
"Kita ulangi lagi ciuman pertama kita yuk, Dek?"
Deg.
Jantung Sania seakan berhenti berdetak, nafasnya tiba tiba terasa sesak. batinnya seakan bertarung dengan pikiran melanglang buana.
"Ciuman pertama?" tanya Sania pelan dan terasa gugup. Sungguh permintaan pria yang memeluknya membuat dia tak tahu harus bagaimana.
"Iya, bukankah itu juga bagian dari kisah pertemuan pertama kita?" tanya Raja lembut. dekapannya semakin erat. Bahkan dia berkali kali menghirup aroma pakaian Sania pada bagian punggung atas dan pundaknya.
Tentu saja Sania tidak lupa. Apalagi karena ciuman itulah, Sania pernah sangat membenci pria yang sekarang menjadi suaminya.
Sementara Raja, dia tahu sang istri pasti gugup dan mungkin pikirannya sama dengan apa yang Raja pikirkan. Namun sebagai laki laki yang sudah menikah tidak ada salahnya dia menginginkan sesuatu yang memang sudah menjadi haknya.
"Dedek," panggil Raja pelan dan sangat lembut.
"I~iya Bang," jawab Sania gugup.
"Kok diam? Apa ada yang Dedek pikirkan?" tanya Raja penuh selidik.
Sebenarnya Raja tahu, Sania mungkin belum siap dengan apa yang dia pinta. Namun jika bukan Raja yang inisiatif memulai, entah kapan hubungan yang seharusnya terjadi jika tidak ada yang mengawalinya terlebih dahulu. Tidak mungkin Sania yang aktif. Bahkan selama perjalanannya, Raja lah yang atktif mengejar Sania hingga menjadi istrinya.
"Dedek," panggil Raja lagi karena setelah beberapa saat panggilan pertama tadi Sania malah terdiam.
"Iya, Bang." balas Sania lagi.
"Kenapa diam lagi? Sepertinya memang ada yang Dedek pikirkan, yah?" tanya Raja lagi dengan nada sedikit di tekan.
"Enggak kok, Bang," kilah Sania.
Raja pun mengulas senyum. Dia tahu istrinya sedang berbohong. Dari nada bicaranya saja jelas sekali kalau Sania gugup. Tapi justru kegugupan Sania dijadikan alat oleh Raja untuk terus menggoda sang istri.
"Coba bilang enggaknya sambil hadap sini?" Sania kembali dibuat tercengang dengan permintaan Raja yang terdengar seperti memberi perintah.
"Hadap sini aja dulu," ucap Raja dengan bibir senyum senyum penuh arti.
"Nggak mau." tolak Sania.
"Kenapa nggak mau?" tanya Raja masih dengan mode cengengesannya.
"Ya nggak kenapa kenapa," balas Sania masih mencoba bersikap tenang.
Raja terdiam dengan senyum tersungging yang mengisyaratkan kalau dia pasti sedang memikirkan sesuatu. Dia bangkit dan pelukan tangannya sedikit melonggar. Dan setelahnya Raja justru menggerakkan badannya melewati tubuh Sania dan segera merebahkan diri menghadap Sania dengan salah satu tangan melingkar erat di pinggang Sania hingga wajah mereka kini nampak begitu dekat.
Sania yang merasa terperangkap benar benar dibuat tak berkutik dengan kelakuan Raja yang tiba tiba itu. Dia hanya memejamka matanya sambil berusaha melepas jeratan tangan Raja dan itu hanya sia sia belaka.
"Abang mau ngapain?" pekik Sania.
"Nggak ngapa ngapain. Kenapa? Kok kayak takut gitu? sampe matanya ditutup," kilah Raja.
"Ya abis Abang ngagetin. Lagian kenapa pindah tempat?" protes Sania dengan mata yang masih terpejam.
"Loh? emang apa salahnya Abang pindah? Lagian Dedek disuruh hadap Abang, nggak mau, ya Abang mengalah demi Dedek, Abang yang pindah. Nggak salah kan?" jawaban Raja membuat Sania mati kutu. Matanya terus terpejam tak berani menatap wajah suaminya yang begitu sangat dekat.
Senyum Raja benar benar belum mau surut. Apalagi tingkah Sania semakin membuat Raja merasa begitu gemas. Raja sangat menikmati wajah sang istri yang menurutnya sangat cantik begitu dilihat dari dekat.
Melihat Sania yang sepertinya belum mau membuka mata, Lagi lagi otak Raja pun bekerja. Dia harus melakukan sesuatu agar mata Sania terbuka. Tak butuh waktu lama Raja pun menemukan sebuah ide yang sangat cemerlang. Dengan gerakan begitu cepat, Raja pun memajukan kepalanya.
Cup!
Seketika mata Sania membelalak saat dia merasakan bibirnya ada sesuatu yang menempel. Ingin dia menghindar, namun bagian kepala belakangnya di tahan oleh tangan kekar suaminya.
Meski masih kaku dan belum berpengalaman, naluri Raja sebagai pria tetap mampu melakukannya. Hingga dia melepas bibirnya sejenak, nafas keduanya sudah menderu cepat. Karena kening mereka yang saling menempel, Raja menggunakan kesempatan itu untuk menyerang bibir Sania kembali berkali kali.
@@@@@