
Lagi lagi keluarga Danu dibuat tercengang. Harapan besar menjadi bagian dari keluarga Abah Mudin yang mereka bawa dari rumah seketika runtuh. Ucapan Sania lembut namun terlihat tegas tanpa keraguan. Wajah kecewa juga terlihat sekali dari seorang pria yang sedari tadi menyunggingkan senyum jumawanya saat sang ayah dengan semangat membara memuji dan menyanjungnya.
Di belakang Sania. Pria yang setia berdiri dan bersandar pada pembantas teras berukuran setengah dari tinggi badannya, nampak menyunggingkan senyum. Hatinya begitu lega dan bahagia mendengar gadis pujaannya menolak niat keluarga Pak Danu.
"Kamu yakin, Nak? Putra saya lulusan pesantren terkenal di negara kita loh. Bahkan lebih unggul dari pesantren tempat kamu belajar." Ucap istri Danu dengan entengnya dia membandingkan sesuatu yang semakin membuat Sania sedikit tersinggung.
"Tolong Nak Sania pikirkan dulu baik baik. Lihat putra saya. Begitu tampan dan bersahaja. Berilmu tinggi, Pemahaman agamanya pun begitu bagus. Saya yakin hanya nak Sania, wanita yang pas dan serasi dari segi apapun." bujuk Danu dengan begitu lembut namun sayang di telinga Sania, ucapan Pak Danu terlihat sangat sombong dan berlebihan dalam membanggakan putranya. Meski itu adalah hal baik, namun memuji sesuatu secara berlebihan itu akan menumbuhkan sifat takabur.
"Dan coba lihat pria yang berdiri di belakang nak Sania, Berbeda jauh tingkah lakunya. Putra saya sama sekali tidak pernah mencium bau minuman keras namun dia, nak Sania tahu sendiri. Betapa buruknya perangainya. Padahal dia juragan yang terkenal disini namun sayang kelakuannya tak sebanding dengan putra saya." Sambung Istri Danu. Dengan entengnya membandingkan putranya dengan Raja.
Raja yang terus saja di hina sebenarnya begitu emosi. Semua ucapan istri Danu memang benar adanya tapi tidak seharusnya merendahkan seseorang dengan begitu entengnya. Apalagi Raja dihina di depan wanita pujaannya, sudah pasti harga dirinya merasa di injak injak.
Sania yang mendengarkan penghinaan itu pun merasa heran dan terkejut. Meski dia membenci Raja, tapi tidak pernah sekalipun dia menghina pria itu di depan orang orang seperti ini.
Abah dan Umi juga sangat terkejut dengan ucapan perempuan paruh baya itu. Mereka berkali kali mengucap istighfar dalam hati sebagai bentuk mohon ampun dan agar bersabar tak terpancing emosi.
"Maaf Mas Zikri, apa benar, anda berilmu tinggi dan bagus?" tanya Sania tiba tiba. Umi, Abah dan Raja seketika mengerutkan keningnya menatap tajam Sania.
"Tentu, kenapa? Apa kamu butuh bukti?" tantang Zikri dengan angkuhnya. Sementara kedua mata orangtua Zikri nampak begitu ceria.
"Maaf, tidak perlu, Mas. Saya hanya menyayangkan saja." ucap Sania dengan tatapan prihatin. Dan tentu saja ucapan Sania membuat Zikri dan kedua orang tuanya mengerutkan dahinya sama seperti yang lain.
"Menyayangkan? Menyayangkan bagaimana maksud kamu?" tanya Zikri tak mengerti.
"Mas Zikri lulusan pondok ternama, bahkan tadi orang tua Mas Zikri bilang kalau pesantren tempat Mas Zikri menimba ilmu adalah pesantren terbaik bahkan lebih unggul dari pesantren saya. Tapi kenapa Mas Zikri tidak bisa memberi nasehat kepada orang tua Mas Zikri agar tidak menghina dan merendahkan orang lain di depan umum? Mana ilmu yang Mas Zikri pelajari?" keluarga Danu terkesiap mendengar penuturan lembut namun tajam dari bibir Sania. Sedangkan Abah dan Umi tersenyum menatap anaknya. Raja merasa di atas awan karena mendapat pembelaan dari wanita pujaannya.
Terlihat Danu dan sang istri tertunduk malu, begitu juga dengan Zikri. Ucapan Sania benar benar meruntuhkan kesombongannya.
"Maka dari itu, dengan sangat mohon maaf, saya tidak menerima niat baik Pak Danu itu karena hati saya merasa saya tidak nyaman. Apalagi melihat kejadian yang baru saja terjadi. Maaf yang sebesar besarnya saya menolak niat baik Pak Danu sekeluarga."
"Yess!" hati Raja bersorak gembira.
...@@@@@...
Ada yang minta visualnya, oke deh, ini visual Juragan empang dan dedek Sansan versi othor ya,
Abang Raja
Dedek Sansan