Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 92



"Gini Umi, Abah. Kedatangan kami kesini karena kami berniat melamar Sania untuk Raja, Bah." ucap Abdul dengan suara agak terbata. Tentu saja sebelum mengucapkan kata kata itu, Abdul menguatkan hatinya berkali kali lipat. Biar bagaimana pun ragu tetap menghampiri dirinya karena kelakuan sang anak.


Umi dan Abah terdiam dan sikap diamnya cukup membuat Abdul dan Lastri merasa khawatir. Walaupun mereka meyakinkan diri apapun keputusan Abah akan mereka terima, namun tetap hati mereka tidak merasa tenang sebelum mendapat jawaban dari sang tuan rumah.


Sementara itu, Umi dan Abah Mudin juga sebenarnya terkejut dengan permintaan Abdul. Mereka terdiam karena merasa syok dengan keinginan yang terdengar mendadak.


"Maaf, Dul. Sebelumnya saya mau tanya? Apa yang menyebabkan kamu meminta hal seperti itu? Dan kenapa mendadak banget?" tanya Abah.


Abdul pun tersenyum canggung, begitu juga Lastri. Sejenak mereka saling pandang dan kemudian Abdul kembali berkata, "Saya hanya tidak ingin mendengar fitnah, Bah. Bukankah Abah dan Umi tahu akhir akhir ini mereka sedang dekat."


"Iya, Umi. Aku nggak mau aja nanti ada fitnah yang menyudutkan mereka dan membuat silahturahmi menjadi rengggang. Kalau si Raja yang mendapat fitnah sih nggak apa apa. Kita sudah biasa menerimanya. Tapi kalau Sania? Kasian dia," Ujar Lastri ikut menimpali.


Umi dan Abah pun hanya terdiam mendengarkan penjelasan suami istri di hadapannya. Mereka juga mencerna apa yang mereka dengar dari penjelasan kedua orang tersebut.


Abah dan Umi juga menyadari, putrinya akhir akhir ini memang dekat dengan dengan pria yang dijuluki Raja mabuk tersebut. Namun mereka berdua juga memperhatikan kalau Raja memang berubah sejak kedekatannya dengan Sania. Apalagi saat mereka berada di Kebumen, Perubahan Raja jelas terlihat dimata kedua pasang suami istri tersebut.


"Mungkin yang dikatakan Bu lastri dan Pak Abdul benar, Bah. Aku sendiri juga mendengar gosip itu?" ucap Umi tiba tiba hingga membuat orang orang yang ada di saja terkejut mendengarnya.


"Maksdu Umi?" tanya Abah penasaran.


"Tadi pas Umi berada di rumah sebelah, Umi mendengar dari ibu ibu yang ada di dapur kalau Kyai Bahar bicara yang tidak tidak tentang kita." Abah dan yang lainnya pun semakin terkejut mendengar ucapan Umi Sarah.


"Maksud Umi?" tanya Lastri.


Umi Sarah pun menceritakan apa yang dia dengar dari mulut para ibu tadi dan Umi Sarah juga sudah menjelaskan yang sebenarnya. Beruntung Ibu ibu lebih percaya dengan Umi Sarah karena mereka tahu perangai Kyai Bahar itu seperti apa.


"Kenapa Kyai Bahar malah memojokkan keluarga kita? Bukankah anaknya juga menolak niat dia?" tanya Abah sedikit emosi. Jelas sekali kalau dia tidak terima dengan apa yang Bahar lakukan.


"Itulah yang Umi heran, Bah. Kyai Bahar benar benar tidak mau melihat kesalahannya sendiri," balas Umi yang nampak geram juga dengan sikap Kyai Bahar.


"Habis gemas, Bah. Bu Lastri aja kalau mengalami hal seperti ini pasti sama perasaannya kayak Umi, iya kan, Bu?"


Lastri pun tersenyum dan dia juga mengangguk tanda setuju dengan apa yang Umi Sarah katakan.


Di saat bersamaan, mereka berempat mendengar seseorang mengucap salam dan mereka pun menoleh dan menjawab salam orang itu.


"Eh ada Om Adbul, tante Lastri." Sapa Sania begitu dia masuk dan melihat di ruang tamu ada orang yang dia kenal.


"Darimana, San? Kok baru kelihatan?" tanya Lastri.


"Abis ke kounter, Tante, beli kuota. Motor Sania masih di rumah tante kan?" jawab Sania sambil bertanya.


"Iya. Mau diambil?" tanya Lastri lagi.


"Rencananya gitu. Tapi malah tante sama Om ada di sini."


Ya nggak apa apa ambil aja. Di rumah kan ada Raja sama Rumi." kini giliran Abdul yang bersuara.


"Mumpung ada Sania, mending kamu tanyakan saja niat kamu langsung ke anaknya, Dul? Biar kamu tahu jawabannya." ucap Abah tiba tiba. Sania pun tercengang mendengarnya dan dia langsung memperhatikan ke empat orang tua yang ada dihadapannya.


"Niat? Niat apa, Om?" tanya Sania penasaran.


"Gini Sania. Om sama tante kesini ingin melamar Sania untuk Raja? Apa sania mau?"


Deg


...@@@@@@...