
"Ih, dibaca doang?" umpat Sania saat dia melihat pesan teks yang dia kirim bercentang dua dengan warna biru. Hatinya mendadak kesal saat orang yang dikirim pesan berupa permintaan maaf hanya membaca pesannya tanpa ada tanda tanda mau membalas. Hati dan pikirannya terus bertempur dengan kata kata yang hanya bisa di dengar sendiri berupa kesal dan sesal yang melebur menjadi satu.
"Ya ampun! Bang Raja marah banget apa? Kok permintaan maafku nggak di balas sih?" lagi lagi Sania ngedumel pada dirinya sendiri. Saking kesalnya, dia bakan memukul mukul boneka yang mirip anak kecil memakai pakaian koko dan celana panjang, sarung yang dilingkarkan seperti orang ronda serta peci yang melintang ke kanan dan kiri. Sania menganggap boneka itu adalah Raja dan dia memukul berkali kali boneka itu sebagai pelampiasan kekesalan dan penyesalannya.
Sania kembali memeriksa ponselnya berharap ada balasan dari Raja. Namun bukan balasan yang dia dapat, tapi Sania melihat Raja menulis status yang membuat dia semakin kesal juga menyesal.
"Aku sekuat hati bertahan, kamu sebisanya menghancurkan."
Kata kata Raja lewat status chat tentu saja membuat pikiran Sania semakin berkelana kemana mana. Sania langsung membalas status tersebut dengan perasaan campur aduk.
"Maaf, Bang. Serius, aku nggak ada niat buat menghancurkan perasaan Abang. Aku tadi keceplosan. Sumpah!" balas Sania dan dia langsung mengirimnya.
Mata Sania terus menatap layar ponsel berharap pesan yang dia baca langsung centang biru dan di balas.
Setelah menunggu beberapa saat, lagi lagi Sania dibuat kesal. Jangankan di balas, pesan yang baru dia kirim masih centang dua abu abu sedangkan orang yang dikirimin pesan sedang online di ujung sana. Berbagai pemikiran buruk pun akhirnya tumbuh dibenak Sania. Di seberang sana nomer yang di tuju kemungkinan sedang chat dengan yang lain sedangkan pesan dari Sania, dia abaikan.
"Menyebalkan! Apa Bang Raja sengaja mengabaikan pesanku? Atau jangan jangan lagi chat sama pacarnya. Huu!" umpat Sania.
Sementara di kamar yang berbeda dan rumah yang berbeda pula, Raja lagi asyik senyum senyum di atas ranjangnya sembari menatap pesan chat yang sengaja dia biarkan berwarna abu abu.
"Tidur ah! Dedek Sansan, abang bobo dulu yah?" gumamnya sembari terkikik. Di taruhnya ponsel di atas meja sebelah ranjang. Di tarik selimut di bawah kaki menutupi tubuhnya. Dipejamkannya kedua mata dan disunggingkan senyumnya sebelum terlelap serta di ucapkannya doa dalam hati untuk dirinya dan si dia.
###
Hari pun berganti dan kini siang telah menerjang. Setelah melakukan aktifitas pagi seperti biasa, nampak Sania sedang duduk di teras rumah sembari menatap layar ponselnya. Sisa kekesalan dari semalam masih terasa hingga detik ini. Dia merasa pesan yang dia kirim benar benar diabaikan oleh Raja dan dia berpikir, Raja sangat marah kepadanya.
"Suntuk amat, Neng? Itu muka kenapa ditekuk gitu?" ledek seseorang hingga Sania sedikit tersentak dan dia langsung menoleh kesumber suara. Di ujung teras kedua sahabat Sania sedang ketawa ketiwi melangkah ke arahnya.
Kalian ini, datang datang bukannya memberi salam, malah main ngledek aja," cibir Sania dan tentu saja kedua temannya hampir tepuk jidat bersamaan sambil tertawa.
"Ah iya, lupa. Maaf ustadzah. Assalamu'alaukum," balas Mita kemudian di susul oleh Lita. Sania mencebikkan bibirnya namun ujung ujungnya dia menjawab salam juga.
"Tumben kamu ngajak kita maen, San? Emang kamu nggak ke toko?" tanya Mita.
"Lagi males. Lagian aku tahu kalian libur makanya aku nyuruh kalian main. Kalau kalian lagi pada kerja, mana berani aku," balas Sania.
"Nggak tahu, kayak nggak ada semangat aja,"
"Dih kok bisa?" Sania hanya nyengir sebagai tanda jawaban dari pertanyaan yang Mita lontarkan.
"Eh kamu jadi buka toko hijab nggak sih?" gantian Lita yang bersuara.
"Tahu, aku bingung," balas Sania lemah. Wajahnya kembali kusut. Tentu saja, jika mengingat toko hijab, pikiran Sania kembali pada kejadian semalam saat Raja tiba tiba marah.
"Bingung kenapa? Modalnya masih kurang?" tanya Mita.
"Iya, modalnya kurang banyak," balas Sania lesu.
"Ya coba minta modal sama Abah dong, San. Atau pinjam sama kakak kakakmu. Kali aja mereka mau bantu." Saran Lita.
"Iya, San. Entar kalau usaha kamu udah berjalan dan sudah ada keuntungan, kamu bisa mengembalikan modal yang kamu pinjam." sambung Mita.
"Sebenernya, ada yang nawarin modal sih, tapi aku bingung." ucap Sania.
"Loh! Itu malah bagus, kenapa bingung?" tanya Mita.
"Ya bingung aja,"
"Loh? Aneh kamu, San. Ada peluang malah bingung," ujar Mita.
"Iya, emang siapa sih yang nawarin modal? tinggal nerima juga," tukas Lita.
"Raja, juragan empang,"
Hah!"
...@@@@@...