Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 80



"Mending aku yang antar kamu ke kebumen, Dek. Biar cepet sampai sana, nggak perlu nunggu travel."


Sontak ketiga perempuan yang ada di meja makan tercengang mendengar usulan Raja.


"Nggak usah, Bang. Katanya kamu lagi nggak enak badan." tolak Sania.


"Enggak, udah mendingan kok ini," balas Raja sambil menggerak gerakan bahunya menunjukan kalau dia baik baik saja.


"Nggak usah. Biar nanti nyari travel aja," ucap Sania kekeh.


"Dek, apa kalau naik travel bisa langsung berangkat? Belum lagi nanti nungguin penumpang lain yang satu arah. Bukankah nanti waktunya jadi makin lama? Udah deh mending aku antar. Kamu tinggal mandi disini, bawa baju ganti kan?" ucap Raja setengah memaksa.


"Bener kata Raja. Mending dia yang ngantar biar cepet sampai, Nak," ucap Lastri memberi saran.


"Tapi kan bang Raja ada kerjaan, Tan?"


"Udah, nggak usah mikirin hal itu. Orang udah ada bapak dan yang lain ini. Udah sanah siap siap. Aku mau panasin mobil dulu," titah Raja sambil beranjak mengambil kunci mobil di kamarnya. Sania pun mau tak mau harus menurutinya. Apalagi Lastri dan Rumi mendukungnya, akhirnya Sania pun pasrah.


Selang beberapa saat kemudian, Raja dan Sania pun telah siap berangkat.


"Kamu bawa baju ganti nggak, Ja? Kali aja nanti kemalaman?" tanya Ibu.


Raja pun seketika menepuk keningnya. "Ah iya, entar aku ambil pakaian buat ganti."


Tak lama kemudian Raja pun datang menenteng ransel berisi beberapa potong pakaian. Setelah semuanya siap. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam mobil.


"Raja berangkat dulu, Bu. Jangan lupa nanti bilang sama bapak,"


"Iya hat hati. Salam buat Abah dan Umi ya, San?"


"Iya tante, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam."


Dan mobil pun melaju meninggalkan rumah Raja. Tempat pertama yang di tuju adalah rumah Sania karena dia butuh beberapa baju buat dipakai nanti di sana.


Begitu sampai rumah, Sania pun bergegas turun dan beranjak masuk ke dalam rumah. Sedangkan Raja memilih tetap berada di dalam mobil sembari memainkan ponselnya. Tak butuh waktu lama, terlihat Sania keluar rumah dengan menenteng koper kecil.


"Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Raja begitu Sania duduk di sebelahnya.


"Nggak ada," jawab Sania singkat.


"Udah semua."


Raja pun manggut manggut. Segera saja mesin mobil Raja nyalakan dan setelah itu mobil pun melaju meninggalkan rumah Sania menuju rumah Amar.


Menempuh waktu perjalanan lima belas menit, mobil pun kini sampai di halaman rumah Amar. Terlihat disana keluarga Kakak perempuan Sania pun telah datang. Sesuai rencana, keluarga Airin memang disuruh nunggu di rumah Amar. Selain karena jarak rumah Airin lebih dekat dari rumah Amar, hal itu juga untuk mempersingkat waktu agar mobil Raja tidak putar arah terlebih dahulu ke rumah Airin.


Mereka semua pun bergegas naik. Para istri ada di barisan kursi belakang dan para suami duduk di kursi tengah. Setelah semuanya siap. Mobil pun melaju kembali meninggalkan rumah Amar.


"Wah! Makasih ya, Ja. Jadi ngrepotin," ucap Amar yang duduk di kursi tepat di belakang Raja.


"Nggak gratis ini, harus bayar," ucap Raja becanda.


"Ya elah kirain gratis, minta bayaran berapa emang?" tantang Amar.


"Hilih gayamu, Mar. Berani berapa coba?" tantang Raja.


"Aku nggak bisa bayar pake uang dong, Ja." ujar Amar sambil cengengesan.


"Lah terus? Tadi nantangin?" cibir Raja merasa menang.


"Aku bayar pake restu jika kamu nikah dengan adikku, bagaimana?"


Seketika Raja langsung batuk batuk dan Sania memicing ke arah Amar dengan wajah yang bersemu. Sedangkan yang lain hanya ikut senyum senyum.


"Abang ih, kalau ngomong." sungut Sania. Sedangkan Amar hanya tersenyum lebar. Biar bagaimana pun Amar pun tahu kalau Raja sedang mengincar adiknya.


Tiga jam kemudian, mobil yang dikemudikan Raja pun telah memasuki kawasan kebumen. Kini mobil itu tinggal melaju menuju kawasan kampung dimana rumah Pakde berada.


Tak butuh waktu lama, Sania dan yang lain akhirnya sampai di rumah duka. Sesampainya disana ternyata pemakaman telah selesai dilaksanakan. Terlihat Abah sedang bercengkrama dengan saudara saudaranya serta tetangga.


Begitu turun dari mobil, Sania dan yang lain bergegas turun dan masuk ke dalam. Tak lupa mereka pun mengucapkan salam.


Keluarga Sania merasa heran dengan hadirnya seorang pria diantara anak anak Abah Mudin, hingga salah satu dari mereka pun bertanya, "Ini siapa, Din? apakah calon suami Sania?"


Deg


...@@@@@...