
"Bukankah itu, Ramzi? kok dipeluk peluk gitu diam aja? Atau jangan jangan mereka pacaran?" gumam Raja sambil terus memperhatikan tingkah dua sejoli yang sedang menunggu lampu merah berganti hijau di sisi kiri jalan.
Saat Raja berhenti bergumam tiba tiba dia teringat sesuatu dan sepertinya itu hal yang bagus. Raja seketika tersenyum senang.
"Dedek Sansan, lihat deh di kiri jalan yang pake motor baet merah, bukankah itu anak Kyai Bahar ya?" tanya Raja dengan suara keras. Sania yang sedang melamun sedikit tersentak mendengar pertanyaan Raja yang tiba tiba dan mengagetkan.
"Apaan sih, Bang. Ngagetin aja," sungut Sania dan seperti biasa, Raja hanya cengengesan menanggapinya.
"Itu, Dek. Coba deh kamu lihat di jalan simpang kiri, bukankah itu si Ramzi?" Meski kesel, Sania pun mengedarkan pandangannya dan mencari sosok yang ditunjuk pria di depannya.
Seketika ekspresi wajah Sania berubah. Tentu saja dia terkejut dengan apa yang dia lihat. Di tambah lagi bertepatan dengan giliran lampu merah di sisi jalan Raja yang berganti hijau. Tentu saja begitu motor melaju, Sania dengan sangat jelas melihat Ramzi dipeluk seorang perempuan dari belakang.
"Katanya nggak suka pacaran? Dasar laki laki," umpat Sania ketus.
Sayang sekali, Raja tidak mendengarkan umpatan Sania. Dia terlalu bahagia karena Ramzi juga tak sesempurna apa yang dia kira dan peluang Raja untuk mendapatkan Sania makin terbuka lebar.
Tak butuh waktu lama, Raja dan Sania pun sampai di balai masjid. Sebelum mengajar Raja dan Rumi, Sania mengajar anak anak dulu.
"Ini motornya di taruh di rumahku dulu aja ya, Dek, toh rumahku deket ini, nanti kita pulangnya jalan kaki," usul Raja begitu mereka turun dari motor.
"Kamu nggak nungguin di rumah aja? deket ini?" tanya Sania.
"Nggak lah, aku pengin lihat perkembangan Fatar juga," ujar Raja beralasan.
"Fatar?"
"Dia ponakanku, tuh yang pakai koko biru peci hitam," tunjuk Raja kepada sekumpulan bocah yang sedang mengerubutin pedagang mainan.
"Oh, ya terserah kamu, aku masuk dulu," balas Sania dan dia berlalu meninggalkan Raja yang cengengesan.
"Jutek cantik, nggak jutek makin cantik, duh dedek," Raja pun kembali naik motor dan melajukan motor itu ke arah rumahnya dan setelah itu, dia kembali ke balai masjid dengan jalan kaki. Demi cinta hal sebenarnya merepotkan justru malah sangat menyenangkan dilakukan.
"Duh juragan, tumben lagi sering ke sini? Nungguin Fatar?" tanya salah satu ibu yang kebetulan juga tetangganya.
"Iya nih, Bu," jawab Raja dusta.
"Tumben Fatar di tungguin, biasanya juga berangkat dan pulang bareng anakku," tukas Ibu muda yang seumuran dengan kakak Raja.
"Ya nggak tahu, Mba. Aku kan cuma nurutin permintaan keponakan saja, nggak salah,kan nyenengin ponakan sendiri?" balas Raja dan tentu saja itu hanya alasan. Dia mana berani berkata jujur kalau dia sedang menunggu guru ngaji yang akan mengajari dia. Gengsi dong.
Tak terasa waktu mengajar anak anak pun usai. Kini Sania membereskan meja mengajarnya dan bersiap siap pindah kerumah pria yang sedang duduk manis di pojokan ruangan.
"Juragan! itu Fatarnya sudah keluar, ngapain masih di dalam?" teriak ibu muda yang tadi.
"Eh iya, lupa," Raja tergagap. Dia segera bangkit dan beranjak keluar.
Dahi ibu muda itu berkerut. Dia merasa janggal dengan sikap Juragan empang. Apa lagi tak lama Raja keluar, Sania juga terlihat keluar di belakang Raja. Dan entah dapat pemikiran dari mana senyum ibu muda itu terkembang.
"Jangan jangan, Juragan bukan nungguin Fatar, tapi nungguin guru ngajinya Fatar, "
Seketika celetukan si ibu muda menghentikan langkah kaki Raja dan Sania.
"Maksudnya, Mba?" tanya Raja pura pura. Padahal dia sadar sudah ketahuan modus datang ke balai masjid.
"Nggak, nggak ada maksud apa apa, aku pulang dulu ya. Juragan, Selamat berjuang,"
Ibu muda itu pergi meninggalkan Raja yang pura pura terkejut dan Sania yang benar benar terkejut.
...@@@@@...