
"Apa yang dikatakan Sania benar. Kemarin aku sedang tidak berdakwah. Tapi aku pergi dengan seseorang yang aku cintai,"
Kyai Bahar terperangah. Seketika tatapannya menukik tajam ke sumber suara. Dia tidak menyangka dengan apa yang diucapkan sang putra. Begitu juga dengan sang istri. Dia terkejut dengan kejujuran anaknya saat ini.
Abah mudin dan yang lainnya tampak tenang melihat Kyai Bahar sekeluarga. Mereka juga merasakan betapa murka dan kecewanya orang tersebut ketika dibohongi oleh sang anak. Namun untuk saat ini mereka hanya diam agar semuanya tetap baik baik saja.
"Jangan becanda kamu, Zi!" ucap sang Kyai lirih namun jelas sekali gurat kemarahannya.
"Ramzi lagi tidak bercanda, Bi," balasan Ramzi membuat amarah Bahar semakin ingin meledak. Apa lagi sang anak berani menatapnya. Dan tentu saja tatapan sang anak seperti menjatuhkan harga diri Kyai Bahar di hadapan Abah Mudin dan yang lain.
"Zi," pekik sang ibu sembari mengusap punggung anaknya agar bisa mengontrol amarahnya.
"Jujur Bi, aku malu dianggap sebagai lelaki yang tidak tegas oleh Sania, aku malu, Bi. Tapi Sania benar, aku laki laki. Aku harus tegas, termasuk dengan perasaanku sendiri. Aku lelah, Bi. Aku di tuntut selalu menuruti kemauan Abi, aku lelah. Kenapa Abi tidak pernah mendengar dan meresapi sedikit pun keluhan anak anak Abi?"
"Ramzi!" Bentak Bahar seketika. Dia kehilangan kendali. Bentakan sang Kyai bahkan membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkesiap saking terkejutnya.
"Bahar, istighfar, Har. Dengarkan dulu anak kamu bicara," saran Mudin.
"Bah, apa aku salah ingin mencari kebahagianku sendiri? Apa aku salah memilih jalan hidupku? Kalaupun nanti aku tidak bahagia seenggaknya itu bisa menjadi pengalamanku kan, Bah?"
Bahar bangkit dan dan tangannya melayang.
Plak!
"Abi!" pekik sang istri. Matanya tajam menatap sang suami dan tanpa terasa airmatanya perlahan luruh. Ramzi hanya menunduk sembari mengusap usap pipinya yang kemerahan.
Semua mata yang ada disana benar benar terkejut dengan sikap sang kyai yang terkenal santun dan ramah. Mereka tidak menyangka kalau sang kyai begitu arogan terhadap keluarganya terutama sang anak.
"Umi, ayo kita pulang. Dan kamu Mudin. Saya tidak menyangka niat baik saya malam ini malah dipermalukan seperti ini oleh anak kamu dan berandal seperti dia," ujar Bahar sambil menunjuk ke arah Raja. Bahar segera beranjak setelah mengucap salam dan memberi perintah kembali pada sang istri.
"Biarkan Ramzi di sini dulu, Umi Ida. Biarkan dia tenang dulu. Kalau ikut pulang nanti malah Pak kyai makin emosi," ucap Umi Sarah memberi saran.
"Baiklah, saya nitip anak saya, Umi, Abah," ucap Ida pada akhirnya, " Nanti setelah kamu tenang, langsung pulang ya, Nak? kita bicarakan lagi di rumah."
"Baik Umi," jawab Ramzi lirih.
Akhirnya Ida pun pamit undur diri menyusul sang suami yang sedang menunggunya di halaman depan rumah Abah Mudin. Abah dan Umi Sarah ikut keluar rumah guna bersama Umi Ida.
Kini di ruang tamu hanya tersisa Sania, Raja, Rumi dan Ramzi. Raja beranjak dan berpindah tempat duduk di sebelah Ramzi.
"Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Raja begitu pantatnya menyentuh kursi di sisi Ramzi.
"Seperti yang kamu lihat, setidaknya hatiku sedikit bernafas lega. Tidak ada yang mengganjal lagi," balas Ramzi sambil mengulas senyum tipis.
"Jujur aku nggak nyangka kalau kamu sangat tertekan dengan orang taumu," ucap Raja lagi. Bukan hanya Raja, semua yang tadi menyaksikan juga merasakan betapa Ramzi terlihat tertekan dengan sikap sang ayah.
"Ya begitu lah, semua yang terlihat baik belum tentu dengan keadaan yang sebenarnya. Tapi seenggaknya berkat kalian, aku jadi punya keberanian buat sedikit membangkang," balas Ramzi sembari terkekeh. Raja, Sania dan Rumi pun akhirnya ikut tersenyum juga. "Emang kalian lihat aku sedang kencan dimana sih? kok bisa barengan?"
"Di jalan kemarin. Kebetulan aku sama Sania juga lagi bareng," balas Raja.
"Bareng? Apa kalian juga pacaran?" terka Ramzi.
Raja langsung tersenyum namun Sania malah melotot.
"Doain aja," bisik Raja. Seketika Ramzi kembali terkekeh.
"Siap!" keduanya terbahak bersama.
...@@@@@...
Gimana ceritanya pemirsa? makin seru nggak? Terus ikutin yak? akan ada kejutan kejutan yang bikin gemes loh. Dan jangan lupa. dukungannya. Vote, like, gift, komen. Maaf aku jarang banget balas komen kalian. karena biar othor lebih fokus nyiapin bab berikutnya. Apalagi othor lagi nyiapin karya baru buat di tempat lain(F....) jadi harus benar benar fokus. Maaf ya dan makasih banget masih setia mengikuti sampai detik ini.