
Raja dibuat mati kutu mendapat sindiran dari sang adik. Apa lagi sindiran tersebut diucapkan di hadapan Sania. Raja semakin merasa tidak enak hati. Yang Raja takutkan adalah Sania akan berpikir yang tidak tidak tentang dirinya mengenai kata pesta yang Rumi ucapkan.
Sania yang mendengar ucapan Rumi pun sedikit terkejut. Tapi dia sadar, mungkin Rumi memang sudah terbiasa dengan kelakuan buruk sang kakak. Bisa jadi, pesta yang Rumi maksud adalah pesta mabuk mabukan. Sania sangat menyayangkan jika malam ini Raja akan kembali berpesta. Ingin rasanya dia ikut bersuara, namun dia merasa tidak layak karena hanya orang luar. Dan juga sikap Raja lagi tidak bersahabat. Sania takut Raja semakin dingin sikapnya jika dia ikut ngomong tentang pesta yang dimaksud.
"Emang kamu belum kondangan, Ja?" Tanya Ibu.
"Belum, Bu," balas Raja pelan.
"Ibu kayak nggak tahu Bang Raja aja, dia kan kalau kondangan pas acara dangdutannya, Bu. Paling juga ntar malam dijemput Bang Anto apa Bang Kirno," ucapan Rumi yang sudah mirip seperti dukun membuat Raja sedikit kesal.
"Kamu denger sendiri kan, San? Itulah kebiaaan Raja. Adiknya aja sampai hafal. Makanya, Raja susah dapat cewek," ucap Ibu dengan menunjukkan wajah antara kesal dan kecewa. Sania hanya mengulas senyum. Sedangkan Raja tidak bisa bersuara sama sekali. Ingin rasanya dia pergi saja.
"Sebenarnya nggak susah Bu. Buktinya ada Pipit dan Nunik yang mati matian ngejar Bang Raja, pasti diluaran sana masih banyak, Bu," balas Rumi acuh. Dia seperti sengaja memojokkan Raja di hadapan Sania karena dia tahu sang Abang menyukai perempuan yang sekarang duduk bersama mereka.
"Apa nggak ada perempuan yang lebih baik lagi, Rum?" tanya Ibu yang seakan akan ikutan menyindir dan memojokkan sang anak.
"Perempuan yang lebih baik pasti banyak, Bu. Tapi apa perempuan itu mau dengan Bang Raja?" Lagi lagi ucapan sang adik terdengar menohok ditelinga Raja tapi dia tidak mungkin bisa marah. Dia hanya mencoba menatap tajam sang adik berharap Rumi berhenti membicarakan tentang dirinya.
"Kalau kamu, San? Penginnya dapat pendamping yang seperti apa?" Pertanyaan Ibu membuat Sania yang sedari terdiam sempat terhenyak.
"Seperti apa yah?" balas Sania sembari memikirkan jawaban yang tepat.
"Yang jelas bukan seperti Bang Raja ya, Mbak?" ucapan Rumi benar benar mematahkan harapan sang kakak. Sedangkan Sania mengulas senyum mendengarkan pertanyaan Rumi.
"Nggak ada kriteria khusus sih sebenarnya kalau aku, Bu. Soalnya jodoh kan misteri. Tapi jika boleh memilih, aku ingin ingin yang baik baik saja," ucap Sania bijak. Dia tidak ingin memberikan jawaban yang bisa menyinggung perasaan Raja.
Lagi lagi Raja di daulat menjadi imam sholat. Raja tak bisa mengelak. Dia pun kembali menjadi imam dengan perasaan was was takut ada bacaan yang salah.
Setelah sholat selesai, kini waktunya belajar Al Qur'an kembali. Seperti biasa, Rumi yang mendapat giliran pertama untuk belajar. Sania memilih surat An Nazi'at sebagai bacaan untuk belajar. Dan lagi lagi Rumi lancar menyelesaikan misinya. Bahkan Sania tidak ada komentar sama sekali selain bacaan Rumi sudah bagus dan sudah benar tentang ilmu tajwidnya.
Setelah Rumi selesai, kini giliran Raja. Tentu saja pembelajaran kali ini terasa begitu canggung. Sikap Raja yang masih dingin membuat sikap Sania yang biasanya galak berubah menjadi lebih lembut. Bahkan setiap Raja melakukan kesalahan dalam bacaan, suara Sania terdengar santai dan terlihat sabar menuntun dan membetulkan kesalahan bacaan yang Raja lakukan.
Raja sendiri juga sebenarnya heran dan senang dengan sikap Sania malam ini. Namun demi gengsi, dia tetap bersikap dingin pada guru ngajinya. Bahkan dia sangat berusaha dengan keras agar matanya tidak memandang Sania.
Bacaan Raja sampai pada ayat di mata ada tanda tajwid di sana.
"Kalau ini di baca idghom bilaghunah, karena nun sukun ketemu huruf lam, cara bacanya gini," ucap Sania sambil mempraktekkan bacaan yang di maksud. Raja dengan seksama memperhatikan.
"Berarti ini huruf Nun nya di anggap tidak ada?" tanya Raja.
"Iya, seperti pesanku, padahal aku berkali kali kirim pesan namun dianggap tidak ada oleh orang yang aku kirimin pesan."
Sindiran Sania sukses membuat Raja dan Rumi ternganga bersamaan.
...@@@@@...
Nah loh nah loh. Mampukah Raja bertahan dengan gengsinya? Akan ada kejutan apa lagi yak? kok aku penasaran? hihii
Hai reader, masih kuat puasanya kan? Tetap semangat ya? Makasih sudah mengikuti kisah Raja hingga sampai sini. Makasih juga dengan segala dukungan yang kalian berikan untuk Raja. Jangan lupa kunjungi juga karyaku di tempat sebelah. Yang penasaran judulnya apa? komen aja di bawah, nanti aku kasih tahu oke. tanpa koin alias gratis. Jangan lupa pada mampir loh ya? makasih