Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 78



Perdebatan kecil pun terjadi diantara Raja dan Sania hanya gara gara potong rambut. Tapi sepertinya perbedatan itu dimenangkan oleh Raja yang mengeluarkan semua bujuk rayu dan alasannya hingga akhirnya sania memilih mengalah dan mau menemani Raja potong rambut.


"Ayo, Ja. Berangkat ke empang, udah kesiangan ini." suara bapak yang tiba tiba menggelegar sontak saja membuat perdebatan Raja dan Sania seketika berhenti.


"Aku nggak berangkat dulu lah, Pak. Badanku lagi kurang sehat ini," balas Raja. Tentu saja alasan Raja terdengar tidak masuk akal. Sedari tadi dia tidak mengeluh tentang kondisi badannya. Namun kali ini dia mendadak bilang tidak enak badan.


"Jangan bohong kamu? Udah ayok berangkat," ucap Abdul setengah memaksa. Dia jelas sangat tahu kalau sang anak hanya pura pura. Semua itu Raja lakukan karena di rumah ini ada Sania.


"Ya ampun, Pak. Siapa yang bohong?" kilah Raja sambil memijit pelan lengannya. Sania yang ada di hadapannya hanya diam tak berkutik sembari memperhatikan tingkah Raja yang sedang berpura pura kesakitan.


"Beneran ini nggak berangkat?" tanya Abdul memastikan.


"Iya, Pak. Setelah ini aja rencananya aku mau tidur lagi" jawab Raja dan pastinya itu jawaban dusta.


Abdul yang mengerti kalau sang anak hanya berpura pura pun akhirnya mengalah. Abdul tahu, anaknya sedang berusaha memenangkan hati putri Abah Mudin. Dan sebagai ayah, dia hanya bisa mendoakan dan mendukungnya selama Raja masih dalam batas wajar saat melaakukan pendekatan. Abdul pun melenggang menuju pintu utama setelah berpamitan.


"Perasaan tadi baik baik saja, Bang? Kenapa tiba tiba jadi nggak enak badan?" tanya Sania begitu Bapak pergi.


"Ya ampun, Dek. Masa iya aku ngeluh nggak enak badan di depan kamu. Entar aku dikira cari perhatian gimana? enggak mau aku." kilah Raja.


"Emang kamu nggak suka jika ada yang perhatian?" tanya Sania lagi dan pertanyaan itu membuat Raja merasa sangat gemas.


"Ya ampun, Dek. siapa yang nggak suka diperhatiin? Udah ah, lama lama Aku gemes sama kamu, aku cubit pipimu mau?" mendengar ancaman Raja, Sania langsung menutupi kedua pipi dengan tangannya. Sontak saja Raja malah tergelak melihat reakasi wanita di hadapannya yang terlihat semakin menggemaskan.


"Ih apaan sih. Katanya nggak enak badan tapi kelihatan sehat sehat aja itu?" cibir Sania. Raja semakin tergelak dibuatnya.


"Ya ampun dedek sayang, Abang gemes."


"Sayang?" ucap Sania sembari melotot.


"Ups! Abang salah ucap, maaf Dedek Sansan," balas Raja sambil cengengesan.


Entah sengaja atau tidak, yang pasti satu kata sayang yang keluar dari mulut Raja membuat hati Sania tiba tiba berdetak lebih cepat. Sania tidak mengerti kenapa bisa begitu, Namun debaran itu cukup membuat Sania merasa gelisah saat itu juga. Debaran itu semakin terasa kencang saat mata Sania menangkap mata Raja yang menatapnya dan juga senyum Raja yang terlihat berbeda membuat Sania merasakan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan.


"Sholat di kamar mungkin," balas Raja. Wajahnya menunjukkan rasa tidak rela kalau kebersamaan dengan Sania pagi ini berakhir.


"Ya udah, aku kembali ke kamar dulu, mau siap siap pulang," ucap Sania sambil berdiri.


"Nanti biar aku yang antar pulang," Sania pun lansung menoleh.Dia hendak bersuara namun Raja segera memotong, "Jangan membantah." Sania pun mendengus kemudian berlalu meninggalkan Raja yang cengengesan.


Saat Sania melewati ruang tengah, Sania melihat ibunya Raja lagi sibuk di dapur. Sania pun berinisiatif menghampirinya dan ingin membantu.


"Masak apa, tante?" tanya Sania begitu sampai di ruang dapur.


Pertanyaan dari Sania nampaknya sedikit mengejutkan Ibunya Raja. Dia bahkan sedikit terlonjak dam langsung menoleh. "Eh Sania. Ini, tante lagi bikin mendoan."


Sania pun membulatkan bibirnya sambil manggut manggut. "Ada yang bisa Sania bantu nggak, tan?"


"Nggak usah, cuma bikin mendoan sama sambal doang kok." tolak ibu.


"Yah. Masa nggak ada, tante?" keluh Sania.


"Biarin saja Sania bantuin, Bu. Masakan Sania enak loh." celetuk Raja yang entah sejak kapan dia sudah duduk dimeja makan.


"Beneran, San?" tanya ibu memastikan dengan wajah berbinar.


"Nggak kok, tan. Paling rasanya kalah sama masakan tante,"


"Wah! Kamu benar benar paket lengkap, San. Udah cocok buat dijadiin istri seseorang tuh,"


"Waduh."


...@@@@@...