
Perdebatan sepasang pengantin baru itupun nampaknya masih berlanjut. Setelah salah paham dengan kata bermesraan, kini perdebatan berganti topik. Mandi menjadi perdebatan berikutnya.
Sania masih merasa canggung ada pria di dalam kamarnya. Namun Raja sama sekali enggan beranjak saat Sania mengusulkan dia keluar kamar dulu selama Sania mandi.
"Apa kata orang rumah nanti, Dedek? Kamu mau diceramahi Abah membiarkan suami menunggu di luar saat sang istri mandi? Yang ada bukan Abang yang dimarahi, tapi Dedek yang kena tegur? Mau?" dalih Raja. Meski ucapan Raja ada benarnya, namun sebenarnya Raja hanya mengatakan hal itu untuk menakut nakuti Sania Saja. Karena Raja tahu, Sania paling takut jika Abah sudah menegurnya berarti memang dia salah. Tentu saja selain alasan itu Raja juga punya niat terselubung juga.
Sania terdiam sambil mencerna ucapan Raja yang memang ada benarnya. Raut wajahnya kembali menunjukkan rasa bingungnya. Sungguh dia masih sangat malu.
"Ya udah, mau mandi sekarang atau mandi bareng, keburu subuh datang itu." ancam Raja. Dan ancaman itu sukses membuat Sania terkesiap dan segera bangkit kemudian turun dari ranjang menuju kamar mandi. Tak lupa, tangan Sania juga menyambar handuk yang letaknya dekat dengan kamar mandi. Raja hanya terkekeh melihat tingkah sang istri.
Beberapa menit kemudian, Sania terlihat sudah selesai mandi. Perlahan di melongok dan memperhatikan ke arah ranjang. Disana Raja terlihat terdiam. Sania pun berpikira kalau Raja mungkin tertidur lagi. Dengan langkah perlahan Sania mengendap ngendap menuju lemari pakaian yang ada di seberang ranjang.
Dengan kewaspadaan penuh Sania terus memantau Raja sembari perlahan mendekati lemari. Raja sebenarnya hanya pura pura tertidur melihat adegan itu semuanya. Ingin rasanya dia terbahak mendengar tingkah konyol Sania yang seperti seorang pencuri, namun sekuat hati Raja menahannya. Dia sangat menikmati dengan pemandangan yang tak pernah sekalipun dia lihat secara nyata.
Meski hanya dengan melilitkan handuk, Namun bagi Raja, pemandangan di hadapannya cukup membuat jiwa kelakiaannya menggeliat. Sungguh penampilan Sania membuat sesuatu yang tertidur mendadak bangun dan ingin memberontak.
Merasa keadaan aman karena Raja nampak terlelap kembali, Sania langsung bernafas lega dan membuka pintu lemari secara perlahan. Di saat matanya sedang asyik memilih baju yang akan dia kenakan, tiba tiba Sania memekik tatkala dia merasa ada yang menyentuh pinggangnya. Seketika Sania pun menoleh.
"Bang Raja!" pekiknya. sania tidak menyangka ternyata Raja tidak tidur. Sania semakin salah tingkah karena kedua tangan Raja kini melingkar tepat dipinggangnya. Sania hanya bisa memegangi lilitan handuk agar tidak terjatuh.
"Kenapa, Dek? Kok kaget gitu?" tanya Raja tanpa merasa bersalah. Sedangkan Sania dibuat mati kutu karena pelukan mendadak dari suaminya.
"Bang. Tolong lepasin, aku malu." rengek Sania.
"Malu kenapa? Masa di peluk suami malu sih? Jahat banget." balas Raja pura pura merajuk.
"Bukan begitu maksud aku, ini aku mau.."
"Bang!" pekik Sania dengan wajah merona merah menahan malu.
"Kenapa? Masa sama suami sendiri malu?" tanya Raja.
"Tapi kan aku belum terbiasa, Bang." sanggah Sania.
"Maka itu mulai sekarang dibiasakan. Dedek lebih ngerti banyak tentang agama loh. Seharusnya Dedek lebih tahu tentang kehidupan rumah tangga dalam agama kita,c balas Raja tanpa berniat melepas pelukannya sedikitpun. Meski dia mati matian menahan sesuatu yang sudah menegang di bawah sana.
"Aku ya belum sejauh itu ilmunya lah, Bang." balas Sania dengan tangan yang masih memegang bagian lilitan handuk yang hampir terlepas.
"Ya kalau begitu kita harus belajar bareng bareng." balas Raja sembari melepas pelukannya.
Sania pun seketika merasa lega. Namun kelegaan Sania hanya berlangsung sementara saat matanya melihat Raja melepas kaos di hadapannya. Meski dia sempat terpana melihat badan Raja yang terbilang sangat bagus, namun tetap saja, rasa malu lebih unggul menyelimutinya. Sania pun seketika langsung menutup mata.
"Abang kenapa buka baju disini?" pakik Sania namun Raja tetap acuh. Malah dia terkekeh melihat keterkejutan istrinya.
"Biar impas dong, Dek. Kamu aja hanya memakai handuk dihadapanku," ledek Raja.
"Abang ih. cepet pake bajunya!" rengek Sania.
Raja bukannya menurut, dia malah mendekat ke arah Sania. Raja mengangkat tangan dan dengan sekali gerakan Raja menarik handuk Sania kemudian melenggang menuju kamar mandi.
"Abang!!!"
...@@@@@...