Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 107



"Abah abis berdebat sama Kyai Bahar." ucap Abah lirih namun masih bisa di dengar. Gurat kekesalan sangat jelas terlihat dari wajah pria itu.


"Apa? Abah berdebat dengan Kyai Bahar? Dimana?" tanya Sania bertubi tubi dengan wajah terkejutnya. Dengan tangan menopang pada sisi atas etalase, matanya menatap Abah lekat lekat dengan penuh rasa penasaran.


"Tadi di masjid pasar, Abah tak sengaja ketemu disana. Tatapannya begitu sinis sama Abah. Dia yang tidak nyapa duluan eh malah Abah yang dituduh sombong. Makin tua makin aneh itu orang," ucap Abah bersungut sungut.


Sania pun tertawa lirih mendengar ucapan sekaligus reaksi Abah saat ini. "Ya jangan terlalu di urusin sih kalau menurutku. Toh nanti juga Kyai Bahar capek sendiri, Bah."


Abah pun menyunggingkan senyum dan menatap anaknya, "Tapi kalau nggak dinasehatin, gatal mulut Abah, Nak. Apalagi dia duluan yang menyindir nyindir anak Abah. Orang tua mana coba yang terima?"


"Iya sih, Bah. Tapi orangnya juga tetep ngeyel dan nggak merasa bersalah, gimana dong? Apa nggak capek sendiri?" balas Sania sembari melangkah mengitari etalase dan mengambil tempat duduk di sebelah Abah.


"Maka itu, Abah minta sama kamu, jangan terlalu sering ketemu sama Raja dulu kecuali ada sesuatu yang sangat penting."


"Iya, Bah. Sania ngerti kok. Tenang aja,"


Dan mereka berdua pun sama sama tersenyum, bersamaan datangnya Umi yang baru belanja keperluan dapur.


Sementara di tempat lain, Raja terlihat baru saja membuka matanya disiang itu. Raja terbangun saat rasa lapar mulai menyerang perutnya. Dengan malas dia pun bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Setelah itu, Raja bergegas keluar gudang dan mengedarkan pandangannya.


"Makan apa yah?" gumam Raja sembari berpikir. Namun tak lama kemudian dia menemukan ide dan segera dia melangkah menuju ke tempat motornya terparkir.


Rumah makan padang menjadi pilihan Raja untuk makan kali ini. Untuk makan siang, Raja memang jarang sekali makan di rumah. Karena kalau siang, Ibu jarang masak dan masih berada di rumah. Raja segera memarkirkan motornya dan bergegas masuk ke dalam rumah makan padang yang dia tuju.


Setelah memesan satu porsi nasi dan beberapa lauk, Raja langsung duduk dan menyantap hidangannya. Sambil menikmati makanannya, Raja memperhatikan sekeliling rumah makan yang tidak terlalu rame tersebut.


Tak butuh waktu lama, satu piring nasi padang pun telah habis dilahap. Raja segera berdiri dan melangkah menuju kasir kemudian melakukan pembayaran. Setelahnya, Raja memilih pulang. Toh dia tidak ada tempat tujuan setelah makan.


Saat Raja sedang melajukan motornya tiba tiba di jalanan yang sepi ada motor yang menyalipnya, namun naas motor itu motor itu mendadak hilang keseimbangan setelah tak sengaja melewati lubang yang ada dijalan. Motor itu pun oleng dan terjatuh tepat di hadapan Raja.


"Kyai Bahar?" ucap Raja dan beberapa warga yang saat tahu siapa yang habis terjatuh dari motor. Kyai Bahar hanya bisa meringis menahan sakit. Segera warga memberi pertolongan dan mengangkat tubuh kyai Bahar ke salah satu rumah warga.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit," usul salah satu warga.


"Iya, coba cari mobil kali aja ada yang bisa di mintai pertolongan." balas warga yang lain.


Sementara Raja hanya terdiam. Entah kenapa dia ingin segera pergi daripada menolong Kyai tersebut.


"Sepertinya susah cari mobil, siang siang begini. Gimana kalau pakai motor aja, toh cuma kaki dan tangan yang lecet," ucap Warga yang lainnya lagi.


"Maaf, Pak Kyai. Apa Bapak baik baik saja? Sebaiknya kita ke rumah sakit ya?" tanya warga sopan. Kyai Bahar yang sedang meringis kesakitan pun mengangguk lemah.


"Ya udah ayok, Pak. aku bantu berdiri. Kita antar bapak," balas warga yang tadi menawarkan. "Siapkan motornya."


Dahi Kyai Bahar mengernyit saat mendengar melihat orang tersebut memerintahkan warga yang lain menyiapkan motor.


"Pakai motor?" tanya Kyai Bahar.


"Iya, Pak." balas warga.


"Yang benar saja. Orang lagi terluka begini masih harus naik motor. Cari mobil, masa nggak ada?"


Semua warga terhenyak mendengar ucapan Kyai Bahar, begitu juga Raja. Mulutnya ternganga tak terkira.


...@@@@@...