Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 101



Raja pulang dengan hati riang gembira. Hatinya meletup letup penuh rasa yang menenangkan jiwa. Suara falsnya membahana di segala penjuru ruang yang dia lewati hingga semua orang yang ada di rumah mendasak heran dengan kebisingan yang Raja ciptakan.


"Kamu kenapa, Ja? Kesambet?" tanya seseorang hingga Raja menghentikan langkahnya dan menoleh.


Raja tersenyum dan beralih arah. "Oh Ibuku tersayang, Ibuku tercinta. Aku sayang padamu tanpa batas waktu." Ujar Raja sembari berbaring dan menaruh kepalanya di pangkuan sang ibu.


"Bang Raja kenapa? Eh udah potong rambut? Wah! Jangan jangan Bang Raja gila karena ramburnya dipotong?" cibir Rumi penuh dengan rasa heran. Begitu juga sang ibu.


"Kamu lagi nggak gila karena kehilangan rambut panjangmu kan, Ja?" tanya Lastri.


"Enggak dong, Bu. Justru karena potong rambutlah, aku jadi mendapat sesuatu yang sangat membahagiakan banget." ucap Raja lantang dengan wajah berbinar.


Ibu dan Rumi makin dibuat penasaran. "Emang apa yang terjadi saat kamu potong rambut tadi?" tanya Ibu lagi.


Raja pun kembali tersenyum. "Karena Sania lah, Bu. Siapa lagi kalau bukan dia. Ibu dan Rumi hanya ber oh ria sambil manggut manggut.


"Oh doang? Kalian nganggapinnya cuma dengan kata Oh doang? Nggak ada bahagia bahaginya gitu?" protes Raja sembari bangkit dan duduk.


"Lah emang kita harus ngapain? Melompat lompat sambil cengar cengir gitu?" ucap Rumi.


"Ya seenggaknya tunjukkan rasa bahagianya juga dong? Masa ada keluarga yang sedang berbahagia, kalian cuma jawab Oh doang?" gerutu Raja hingga membuat Ibu dan Rumi merasa sebal.


"Lah semalam kita udah berbahagia dengan adanya Sania mau menerima Abang." ucap Rumi membela diri.


"Udah, udah, gitu aja diributin sih?" Ucap Ibu mencoba menghentikan perdebatan yang terjadi.


"Ya lagian Ibu, melamar Sania, kenapa nggak ngajak Raja sih? Kalau Raja tahu dari semalam kan kita bisa melamar Sania malam ini?" protes Raja lagi.


Ibu hanya menghela nafas dan menghembuskannya. Kemudian Ibu menjelaskan kenapa kemarin Raja tidak di ajak. Dan setelah tahu alasannya, Raja pun mengulas senyum.


"Terus acara lamaran resminya kapan, Bu?" tanya Rumi.


"Aku sih bilang ke Sania seminggu lagi aku akan melamarnya secara resmi tapi Sania belum mengiyakan karena perlu ngomong dulu sama Abah dan Umi." terang Raja.


Sementara di saat yang sama, terlihat Sania sedang mengangkat jemuran yang kering di belakang rumah dan setelahnya dia juga akan bersiap siap untuk mandi. Sementara Umi sedang duduk di ruang tengah fokus menonton sinetron.


"San, apa Bapaknya Raja sudah ngasih kabar?" Tanya Umi ketika dia melihat sang anak lewat membawa pakaian kering.


"Kabar apa Umi?" tanya Sania sambil menaruh pakaian kering di atas kursi sebelah Umi bersama dirinya. Terus pakaian itu dia lipat satu persatu.


"Kabar tentang Raja? Apa dia udah tahu tentang lamaran untuk kamu?" tanya Umi lagi.


"Oh. Udah, Mi. Malah Raja katanya pengin acara lamaran resminya dilakukan minggu depan." terang Raja.


"Oh gitu. Ya udah, nanti tanya Abah gimana baiknya." balas Umi dan Sania manggut manggut.


"Mi emang ada gosip apa sih, Mi tentang Kyai Bahar? Tadi Raja sempat mau marah loh!" tanya Sania dan hal itu membuat kening Umi Sarah berkerut.


"Raja mau marah? Kok bisa?" tanya Umi heran. Dan Sania pun menceritakan kejadian saat potong rambut tadi.


"Apa Raja tahu tentang Kyai Bahar yang menjelekkan Abah karena kamu nolak Ramzi?"


"Mungkin tahu, Mi. Buktinya Raja langsung nyindir Ramzi tadi.


"Hmm, semoga Raja nggak terpancing emosi. Bisa gawat. Entar makin buruk masalahnya."


"Entar aku nasehatin dia deh coba. Kalau sampai terbawa emosi ya awas aja. Aku coret dari daftar calon suami," ucap Sania sambil tersenyum lebar.


"Hust! Jangan kayak gitu,"


"Becanda kali, Mi."


Dan mereka pun kembali melanjutkan kegiataan masing masing sembari berlanjut ngobrol ke lain topik.


...@@@@@@...