Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 105



"Aduh ini cincin dimana? Kok nggak ada?" gumamnya panik. Berkali kali merogoh saku yang ada di pakaiannya namun tetap dia tidak menemukan cincin tersebut. Tentu saja tingkah Raja yang nampak kebingungan membuat semua mata yang melihatnya merasa heran.


"Kenapa, Ja? Kok kelihatan bingung gitu?" tanya Abdul.


Raja pun mendongak dan memandang ke asal suara sambil cengengesan, "Cincinnya nggak ada, kayaknya ketinggalan, Pak."


Semua yang mendengarnya pun tercengang sesaat kemudian tawa mereka pecah. Begitu juga dengan Sania. Jelas sekali di hadapan Raja kalau Sania saat ini sedang menahan tawanya agar tak meledak.


Raja benar benar dibuat malu dengan tingkahnya sendiri. Bisa bisanya dia melupakan bagian terpenting dalam acara lamaran tersebut.


"Emang kamu naruh cincinnya dimana tadi?" tanya Omnya Raja.


Mata Raja pun menerawang. Dia mencoba mengingatnya beberapa saat, "Dilaci kamar," ucap Raja antara yakin dan ragu.


"Coba diingat dengan benar? Kali aja kamu lupa naruh?" tanya Om nnya lagi.


Raja kembali mengingat dan kali ini dia yakin cincin dalam kotak berwarna merah itu berada di laci meja kamarnya. "Bener kok Om, di laci."


Tawa mereka kembali pecah. Sikap Raja benar benar menggemaskan.


"Bisa bisanya cincin dilupakan?"


"Mentang mentang udah ngebet kawin?"


"Duh Sania, tolong jitakin kepala Raja, biar nggak eror?"


Beberapa sahutan dari keluarga Raja membuat ramai dan menambah kehangatan dalam kekeluagaan.


"Terus kalau nggak ada tuker cincin, bakalan pake apa ini?" tanya salah satu keluarga Raja. Sementara pria yang sedang menjadi pusat perhatian hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah, kalau nggak ada cincin nggak apa apa, yang penting tujuan utamanya udah jelas," balas Abah menengahi. Meski dia juga merasa heran, namun Abah tidak terlalu ambil pusing dengan masalah seperti itu. Dan semua yang ada disana pun nampak setuju dengan saran Abah.


Kini acara berikutnya adalah menyantap hidangan yang sudah disediakan. Disaat yang lain sedang menikmati hidangannya, Raja memilih tetap duduk di tempatnya sedari tadi. Merenungi kebodohannya sendiri.


"Bang Raja nggak makan?" tanya Sania yang juga duduk tak jauh dari keberadaan Raja.


"Entar lah, Dek. Masih antri tuh," balas Raja menunjuk arah dimana hidangan disajikan.


"Entar nggak kebagian lauk loh, Bang?" ledek Sania.


Raja pun menyeringai dan berkata, " Ya tinggal nyuruh kamu masak lagi dek, gampang."


"Tapi masaknya sama kamu, gimana?" tanya Raja sambil cengengesan.


"Mana bisa? Nggak boleh! Nunggu halal!" balas Sania penuh penekanan hingga Raja pun tergelak saking gemasnya sikap Sania barusan.


"Ya udah, ayok aku halalin dedek sekarang?" goda Raja.


"Dihh," balas Sania sembari beranjak meninggalkan Raja yang sedang cengengesan. Pria itu pun ikut berdiri mengikuti Sania menuju meja makan.


Tak lama kemudian, acara lamaran pun usai. Kini keluarga Raja memilih pulang ke rumah masing masing karena jaraknya tidak terlalu jauh. Begitu juga keluarga Sania. Malam semakin larut mengantar jiwa jiwa lelah untuk melelapkan matanya menyambut esok hari.


Dan pagi pun menjelang, Raja nampak semangat menjalani harinya di d pagi ini. Seperti biasanya, Raja saat ini berada di gudang empangnya memilah hasil panen bandeng dengan anak buahnya.


"Wahh! sepertinya ada yang lagi bahagia banget nih hari ini?" ledek anak buah.


"Iya lah. sudah pasti bahagia. Orang tujuannya berhasil," timpal yang lain.


"Ngomong ngomong kapan resminya, Juragan?" sahut yang lain lagi.


"Doain saja biar lancar sampai ke arah sana," balas Raja.


"Siap!" jawab semuanya serentak.


"Ja!" teriak Abdul. Raja pun menoleh, dia melihat bapaknya memberi isyarat ahar dia mendekat. Raja pun mengerti dan beranjak mendakati Bapaknya setelah mencuci tangan.


"Apa benar? Kamu sudah dengar cerita tentang Kyai Bahar?" tanya Abdul begitu anaknya mendekat.


"Iya, Bah. Udah. Kenapa?" sahut Raja sembari duduk di hadapan Abdul.


"Kamu jangan terpancing, biarkan saja dia ngomong apa, jangan sampe kamu membuat masalah." saran Abdul dengan wajah yang sangat terlihat serius.


"Emang kenapa, Bah? Dia udah keterlaluan loh, fitnah Abah Mudin seenaknya ke jama'ah," sungut Raja.


"Maka itu, kamu lebih baik menjaga nama baik keluarga Mudin. Sampai hari pernikahan nanti, kamu jangan terlalu dekat dengan Sania dulu."


"Apa!"


...@@@@@...