
"ini siapa, Din? Apakah calon suami Sania?" tanya saudara Abah Mudin saat berjabat tangan dengan Raja.
Semua mata pun hampir serentak menoleh ke arah Raja dan Saudaranya Abah Mudin. Raja mendadak salah tingkah, begitu juga Sania.
"Kalau jodoh ya jadi suami, kalau mggak jodoh ya jadi teman," jawab Abah asal.
"Walah, kirain calon suaminya Sania. Tapi kok ya rambutnya panjang gitu? Kenapa nggak dipotong ben kelihatan bagus loh," Ujar seorang perempuan yang ada disana.
"Iya," balas Raja canggung.
Raja dan yang lainnya duduk bersama anggota keluarga yang lain. Banyak orang yang melayangkan pandangannya ke arah Raja. Sedangkan Raja hanya terdiam canggung sembari mendengarkan obrolan para orang tua.
Dilihat dari cara mereka berinteraksi, sepertinya mereka sudah lama tidak berjumpa. Dan momen berkabung seperti ini menjadi ajang buat anggota keluarga besar Sania dari pihak Abah berkumpul.
Beruntung di situ ada Amar. Jadi Raja tidak terlalu merasa sendirian berada disana bersama orang orang yang tidak dia kenal
Sementara di ruang lain, Sania yang memilih duduk di ruang tengah nampak sedang ngobrol dengan Umi dan bude serta tantenya. Selain menanyakan kabar, tentu saja kehadiran Raja disana menjadi topik pembicaraan juga.
"Gimana ceritanya Raja bisa ikut sih, San? Apa dia nggak sibuk?" tanya Umi.
"Katanya sih enggak, Mi. Lagian dia yang maksa buat nganterin." jawab Sania sambil mengupas kulit salak.
"Emang dia siapa sih? Pacar kamu?" tanya Budhe.
"Bukanlah, Bude. Kita cuma temen. Lagian aku kan nggak suka pacaran."
"Tapi kalau di dilihat lihat, sepertinya dia suka sama kamu deh, San," balas tantenya.
Sania malah tertawa lirih mendengar hal itu membuat sang tante memicingkan matanya.
"Eh ini anak dibilangin nggak percaya. Laki laki, kalau mau berbuat sejauh ini, berarti dia tuh memang suka sama perempuan itu. Kalau dia nggak suka sama kamu, mana mungkin dia mau susah susah ngantar kamu kesini?" balas tante lagi.
"Bener, San. Itu tandanya dia sedang berjuang untuk memenangkan hati wanita. Kalau kamu nggak mau, nanti Budhe kenalkan dia aja sama anak Budhe aja yak?" Sambung Budhe.
"Apaan sih Bude. Belum tentu juga Raja mau kan?" ucap Sania yang tiba tiba merasa tidak rela mendengar ucapan Budhenya
"Lagian, kamu aja kelihatan nggak mau, biar Budhe kenalkan saja dia sama Adiba." ucap Budhe ngotot.
Bersamaan dengan itu, perempuan bernama Adiba pun datang menghampiri mereka.
"Sania? Kapan datang?" pekik Adiba begitu dia melihat saudara sepupunya yang usianya terpaut beberap bulan.
"Abis beli rujak nih diwarung sebelah. kamu mau?" tawar Adiba sambil membuka rujak yang di bungkus daun pisang.
"Wah, Kelihatannya enak tuh. Coba aku icipin,"
Sania meraih sendok di badapannya dan mulai ikut menikmati rujak bareng Adiba.
"Dib, lihat tuh! Temennya Sania, ganteng yah?" tunjuk Budhe. Adiba yang merasa terpanggil pun ikut menoleh ke arah pandang Ibunya.
"Wah, tampan juga. Beneran, San? Dia pacar kamu?" tanya Adiba memastikan.
Sania pun bingung mau jawab apa. Entah kenapa dia jadi merasa tidak rela saat Budhenya memiliki niat akan mengenalkan Adiba dengan Raja. Dan akhirnya dengan sangat terpaksa akhirnya Sania pun mengiyakan.
"Wahh! Apa dia pacar pertama kamu? Bukankah kamu nggak suka pacaran?" tanya Adiba bertubi tubi.
"Tadi nggak mengakui, sekarang malah bilang iya, yang bener yang mana?" cecar Budhe.
"Ya ampun. Adiba, budhe! Kenapa kalian jadi mengadiliku seperti ini?" protes Sania.
Sedangkan Umi dan tante yang ada disana hanya tertawa melihat kehebohan keluarga mereka. Dari semua saudara Abah Mudin, Budhe memang orang yang paling rame dan heboh. Makanya, meski cuma ngobrol bertiga aja, disana kelihatan heboh sampai yang sedang ngobrol di ruang tamu pun pada menoleh.
"Kalian pada ngapain sih ribut sendiri? bisa sampai terdengar hingga sini loh suaranya?" ucap Pakdhe yang memasang wajah heran.
"Iya nih, Budhe. Kasian tuh Budhe Marni, orang lagi berduka malah Budhe bikin gaduh," Sungut Sania sambil cengengesan.
"Eh kamu berani nyalahin Budhe?" sungut Budhe.
"Aduh kalian ini! Emang apa sih yang kalian ributin?"
"Ini, Om, Sania. Ditanyain, cowok itu pacar kamu bukan? Tadi jawab tidak, eh sekarang jawab Iya, kan bikin bingung." ucap Adiba.
Semua yang disana pun terperangah dan geleng geleng kepala. Dan diantara mereka, orang yang paling terkejut adalah Raja.
"Astaga! gitu doang dibikin ribut? Kalian ini? Eh tapi Om penasaran juga? Dia pacar kamu? Kalau iya, mending secepatnya minta di lamar, San? Nggak baik pacar pacaran."
"Waduh
...@@@@@...