
"Umi!" pekik Sania sembari menatap tajam sang Umi.
"Loh, kenapa? Emang benar kita habis ngomongin Raja kan?" Jawaban Umi semakin membuat Sania salah tingkah. Diapun tak berani menghadap ke arah tiga orang. Sania lebih memilih pura pura fokus ke arah kompor untuk menutupi rasa malu.
Sedangkan Raja. Dia senyum senyum tidak jelas. Hatinya meletup letup gemas melihat tingkah lain dari anak Abah Mudin. Sikap galak yang biasa Sania suguhkan, kini seperti lenyap berganti sikap malu malu.
"Eh kamu belum jawab pertanyaan Umi, Ja. Ada apa kamu pagi pagi udah kesini? Ada perlu dengan Sania?" Tanya Umi setelah Raja duduk di kursi yang berbeda tapi di hadapan meja yang sama dengan Umi.
"Mau menjemput Sania, Mi. Katanya suruh di jemput," balas Raja.
"Astaga! Kepagian Raja. Harusnya nanti sore. Orang Umi dan Abah berangkatnya nanti siang," mendengar jawaban Umi, Raja pura pura terkejut. Dia bahkan sampai menepuk keningnya untuk menyempurnakan akting biar kuat.
"Ya ampun, Mi! Berarti aku salah waktu ini?" cicit Raja.
"Ya udah nggak apa apa, udah sarapan belum?" ucap Umi memaklumi. Bahkan yang kata yang di tungggu pun kini tiba. mendapat tawaran sarapan.
"Belum Mi," jawab Raja. Padahal tadi dia di gudang sudah makan lontong sayur yang di beli di warung tak jauh dari gudang. Tapi karena dia makan lontong sayurnya jam enam kurang, kalau itu bukan sarapan. Lagian dia kerumah Abah juga ingin numpang sarapan lagi.
"Ya udah sarapan disini aja. Nunggu bentar, tuh anak gadis Umi lagi bikin tumis selada, bentar lagi selesai mungkin," ucap Umi.
Sania yang sedari tadi mendengar obrolan Umi dan Raja tidak menyahut sekalipun. Dirinya masih merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi. Di tambah rasa malu itu terjadi lantaran chat yang mereka lakukan semalam. Seumur umur Sania baru melakukan chat dengan laki laki seserius semalam.
Abah yang dari tadi masuk ke dalam kamar setelah membawa Raja masuk, kini terlihat dia keluar dari kamarnya entah habis ngapain dan ikut duduk bergabung dengan yang lain. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka ke hal lainnya. Hingga tak terasa masakan Sania pun telah selesai.
Setelah semua hidangan siap di atas meja, kini ke empat orang yang ada di sana mulai menyantap hidangan tersebut. Sambil menikmati hidangannya, Sania sesekali mencuri pandang ke arah dimana Raja berada. Raja yang tahu betul sedang diperhatikan Sania pura pura cuek meski hatinya berbunga bunga. Raja melakukan hal itu agar Sania tidak malu dan biar tidak merasa canggung.
"Nambah lagi, Ja, nasinya," tawar Abah.
"Iya, daripada mubazir nggak ada yang makan soalnya nanti siang kita mau pergi," sambung Umi.
"Iya, Umi, Bah. Ini aja yang di piring masih banyak tuh," balas Raja.
Tak lama kemudian, nampak semuanya telah selesai sarapan.
"Alhamdulillah kenyang," ucap Raja merasa puas setelah menyantap hidangan sederhana yang ada.
"Disuruh nambah nggak mau," ujar Umi.
"Ya ampun Umi, ini aja udah kenyang banget," balas Raja.
"Ya udah yok, Ja. Kita duduk di luar," Ajak Abah dan Raja pun menyetujuinya.
Setelah pamit pada Umi dan Sania, Raja bergegas menyusul Abah Mudin yang sudah keluar duluan.
"Kamu sih sekarang usianya berapa, Ja?" Tanya Abah membuka obrolan biar suasana sedikit cair.
"Nggak jauh dengan usia Amar, Bah," balas Raja. Abah manggut manggut, Raja memang seusia anak keduanya. Mereka bahkan sekolah bareng.
"Udah siap nikah dong? Udah ada calon belum?" Tanya Abah lagi dan Raja malah cengengesan mendapat pertanyaan seperti itu.
"Belum lah, Bah. Belum ada yang cocok, susah nyarinya," kilah Raja. Tentu saja dia tidak berani mengakui kalau Raja sedang mengincar anak Abah.
"Loh? perempuan kan banyak? Kamu tinggal pilih, kamu kan juragan, pasti banyak yang mau?" ucap Abah.
"Yang mau banyak tapi kan akunya yang nggak mau, Bah," balas Raja.
"Terus kamu maunya perempuan yang kayak apa? Kayak Sania?"
"Waduh."
...@@@@@...