Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 7



Raja berjalan santai sambil berdendang dangdut. Sedangkan di belakangnya, Sania nampak begitu kesal karena mengikuti Raja sambil menuntun motor yang kempes di kedua rodanya. Bukannya Raja tak mau membantu, dia sengaja melakukan hal itu dengan alasan biar lebih lama bersama wanita idamannya dan juga memberi pelajaran karena wanita itu telah menampar dan mononjok Raja dalam keadaan mabuk. Raja tidak habis pikir. Berhijab, memakai baju longgar yang sama sekali tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya, terlihat manis dan lembut, tapi tonjokannya begitu keras. Bahkan rasa nyeri masih sedikit terasa saat Raja mengunyah makanan.


"Dasar cowok nggak peka!" rutuk Sania lirih namun masih bisa di dengar oleh Raja. Pria itu hanya menyunggingkan senyumnya tanpa menoleh dan peduli dengan di belakannya.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kediaman Raja dan kebetulan saat itu bertepatan dengan berkumandangnya adzan maghrib.


"Duh, udah adzan lagi." keluh Sania dengan keringat yang bercucuran.


"Sholat di sini aja dulu. Nanti selepas maghrib aku antar." usul Raja enteng.


"Tahu begini, mending tadi di masjid dulu." Gerutu Sania dan Raja hanya tergelak. Dia sungguh merasa gemas dengan perempuan bergamis itu. Tapi sayang, tangannya Raja tidak ada keberanian untuk menyentuhnya.


"Apa perlu aku antar lagi ke masjid?" Tawar Raja.


"Nggak perlu." Jawab Sania ketus. Lagi lagi Raja tersenyum senang.


"Ya sudah sholat di sini saja. Ntar kamu pakai mukena adikku aja." Saran Raja dan mau tak mau, Sania pun menurutinya.


Mereka bergegas masuk. Sania menunggu di ruang tamu. Sania mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.


"Nih mukenanya. Ruang sholatnya tuh disana, tempat wudlu ada di sebelahnya." Tunjuk Raja dan Sania segera menerima mukena tersebut.


"Kamu nggak sholat?" Tanya Sania.


"Ntar aku sholat di kamar." Jawab Raja dusta sembari cengar cengir.


"Bohong banget. Di kasih nafas bukannya bersyukur dan tobat. Malah seenaknya." Gerutu Sania sembari melangkah menuju tempat shola yang di tunjuk.


"Sholat kan nggak perlu di pamerin." Ucap Raja sembari senyum senyum dan dia melangkah ke kamar.


Untuk urusan ibadah, Raja memang sangat malas melaksanakannya. Mungkin karena pergaulan dan kebiasaannya yang suka mabuk dan berkumpul sama orang orang yang mengaku islam tapi hanya islam ktp saja, jadi membuat hatinya jauh dari kegiatan agama.


Tak lama kemudian, Sania terlihat sudah melesai melaksanakan ibadah sholat maghrib. Saat dia sedang melepaskan mukenanya, sayup sayup dia mendengar ada suara perempuan yang sedang membaca Al Qur'an. Sania menajamkan pendengarannya. Dan benar saja tak jauh dari keberadaannya terlihat seorang perempuan sedang duduk bersila dengan menyangga sebuah Al Qur'an. Sania pun melangkah ke arahnya.


"Maaf, dek. itu bacaannya masih ada yang salah." Ucap Sania begitu dia berada di dekat perempuan yang lebih muda darinya. Perempuan itu mendongak dan mengkerutkan dahinya.


"Salah? Yang mana?" Tanya perempuan itu yang ternyata adik Raja. Sania duduk menghampirinya dan mengambil alih Al Qur'an yang di pegang perempuan itu.


"Yang ini. Nun sukun ketemu syin itu bacanya harus samar namanya ikhfa. Bukan di baca jelas. Begini cara bacanya." Tunjuk Sania dan dia pun membaca bagian dari Al Qur'an tersebut.


Raja yang terdiam di dalam kamar seketika tercengang mendengar suara merdu seorang perempuan lain yang sedang membaca Al Qur'an. Dia bergegas keluar kamar dan menuju sumber suara.


Raja begitu merasa takjub melihat pemandangan di depannya. Hatinya berdesir dan menghangat begitu mendengar aluan nada Al Qur'an yang Sania baca.


"Mba, suaranya merdu sekali." Puji adik Raja begitu Sania selesai membaca.


"Merdu apaan, biasa aja kok." Jawab Sania merendah.


"Mau dong, Mba. Di ajarin cara membaca Al Qur'an yang baik dan benar. Ajarin aku ya, Mba, pliss." Pinta adik Raja.


"Boleh. Atur waktunya aja ya." Balas Sania.


"Siap, Mba. Nanti aku bilang sama bapak dan ibu." Ucap adik Raja. Padahal tadi pas Sania masuk rumah, perempuan itu bersikap biasa saja namun sekarang malah bersikap hangat pada Sania.


Raja yang terdiam menyaksikan obrolan kedua perempuan di hadapannya seketika matanya berbinar. Dia seperti menemukan jalan agar bisa lebih dekat dengan wanita incarannya. Dan saat Sania masih asyik ngobrol dengan adiknya, Raja ikut bersuara.


"Aku juga di ajari baca Al Qur'an ya?"


Sania dan adiknya, kompak ternganga bersama.


...@@@@@...