
"Jangan jangan, kalian pacaran? Hayo ngaku?" Tuduh Umi sambil menunjuk ke arah Sania dan Raja secara bergantian. Sania mendelik sedangkan Raja tergelak mendengar tuduhan tersebut.
Umi Sarah memang tidak menyukai anak anaknya pacaran. Namun dia baru kali ini melihat anak bungsunya dekat dengan lawan jenis. Mungkin karena efek lebih lama hidup di pesantren jadi dekat dengan laki laki adalah hal baru bagi Sania. Apalagi sampai terjadi perkelahian karena laki laki, benar benar pengalaman baru bagi anaknya.
"Siapa juga yang pacaran? Ih Umi kalau ngomong," ucap Sania gemas.
"Jadi Raja ditolak nih?" ledek Abah.
"Apaan sih, Bah? Entar ada yang ngambek lagi loh gara gara aku salah ngomong," ucap Sania sedikit menyindir pada pria yang lagi cengengesan.
"Ngambek? Siapa yang ngambek?" tanya Abah sembari melayangkan pandangannya ke arah Raja.
"Nggak ada kok, Bah. Nggak ada yang ngambek," kilah Raja.
"Ih nggak ngaku? Udah jelas jelas seharian kemarin aku di diemin. Pesan chat aja di abaikan sampai detik ini," dumel Sania.
"Siapa yang mengabaikan? Bukannya mengabaikan, tapi lupa karena banyak pesan chat masuk," ucap Raja berkelit. Meski dia memang sengaja mengabaikan tapi pesan chat yang masuk ke nomernya juga lumayan banyak dari para pedagang bandeng dan udang.
"Hillih, orang kemarin chat baru dikirim, eh yang dikirim lagi online dan bikin story tapi pesanku nggak dibaca juga," ucap Sania sedikit ngotot.
Melihat kedua anak muda yang sedang herdebat dihadapannya, Abah dan Umi hanya bisa menggelengkan kepala mereka seraya mengulas senyum.
"Lihat kan, Bah, mereka kayak orang pacaran? Keberadaan kita aja seperti nggak dianggap? Asyik berdebat sendiri," umpat Umi sengaja dengan suara keras buat meledek sang anak.
"Apaan sih, Umi. Dosa loh berpikiran buruk," dumel Sania. Kedua orang tua Sania tergelak, begitu pun Raja. Sania jadi semakin jengkel dibuatnya.
"Udah, nggak perlu cemberut gitu. Harusnya kamu tuh berterimakasih karena Raja datang tepat waktu nolongin kamu. Bukannya malah diajak berdebat," ledek Umi lagi. Sania kembali mendengus namun dia berpikir apa yang diucapkan Umi ada benarnya.
"Eh, Bah. Apa bener Abah nyuruh aku nginep di rumah Om Abdul besok?" tanya Sania mengalihkan pembicaran dan mumpung dia juga lagi ingat hal itu.
"Iya benar, kenapa?" balas Abah.
"Apa nggak ngrepotin?"
"Ih, apaan sih, Bang. Aku kan tanya ke Abah," sungut Sania.
"Abah pikir juga gitu, San. Tapi ya cuma itu jalan yang ada. Kamu sendiri tahu, kakakmu punya kesibukan, kamu juga nggak bakalan mau nginep di rumah kakak kakakmu," jelas Abah.
"Cuma sementara kok, San. kasian Pakde mu, katanya lumayan parah," sambung Umi.
"Baiklah,"
"Ya udah, Umi, Abah. Raja mau pamit aja, udah malam."
"Loh? Kamu pulang jalan kaki?" tanya Umi, soalnya tadi pas Raja datang. Dia melihat Raja berboncengan dengan Sania.
"Minjam motor Sania, Umi," balas Raja cengengesan.
"Oh, lah kenapa kamu nggak bawa motor?" tanya Umi lagi.
Dan Raja pun kembali menceritakan alasannya tidak membawa motor. Umi dan Abah hanya mengangguk tanda mengerti.
"Ya udah, besok pas ngembaliin motor sekalian aja sambil jemput Sania," saran Abah.
"Baik, Bah. Ya udah, aku pamit Bah," ucap Raja sembari beranjak menuju motor. Tak lupa dia juga mengucap salam sebelum pergi meninggalkan rumah Sania.
"Kita juga masuk, Yuh, Bah. Udah malam," ajak Sania begitu Raja menghilang dari pandangan mereka. Umi dan Abah pun setuju. Mereka beranjak masuk ke dalam rumah.
Sementara di tengah jalan. Senyum Raja senantiasa berkemnbang sepanjang jalan. Dia merasa sikap Sania terhadapnya sudah berubah kepadanya. Langkah Raja memberi pelajaran dengan mendiamkan perempuan itu mampu membuat Sania lebih bersikap lembut.
"Sekarang tugas saya adalah meluluhkan hati kamu Dedek Sansan." gumam Raja dengan senyum terkembang sepanjang jalan.
...@@@@@...