?"


"Mau ngomongin tentang ta'arufan Raja dengan Sania, Pak?"


Sang bapak seketika mengernyitkan dahinya sejenak dan tak lama kemudian dia pun mengangguk, "Baiklah."


...@@@@@@...