Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 77



Setelah tak sengaja mendengar Raja membaca Al Qu'an dari dalam kamarnya, Sania melangkahkan kakinya menuju tempat sholat untuk melaksanakan sholat malam seperti yang biasa dia lakukan. Sebenarnya Sania canggung, jam segini numpang sholat di rumah orang lain. Namun bagaimana lagi, ini sudah jadi kebiasaannya jadi mungkin jika keluarga Raja ada yang tahu, Sania yakin. mereka akan memakluminya. Sesampai di tempat sholat, Sania bergegas mengambil air wudhu.


Sementara dari dalam kamar, Raja nampak serius membaca ayat ayat Al Qur'an dengan pelan sambil mempelajari apa yang di ajarkan Sania tiap malam selepas maghrib. Sebelum membaca Al Qur'an, Raja pun tak lupa belajar menunaikan sholat malam yang dia pelajari diam diam melaui internet. Raja rutin melaksanakan kegiatan tersebut sejak beberapa terakhir ini.


Saking seriusnya Raja membaca Al Qur'an tanpa terasa waktu subuh pun hampir mendekat. Raja segera mengakhiri bacaannya kemudian bergegas keluar kamar untuk melakukan sholat subuh di tempat sholat yang ada di rumahnya.


Saat langkah kaki Raja perlahan mendekat ke tempat yang dia tuju, Raja mendengar ada suara perempuan yang sedang berdoa. Raja tertegun. Dia mematung saat dia tahu siapa perempuan yang sedang berdoa tersebut.


Meski lirih, Raja mendengar doa yang Sania panjatkan meski doa doa itu sebagian menggunakan bahasa arab. Raja pun senyumnya tersungging dengan hati turut mengucap kata Aamiin mengikuti doa yang Sania panjatkan.


Hingga tak lama kemudian, Sania pun menutup doanya dengan mengucap hamdallah dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sambil menunggu adzan subuh, Sania memilih melakukan zikir.


Sementara di belakangnya, Raja pun bergegas mengambil air wudhu. Setelah selasai, Raja melangkah ke tempat sholat dan memilih duduk di belakang Sania.


Merasa di belakangnya ada seseorang yang hadir, Sania pun menoleh dan memekik pelan, "Bang Raja."


Raja seketika mengeluarkan senyum termanisnya. "Lanjutkan aja, Dek."


"Bang Raja duduk di depan dong, masa dibelakangku?" ucap Sania.


"Sama aja, lagian kan belum adzan subuh. Udah sanah lanjutin," balas Raja.


Sania pun mengalah, dia kembali memposisikan dirinya seperti semula. Sedangkan di belakangnya Raja puas puasin memandang wajah gadis idamannnya. Hingga tak terasa adzan subuh terdengar berkumandang, Sania pun mengehntikan dzikirnya guna mendengarkan Adzan.


Beberapa saat kemudian, disaat anggota keluarga yang lain baru pada bangun tidur, Di satu ruang rumah itu, Raja sedang melaksanakan sholat berjama'ah berdua dengan Sania. Lagi lagi Raja di daulat sebagai imam dan kali ini Raja lebih bersemangat menjalankannya.


Sementara tak jauh dari sana, Abdul dan sang istri yang hendak melaksanakan sholat subuh juga nampak tertegun melihat pemandangan di ruang sholat.


"Lihat, Pak. Raja sudah pantas jadi imamnya Sania," ucap Ibu pelan.


"Iya iya. Ya udah mending kita sholat di kamar." balas Abdul sembari berbalik badan melangkah ke arah kamar dan di ikuti sang istri di belakangnya.


"Semalam tidurnya nyenyak nggak, Dek?" tanya Raja begitu mereka selesai berdoa dan Raja langsung memutar badan menghadap Sania.


"Nyenyak, kenapa, Bang?" tanya Sania yang tadi hendak melepas mukena namun diurungkannya begitu Raja melontarkan pertanyaan.


"Tadi bangun jam berapa sih? Kok sebelum subuh udah disini?" tanya Raja kembali. Sikapnya seakan akan menahan Sania agar tetap berada di tempat yang sama dengannya.


"Sekitar jam empat sih tadi, nah, kamu sendiri bangun jam berapa, Bang?" tanya Sania setelah menjawab pertanyaan Raja.


"Sekitar menjelang subuh tadi," Sania mengerutkan dahinya mendengar jawaban Raja yang jelas sekali kalau dia bohong.


"Terus tadi yang ngaji jam empat subuh siapa?" Mendengar pertanyaan Sania, Raja pun tersenyum lebar dengan tangan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Kirain nggak ada yang mendengarnya? Jadi malu," ucap Raja salah tingkah.


"Ngapain Malu, orang malah bagus kok," ucap Sania."Eh bang, boleh ngasih saran nggak?"


"Saran?" Tanya Raja dan Sania mengangguk. "Saran apaan?"


"Kalau mau, Bang Raja mending potong rambut deh. Itu kalau sehelai saja rambut Bang Raja menghalangi saat Abang sujud dalam sholat, maka sholatnya tidak sah loh" ucap Sania.


"Benarkah?" Tanya Raja dan lagi lagi Sania mengangguk. "Ya udah nanti aku rapiin rambutnya. Tapi nanti temenin ya?"


"Lah kok ditemenin aku?" tanya Sania kaget.


"Kan kamu yang ngasih saran, ya tanggung jawab sekalian dong buat nemenin potong rambutnya."


"Dihh"


...@@@@@...