
Entah itu pengungkapan rasa atau sebuah candaan, namun yang pasti ada sedikit rasa lega dalam hati Raja setelah mengucapkan kata kata itu. Raja sendiri juga tidak pernah mengira bisa mengeluarkan kata kata gombal mendadak seperti yang tadi dia ucapkan. Sania menatapnya tajam, Rumi cekikikan dan Raja mesam mesem salah tingkah.
"Mau di lanjut belajarnya nggak?" tanya Sania ketus.
"Iya dong, Dek," balas Raja di sisa nyengir kudanya.
Kembali Raja mengulangi ayat yang tadi sempat terhenti. Berkali kali Sania mendengus. Entah Raja memang sengaja membuat kesalahan atau benar benar salah membacanya. Namun yang pasti Sania hanya mencoba sabar. Dengan telaten, Sania membimbing Raja hingga bacaannya sampai di penghujung ayat.
"Alhamdulillah," ucap keduanya.
"Gimana? Masih lumayan kan bacaan Al Qur'anku?" tanya Raja begitu selesai mengucap hamdallah.
"Lumayan parah, Bang," ledek Rumi.
"Ya enggak lah," sanggah Raja.
"Enggak salah, orang banyak kesalahan kok," dumel Sania.
"Alhamdulillah, berarti besok masih belajar lagi dong?" tanya Raja dengan kedua alis yang naik turun.
"Nggak cuma besok, tapi seterusnya Al Qur'an di baca dan di pelajari," mendengar penuturan Sania, Raja langsung bersorak. Entah itu sebuah nasehat atau perintah yang Sania lontarkan, namun bagi Raja itu adalah sebuah perhatian dan kesempatan.
"Yeahh! Oke, dedek! Asal kamu yang membimbing, aku siap mempelajari Al Qur'an seumur hidupku bersamamu," ucap Raja lantang.
"Astaga, Abang! Bisa bisanya gombal mulu," tukas Rumi disela sela cekikikannya. Sedangkan Sania, dia benar benar ingin nonjok pria yang sedang mesam mesam di hadapannya.
"Kalian sudah selesai? Kalau sudah, mending sholat isya dulu, setelah itu kita makan," Suara Ibu berhasil mengalihkan ketiganya dan semua serentak mengiyakan.
Lagi lagi, Raja di tuntut menjadi imam dan dengan berat hati Raja pun menyanggupinya. Meski hanya membaca surat An naas dan Al ikhlas, namun itu cukup membuat hati Raja ketar ketir selama menjadi imam. Beruntung Sania tidak meledeknya, mungkin perempuan itu mengerti, Raja masih butuh belajar. Meski dia masih agak ragu, apakah Raja akan selamanya belajar atau hanya sesaat terus kembali kekebiasaan buruknya. Sania hanya pasrah. Bagi dia yang penting sudah membantu Raja.
"Loh? Ada anak gadisnya Mudin," ucap Abdul begitu dia melihat Sania dengan anak anaknya melangkah ke arah meja makan setelah melaksanakan sholat isya.
"Iya nih, Om. Abis ngajarin Rumi dan Bang Raja." Balas Sania santun sembari duduk di kursi seberang meja berjejeran dengan Raja dan Rumi.
"Alhamdulillah, doain ya, Nak. Semoga si pemabuk itu istiqomah dan insyaf sampai akhir hayat," sindir Bapak cuek sambil mengisi piring dengan nasi dan lauk pauk. Dan Sania hanya mengangguk sembari menyunggingkan senyumnya. Raja hanya bisa ngedumel mendengar sindiran bapak.
Selain Sania, satu persatu mereka mulai mengisi piring dengan nasi dan hidangan lainnya. Sementara Sania, dia diam karena Raja dengan sangat percaya diri mengambilkan makanan untuk dirinya.
"Nasinya jangan kebanyakan," protes Sania.
"Ya ampun, satu centong masa banyak? Makan yang banyak, biar gemukan dikit," ucap Raja tanpa menghiraukan protes Sania.
Mau tak mau, Sania pun menerima dan melahapnya. Sebenarnya, nasi itu tidak terlalu banyak. Hanya saja dia merasa tidak enak makan di rumah orang lain dalam porsi yang tidak sedikit. Dan seketika suasana mendadak hening. Mereka menikmati santapannya tanpa ada obrolan sama sekali.
"Mba, Mba San kalau siang kegiatannya apa sih? Di rumah saja apa?" tanya Rumi begitu menyelesaikan makananya.
"Iya, Rum. Kalau nggak paling ke toko bantu Umi sama Abah," balas Sania.
"Nggak pengin kerja atau apa gitu, San?" tanya Lastri.
"Penginnya sih usaha sendiri, Tante. Cuma lagi ngumpulin modal dulu," balas Sania lagi.
"Emang pengin usaha apa?" tanya Lastri lagi.
"Hijab sama aksesoris. Dan juga pernak pernik kado juga."
"Wahh! ide bagus tuh, Mba. Disini belum ada loh yang jualan kayak gitu, kalau ada juga kadang nggak lengkap," ujar Rumi.
"Emang butuh modal berapa?" Raja yang sedari tadi sedang menikmati kaki ayam tiba tiba ikut bersuara.
"Ya pasti banyak lah, Bang," Rumi yang menjawab.
"Ya banyaknya berapa? Biar aku yang modalin, kamu siapin aja apa yang kamu butuhkan,"
Ucapan Raja yang begitu santai sambil menggigit kaki ayam goreng membuat semua mata yang ada disana menatapnya tak percaya.
"Maksudnya?"
@@@@@