
"Gini Sania. Om sama tante kesini ingin melamar Sania untuk Raja? Apa sania mau?" ucap Abdul dengan sangat hati hati. Sungguh Abdul juga merasa panik saat melontarkan pertanyaan tersebut.
Semu mata kini tertuju pada wanita muda yang nampak sedang berpikir. Tentu saja Sania tidak bisa langsung menjawab begitu saja. Yang pasti dia ingin memastikan kalau keputusannya yang akan di ambil olehnya adalah keputusan yang terbaik.
Sementara itu di saat yang sama, Raja nampak baru bangun dari istirahat siangnya. Badan yang lelah membuat Raja tidur siang lumayan lama. Melihat waktu yang menempel di dinding, Raja bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.
Setelah selesai, Raja keluar kamar hanya dengan menggunakan sarung. Sementara bajunya dia lepas karena sore itu sungguh terasa panas. Apa lagi Raja belum mandi.
Raja mengedarkan pandangannya. Rumah nampak sepi. Lampu lampu bahkan belum dinyalakan. Sambil menyalakan lampu ruangan, Raja beranjak menuju teras rumah dan duduk disana. Diedarkan mata Raja ke sekeliling dan arah pandang itu berhenti pada sebuah motor yang terpakir di sebelah mobil yang tadi pagi dipakai Raja.
"Motor Dedek masih disini?" gumamnya dalam hati. Beberapa saat kemudian senyum Raja terkembang. Pikirannya kembali mengingat saat saat indah bersama Sania meski hanya sesaat.
Saat Raja lagi asyik melamun, mendadak lamunannya buyar saat telinganya mendengar suara dua orang yang dia kenal. Raja pun mendengus kesal.
"Kirain nginep lagi, Gan?" ucap Anto begitu dia mendaratkan pantatnya.
"Gimana rasanya, Gan? Nginep bareng Dedek Sansan?" ledek Kirno.
Plak!
"Aduh! Gila yah? gitu aja main gampar!" pekik Kirno sambil mengusap punggung kanannya.
"Salah sendiri nyebut Sania pake sebutan kesayanganku. Nggak aku tonjok aja udah untung kamu." sungut Raja.
"Hih! Sadis amat," cibir Kirno.
"Kalian tahu aku sudah pulang darimana?" tanya Raja.
"Tadi, Juragan Abdul yang ngasih tahu. Mau kesini dari tadi sebenarnya. Namun takutnya kamu masih istirahat." balas Anto.
Raja pun manggut manggut. Dia menerima buku cacatan yang dibawa Anto kemudian dia membuka dan memeriksanya.
"Gan, kamu dengar nggak berita terhangat yang terjadi di kampung kita?" ucap Kirno tiba tiba.
"Juragan lagi fokus sama laporan kita, No. Jangan ganggu bisa nggak? malah ngajakin gosip," protes anto.
"Gosip apaan?" tanya Raja. dia pun menjadi penasaran.
"Itu Kyai Bahar. Ngejelek jelekin Ustad Mudin hanya gara gara anaknya di tolak saat melamar Sania,"
"Apa!"
Sementara di rumah Abah Mudin, Sania masih larut dalam pikirannya. Di tatapnya kedua orang tua kandungnya. Dan di mata mereka, seakan Sania menangkap kata hati dari Abah dan Umi kalau keputusannya ada di tangan Sania.
Nyatanya memang benar. Umi dan Abah memang menyerahkan segala keputusan hidup anaknya pada diri mereka sendiri. Biar mereka bisa tanggung jawab dengan pilihan dan keputusan mereka termasuk soal pendamping hidup.
"Maaf Tante, apa Bang Raja yang menyuruh, Om dan tante kesini?" tanya Sania.
"Tidak, Nak. Dia malah tidak tahu kami kesini." balas Lastri.
Sania pun tercengang mendengarnya. Hatinya pun bertanya tanya. Kenapa bukan suruhan Raja? Apa Raja tahu tentang hal ini?
"Kami sengaja kesini tanpa memberi tahu Raja, San. Kami hanya ingin memastikan dulu. Karena jika Raja tahu rencana ini, kami takut dia malah sangat berharap." terang Abdul.
Sania mencoba mencerna ucapan Bapaknya Raja. "Berharap gimana, Om?"
"Layaknya laki laki kalau melamar seorang wanita, pasti mereka berharap lamarannya diterima kan, San? Sedangkan kamu tahu sendiri keburukan Raja gimana. Seandainya kamu menolak sedangkan Raja sudah terlanjur berharap, pasti Raja akan sangat kecewa kan, San?" Mendengar penjelasan Abdul, Sania pun mengangguk beberapa kali tanda mengerti.
"Nah, maka itu, San. Kami memutuskan kesini dulu membicarakan hal ini sama kamu dan oranng tua kamu. Biar kami tahu lebih dulu jawaban kamu. Seaandainya di terima, kami akan melamarmu secara resmi. Namun jika di tolak, kami akan berusaha membujuk Raja untuk sedikit jaga jarak dengan kamu," sambung Lastri.
Sania pun kembali terdiam. Dia mencerna ucapan orangtua Raja. Lagi lagi dia menatap Abah dan Umi.
"Abah dan Umi, menyerahkan semua keputusan ada di tangan kamu, San?" ucap Abah.
Sania pun menghela nafas sejenak. Di tatapnya kembali wajah orang tua Raja. Mata mereka beradu dan hati mereka berdebar.
"Aku..."
...@@@@@...