Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 91



"Assalamu'alaikum,"


Suara salam terdengar mengalun lembut hingga orang orang yang berada di dapur menolah hampir serentak.


"Wa'alaikum salam, Eh Umi Sarah." balas para ibu ibu yang saat ini sedang sibuk meracik dan mengolah bahan makanan.


"Ya ampun, Umi. Kenapa nggak duduk di depan saja?" tanya salah satu ibu saat melihat Umi duduk di sebelahnya.


"Udah tadi. Aku pengin di sini saja yang banyak temannya," balas Umi. "Minta pisau sini."


Ya. Umi saat ini berada di rumah tetangga yang lagi hajatan. Setelah tadi siang merasa cukup beristirahat, kini dia sengaja menyambangi tetangganya buat kondangan dan sedikit bantu bantu tenaga.


Para ibu ibu tukang masak yang sebagian besar tetangga Umi juga merasa tidak keberatan saat Umi dengan sengaja ingin membantu meski ada perasaan tidak enak.


"Urusan ke Kebumennya sudah selesai, Umi?" tanya salah satu warga yang kebetulan tahu Umi dan Abah Mudin pergi menjenguk saudaranya beberapa waktu lalu.


"Alhamdulillah sudah," balas Umi sambil memotong buncis.


"Loh? Berarti Umi baru pulang?" tanya ibu yang lain.


"Iya." balas Ibu sembari melempar senyum.


"Apa nggak capek, Umi? Mending istirahat loh, Mi?" ucap yang lain lagi merasa tak enak.


Umi pun hanya tersenyum kemudian dia berkata, "Nggak apa apa. Saya udah istirahat dari tadi, Bu."


Ibu ibu yang ada disana pun hanya saling melempar senyum dan kembali melanjutkan pekerjaan masing masing. Begitulah Umi Sarah. Meski dia begitu dihormati oleh para tetangganya tapi rasa hormat yang dia dapat tidak membuatnya merasa menjadi manusia yang istimewa. Di tetap menjadi wanita yang ramah pada umumnya dan suka berbaur dengan para tetangga jika ada acara.


"Umi, maaf ya, saya mau tanya? Apa benar beberapa waktu lalu, Pak Danu dan Kyai Bahar melamar anak Umi?" tanya salah satu ibu yang sedang memotong sayuran lainnya.


"Iya, bener, kenapa, Bu?" balas Umi sedikit terkejut.


"Owalah, pantes, omongan mereka nggak enak di dengar," ucap ibu itu lagi hingga Umi pun menoleh.


"Ya gitu, Umi. Katanya keluarga Umi terlalu angkuh hingga dengan terang terangan menolak mereka. Apa lagi Kyai Bahar, Umi. Masa ngomong ke suami saya, kalau Sania lebih menyukai laki laki yang nggak bener daripada anaknya yang sudah pandai berdakwah," terang ibu itu lagi.


"Ah iya, suami aku juga denger tuh. Apa bener, Umi? Sania pacaran sama juragan empang?"


Umi Sarah yang mendengarnya pun hanya mengulas senyum. Dia sudah merasa hal ini pasti akan terjadi. Dia dan Abah tahu betul watak Kyai Bahar bagaimana.


"Ada ada aja." ucap Umi dan dia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dari penolakan yang Sania lakukan ke keluarga Danu hingga Penolakan Sania dan Ramzi.Umi juga menjelaskan hubungan Sania dengan Raja bagiamana. Ibu ibu yang ada di sana tentu saja nampak terkejut mendengar apa yang dkatakan Umi Sarah.


"Astaga! Kok bisa kayak gitu ya, Mi? Di tolak bukannya nyadar diri malah menjelek jelekkan?" ucap salah satu ibu itu merasa gemas setelah mendengar cerita dari Umi.


"Nggak kaget aku sih, perangai Kyai Bahar emang sukanya ingin menang sendiri." timpal Ibu yang lain.


"Semoga Sania mendapat jodoh yang terbaik ya, Umi. Entah itu Raja atau siapa, namanya jodoh kan nggak tahu." timpal yang lainnya lagi dan beberapa ibu yang ada disana serentak mengucap Aamiin.


Saat mereka lagi asyik ngobrol sambil bekerja, salah satu keluarga dari tuan rumah memanggil Umi. Katanya disuruh pulang dulu oleh Abah. Umi pun mengiyakan dan dia pamit kepada ibu ibu yang ada di sana terus segera beranjak pergi menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Umi sarah kaget, karena di rumahnya ada tamu yaitu Abdul dan sang istri. Setelah mengucap salam, Umi pun langsung duduk di sebelah Abah.


"Udah dari tadi apa, Bu Lastri?" tanya Umi.


"Enggak kok Umi, belum lama ini. Habis kondangan di rumah sebelah." balas Lastri. Umi pun manggut manggut.


"Abdul sama Lastri sengaja mampir, katanya ada perlu sama kita," ucap Abah.


"Ada perlu? Ada perlu apa, Bu?" tanya Umi dengan dahi berkerut.


"Gini Umi, Abah. Kedatangan kami kesini sebenarnya adalah kami berniat melamar Sania untuk Raja, Bah."


"Apa!"


...@@@@@...