
"Terus kamu maunya perempuan yang kayak apa? Kayak Sania?"
Terkejut. Itulah yang sedang Raja rasakan saat ini. Ingin rasanya dia menjawab iya, namun entah kenapa bibirnya terasa berat untuk mengatakannya. Saat ini yang bisa Raja lakukan adalah mengulas senyum sebagai jawaban atas pertanyaan Abah Mudin.
Pria paruh baya itu menatap lekat pemuda yang sedang salah tingkah sembari tersenyum. Sebagai seorang ayah, dia tahu betul apa yang pemuda itu rasakan.
"Kata orang jodoh itu adalah cerminan diri kita sendiri. Kalau tingkah kita baik maka jodoh kita orang baik. Dan sebaliknya, jika tingkah laku kita buruk maka jodoh kita buruk. Apa kamu percaya akan hal itu?" Tanya Abah lagi. Kening Raja berkerut. Dia nampak mencerna pertanyaan dari Abah barusan.
"Aku sih kurang tahu ya, Bah. Tapi menurutku, kalau jodoh itu cerminan diri kita. Berarti percuma dong ya, Bah, kalau kita ingin berubah lebih baik tapi jodoh kita malah buruk, sama aja bohong. Yang ada susah untuk berubah," jawab Raja. Entah dia mendapat pemikiran dari mana mendapat jawaban seperti itu. Abah Mudin tersenyum tipis mendengar jawaban Raja.
"Maka dari itu, jika kamu menginginkan jodoh yang baik maka perbaiki dulu dirimu dengan sungguh sungguh. Mohon sama Tuhan agar jodohmu bukan dari kalangan yang buruk. Seandainya jodohmu berkelakuan buruk berarti kewajiban kamu untuk merubahnya," ujar Abah kalem.
"Kelakuan aku aja buruk, Bah. Mana bisa aku mengajari orang lain supaya lebih baik. Entar yang ada, aku dinyinyirin orang dikira aku nggak punya kaca," Mendengar jawaban Raja yang nampak polos, Abah Mudin seketika tergelak.
"Maka itu ubah kelakuan kamu. Kamu itu sebenernya orang baik loh, tinggal kamu siap apa nggak berubah lebih baik," ujar Abah menasehati.
"Ini juga lagi belajar, Bah. Kan bertahap,"
Di saat bersamaan, nampak Sania dan Umi Sarah keluar rumah dan bergabung dengan mereka.
"Lagi pada ngomongin apa nih? Kedengarannya seru banget dari tadi?" Tanya Umi saat mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Abah. Dia meletakkan nampan berisi dua cangkir kopi beserta biskuit rasa kelapa dalam sebuah toples.
"Ini lagi ngomongin jodoh," balas Abah sambil mengambil kopi buatan sang istri.
"Jodoh? Wah! Kamu mau nikah, Ja?" Tanya Umi terpengarah.
"Enggak Umi, jodohnya aja belum kelihatan, gimana mau nikah," sanggah Raja sambil melirik Sania yang curi curi pandang dari tadi.
"Tapi udah ada pandangan belum? Wanita yang kamu inginkan?" Tanya Umi lagi. Sebenarnya Umi tahu, Raja sedang mengincar anaknya.
"Udah sih Umi, tapi susah. Anaknya galak," lagi lagi Raja menjawab sambil melirik ke arah Sania. Sedangkan perempuan itu mendadak salah tingkah. Dia pura pura mengambil toples dan membukanya kemudian mencomot biskuit kelapa terus memakannya.
"Anaknya yang susah atau kamu yang nggak ada keberanian untuk menunjukkan keseriusanmu?" Abah menoleh ke arah istrinya. Sepertinya Abah menyadari sesuatu.
"Nih contoh Abah. Dulu kita memang tidak pacaran. Tapi Abah selalu berusaha menunjukkan keseriusannya sama Umi. Dulu Abah juga sama kayak kamu, suka buat onar. Tapi karena kesungguhan dia, orangtua Umi menerima lamaran Abah," balas Umi sedikit mengenang kisahnya. Raja tertegun mendengarnya. Begitu juga dengan Sania. Perempuan itu baru pertama kali mendengar masa lalu orang tuanya.
"Abah sering buat onar, Mi?" tanya Sania seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Abah tuh dulu nakalnya sangat parah. Hampir tiap hari kalau ada keributan, pasti ada Abah," balas Umi.
"Nggak gitu juga kali, Mi," sanggah Abah mengelak dengan kenyataan masa lalunya.
"Emang nyatanya begitu, jangan membantah," tukas Umi dan Abah langsung diam setelah mencebikan bibirnnya.
"Wah! Abah keren!" puji Raja sambil mengacungkan jempol.
"Iya, keren, sampai hampir mau masuk penjara," Raja dan Sania kembali terperangah mendengar cerita tersebut dari bibir Umi.
"Yang benar, Umi? Kenapa bisa gitu?" tanya Sania.
"Ya karena perkelahian antar pemuda. Ada yang terluka parah dan Abah kamu yang di tuduh melakukannya, beruntung bukti mengarah ke orang lain, kalau tidak, mungkin Umi sudah nikah sama adiknya Kyai Bahar,"
"Hah!" pekik Sania dan Raja hampir bersamaan.
"Ih apaan sih, Umi," sungut Abah. Dan semuanya terpingkal melihat tingkah Abah.
"Wah aku harus belajar dari Abah nih, aku juga harus menunjukkan keseriusanku," ucap Raja dengan mata menatap ke arah Sania.
"Emang siapa wanita yang mau kamu seriusin, Ja?"
Deg
...@@@@@...