
"Emang siapa wanita yang mau kamu seriusin, Ja?"
Pertanyaan Abah seketika membuat Raja mati kutu. Dia mendadak dilema. Ingin rasanya dia menjawab kalau perempuan itu adalah anak Abah, namun entah kenapa Raja tidak punya keberanian berterus terang.
Sementara di sisi lain, meskipun sedari tadi banyak diam, Sania juga penasaran dengan jawaban Raja. Setelah beberapa kali dia mendengar ucapan kalau raja menyukainya. Di tambah dengan pembicaraan chatnya semalam dengan Raja, membuat rasa penasaran perempuan itu semakin membuncah.
"Ada lah, Bah." balas Raja sambil cengengesan. Namun arah pandangnya sesekali melirik ke Sania. Tentu saja Raja terpaksa menjawab seperti itu. Dia tidak mungkin jujur untuk saat ini. Dia takut di tolak dengan telak seperti Anaknya Danu dan Ramzi.
"Anak mana emangnya? Anak sini aja apa anak jauh?" selidik Abah. Sebenarnya Abah tidak penasaran sama sekali dan Abah tahu siapa wanita yang Raja maksud. Entah apa tujuan Abah melempar pertanyan tersebut, hanya Abah yang tahu.
"Ya masih anak sini aja sih, Bah. Cuma aku belum siap ngomong karena aku belum memperbaiki diri seperti saran Abah. Wanita yang aku incar kan wanita baik baik,"
Deg
Tiba tiba detak jantung Sania mendadak berdetak lebih cepat. Dia merasa kalau wanita yang Raja maksud adalah dirinya. Dia pun berkali kali melirik ke arah pria tersebut dan dia menjadi salah tingkah saat tak sengaja mata mereka bertemu. Sungguh Sania merasakan sesuatu yang aneh. Sejak peristiwa diamnya Raja, rasa benci yang mendalam pada hati Sania seperti hilang tanpa bekas setelah dia juga melakukan kesalahan kepada Raja dan menyadari sikapnya selama ini.
"Entar kalau kamu kelamaan ngomong dan wanita itu ada yang melamarnya gimana?" Pertanyaan Abah malah membuat Raja semakin dilema. Tentu saja Raja menjadi galau karena dia dua kali menyaksikan sendiri wanita idamannya dilamar laki laki lain. Dan pastinya Raja takut kalau itu terjadi lagi. Apa lagi wanita incarannya, tidak suka pacaran. Makin khawatirlah Raja dibuatnya.
"Aku harap sih jangan sampai lah, Bah,"
"Hari esok kan nggak ada yang tahu, Ja."
"Lah, terus aku harus gimana dong?" Tanya Raja frustasi. Pertanyaan Abah membuat dirinya kalut.
"Jangan di ledek kayak gitu sih, Bah. kasian tuh Rajanya fruatasi," Kini giliran Umi yang bersuara. Abah Mudin terkekeh. Akhirnnya dia berhenti meledek Raja. Dan Raja juga ikut cengengesan merasa malu dengan sikap frustasinya yang terbaca oleh Umi.
"Abah sama Umi nggak ke toko?" tanya Raja begitu suara tawanya berangsur menghilang.
"Enggak. Paling nanti Sania agak siangan setelah kita berangkat," balas Umi.
"Lah, berarti motornya mau kamu pake, Dek? Ya nih kuncinya," ujar Raja sembari merogoh satu celana pendeknya mengambil kunci motor.
"Pake ojeg, Bah."
"Mending motor tetep kamu pake, nanti kamu antar Sania ke pasar. Trus pulangnya kamu jemput lagi biar nanti Sania siap siap buat nginap di rumah kamu," Saran Umi.
"Jangan sih, Umi. Kasian Bang Rajanya. Dia juga punya kesibukan sendiri," Sania yang menjawab. Alasan yang masuk akal. Namun dia juga sebenarnya hanya ingin menutupi rasa malu. Sania malu dengan keadaan yang tiba tiba berubah secepat ini.
"Nggak kok, Dek. Aku kalau siang nggak terlalu sibuk," balas Raja. Bukan sekedar alasan. Memang kalau menjelang siang pekerjaan Raja sudah santai. Bahkan sangat santai. Raja sangat sibuk setelah waktu subuh saja dimana saat itu adalah saatnya panen bandeng ataupun udang. Kalau menjelang siang paling tugasnya anak buah mengawasi tambak.
"Terserah kalian saja enaknya gimana, Abah mau siap siap. Ayuk Mi," ajak Abah sembari bangkit masuk rumah.
"Jangan lupa nanti jam sepuluh ke toko, San?" ucap Umi mengingatkan kemudian dia ikut bangkit mengikuti suaminya.
"iya, Mi," balas Sania.
Setelah kedua orang tua itu masuk, mendadak suasana di teras menjadi hening. Kecanggungan tiba tiba menyelimuti keduanya.
"Umi sama Abah berangkat naik apa, Dek?" Satu pertanyaan meluncur dari mulut Raja setelah beberapa menit mereka terjebak dalam keheningan.
"Naik mobil, pake travel nanti," balas Sania sekilas menatap Raja kemudian kembali membuang pandangannya ke arah lain.
"Jam berapa nanti travelnya datang?" tanya Raja lagi.
"Jadwalnya sih jam sembilan. Makanya mereka tidak sempat ke pasar,"
Raja manggut manggut. Dan lagi lagi mereka saling terdiam.
"Kenapa jadi bingung gini?" gumam keduanya hampir bersamaan.
...@@@@@...