Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 21



Pagi kini menjelang, mentari menyapa penghuni bumi dengan hangatnya. Setiap makhluk yang bernafas mulai bersiap siap melakukan aktifitasnya. Meski ada yang sudah beraktifitas sebelum mentari bertahta.


Seperti yang terlihat di sebuah gudang di desa pesisir, beberapa orang sedang memilah hasil panen dari tambak milik seorang juragan muda. Mereka dengan suka cita bekerja dari subuh mulai dari panen, memilah dan mengemasnya untuk di kirim ke berbagai pengepul di beberapa daerah.


Sang pemilik usaha juga sudah ada disana sejak pagi. Raja memang kerap bangun lebih pagi jika sudah berurusan dengan tambak udangnya. Tapi bangunnya Raja pagi ini, bukan hanya akan mengawasi panen tambak udang, tapi ada maksud lain yang membuatnya sangat bersemangat.


Raja duduk dikursi kebesarannya dengan tangan yang sibuk memegang bolpoin dan menorehkan nama dan angka angka pada sebuah buku yang tergeletak di hadapannya.


Satu persatu anak buah yang ditugaskan untuk mengirim udang udang tersebut ke berbagai kota, melaporkan siapa saja nama dan tujuan serta berapa banyak udang yang akan di kirim.


"Eh, Pak Sapto masih punya utang yah?" tanya Raja pada salah anak buah yang hendak melapor.


"Iya, Gan. kurang tiga juta," jawab sang anak buah.


"Nanti jangan lupa di tanyakan, orang itu makin numpuk hutangnya," tutur Raja begitu melihat cacatan salah satu pengepul. Bukan hanya satu pengepul yang memiliki hutang, hampir semuanya punya hutang dengan nominal yang berbeda beda namun diatas angka jutaan semua.


Dan tugas Raja adalah dia harus memutar otak mencari cara agar usahanya terus berjalan dan keuangan tetap lancar karena banyak uang yang seharusnya bisa buat keuntungan malah tertahan di tangan beberapa pengepul.


"Ini, Gan. Udang pesenannya," ucap salah satu anak buah yang lain sambil menyerahkan satu kantung plastik berisi udang windu yang Raja pesan.


"Baik, Mang. taruh aja di meja," dan orang itu pun menuruti perintahnya.


Raja kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat terhenti sejenak. Bibirnya tersungging senyum. Sebentar lagi salah satu rencananya akan dia jalankan.


Sementara itu di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Seorang gadis dengan pakaian sedikit longgar sedang beradu dengan bumbu dan beberapa bahan makanan di sebuah dapur. Tidak seperti biasanya, perempuan yang kemana mana tidak pernah melepas hijabnya kini terlihat kepalanya tanpa kain penutup kepala yang biasa dia pakai. Perempuan itu memang kalau di dalam rumah jarang memakai hijabnya kecuali jika di dalam rumah ada tamu yang bertandang atau ada keluarga lain yang menginap.


Sejak Sania kembali ke rumah, secara otomatis pekerjaan sang ibu tetasa menjadi lebih ringan. Sang ibu hanya memegang pekerjaan tertentu saja dan beliau juga dapat pergi ke tokonya lebih pagi bersama sang suami.


"Sebentar lagi, Bah. Tapi sayur udah matang kok. Nih lagi goreng bakwan," jawab Sania sedikit teriak juga. Tangannya sibuk menuangkan adonan bakwan secara pelan dan bertahap. Setelah itu, bakwan yang sudah matang, dia taruh piring dan dibawanya ke meja makan untuk lauk.


"Motor kamu sudah balik belum, San?" tanya Umi begitu dia keluar kamar dan menuju meja makan juga.


"Belum lah, Bu. nanti siang aku ambil," jawab Sania sembari kembali ke dapur.


"Nggak minta di anterin aja?" tanya Umi lagi.


"Janganlah, males ketemu Raja," Balas Sania sedikit ketus.


"Ya ketemu nggak apa apa, kan bisa sekalian ngucapin terima kasih," timpal Abah yang mulai menikmati santapan yang sudah dia ambil di atas piring.


"Gampang lah, Bah." Jawab Sania malas. Sang Abah hanya mengulas senyum.


Saat ketiga penghuni rumah itu sedang ngobrol sambil menikmati santap pagi, riba tiba mereka di kejutkan dengan suara bel pintu berbunyi.


"San, ada tamu itu, tolong bukain pintu." Ucap Umi. Dia menyuruh Sania karena dia sendiri juga sedang sarapan.


Tanpa menjawab, Sania beranjak ke kamar dulu mengambil penutup kepala yang praktis langsung masuk dan segera menuju pintu ruang tamu.


Mata Sania membulat saat pintu dan terbuka dan sesosok pria berdiri di hadapannya dengan senyum yang terlihat sangat menyebalkan.


"Assalamu'alakum Dedek Sansan."


...@@@@@...