
"Eughh."
Suara khas seseorang yang baru sadar dari tidurnya, terdengar dari dalam kamar sebuah rumah. Nampak seorang wanita yang mulai terbangun dari lelapnya menggerak gerakan pelan badannya sedikit. Matanya yang terpejam pun terlihat mengerjap dan perlahan terbuka.
Saat mata itu benar benar terbuka, ada rasa terkejut saat mata itu menangkap sesuatu dihadapannya. Sontak pemilik mata itu seketika langsung merasa gugup tatkala di hadapannya ada senyum manis yang terkembang dari bibir seorang pria.
Mata pria itu terus menatap wajah bangun tidur sang wanita. Dengan senyum terkembang sempurna, pria itu sangat menikmati kecantikan alami dari wanita yang baru saja membuka matanya.
Sedangkan sang wanita merasa gugup luar biasa. Baru kali ini ada seseorang pria yang melihat dirinya baru bangun tidur. Meski pria itu telah sah jadi suaminya dan berhak melihat segalanya yang ada pada dirinya, namun tetap wanita itu masih gugup dan bel terbiasa dengan hal seperti itu.
Wanita itu hendak berbalik badan, namun sayang dia tidak berhasil. Dia merasa ada sesuatu yang menahannya di bagian pinggangnya. Benar saja, saat dia meraba, jari tangannya menyentuh sebuah tangan kekar yang melingkar dipinggangnya. Wanita itu langsung menatap sang pemilik tangan di hadapannya.
"Bang. Ini tangannya bisa dilepas nggak?" tanya wanita bersama Sania itu pelan.
"Nggak bisa," balas Raja sengaja meledek.
"Bang, tolong lepasin," rintih Sania dengan tangan yang terus berusaha melepaskan tangan Raja. Namun bukannya terlepas, tangan Raja semakin erat meligkar hingga jarak mereka semakin dekat.
"Bang," rengek Sania dengan wajah gugup dan mata yang terus menghindar tatapan dari Raja.
Raja hanya tersenyum menikmati kegelisahan wanita yang telah sah menjadi istrinya sejak siang kemarin.
"Apa?" balas Raja acuh.
"Ini tangannya lepasin," rengek Sania. Sungguh dia panik luar biasa diperlakukan seperti itu.
"Kalau Abang nggak mau gimana?" ledek Raja cengengesan. Sedangkan Sania langsung menyipitkan mata sejenak.
Sania pun berpikir keras mencoba mencari alasan agar terlepas dari jeratan tangan suaminya. Bukannya Sania tidak suka, namun dia belum terbiasa saja diperlakukan seperti ini. Makanya dia panik dan berharap segera bisa melepaskan diri.
Dilihatnya jam dinding dan seketika Sania menemukan ide. "Bentar lagi subuh, sebaiknya kita siap siap, Bang."
Raja pun langsung terkekeh pelan kemudian berkata, "Baru pukul empat, Dek. Kan subuh saat ini jatuh sekitar pukul empat tiga puluh. Masih ada waktu."
Sania kaget mendengar jawaban Raja, namun dia tak habis akal. Dia terus mencari alasan agar terbebas dari pelukan Raja.
"Kan kita bisa tahajud, Bang. Sambil nunggu subuh. Kita juga bisa pergunakan waktu untuk membaca Al Qur'an." ucap Sania dengan mata yang terus menghindari tatapan Raja.
"Bermesraan? Ma_maksud Abang?" tanya Sania dengan pikiran yang sudah berkelana mendengar kata bermesraan.
"Maksud Abang ya kayak gini, kita ngobrol berdua. Masa kamu nggak tahu, Dek? Atau jangan janngan kamu memikirkan hal yang lain?" terka Raja.
Tentu saja Sania menjadi salah tingkah. Matanya langsung kembali tak berani menatap Raja. Sementara Raja kembali cengengesan. Dia tahu maksud sang istri itu apa.
"Emang menurut Dedek, maksud bermesraan itu apa, Dek?" tanya Raja pura pura tidak tahu.
Sania pun dibuat gelagapan dengan pertanyaan seperti itu. Dia bingung mau jawab apa. Sania merasa terjebak dengan pemikirannya sendiri.
"Apa maksud Dedek, bermesraan itu adalah.."
"Bukan!" jawab Sania cepat sebelum Raja melanjutkan ucapannya. Raja pun terkekeh melihat Sania yang menahan malu.
"Lah terus? Apa dong?" tanya Raja lagi. Lagi lagi Sania bingung menjawabnya.
Sungguh jika mampu Sania ingin sekali lenyap sejenak dari hadapan suaminya. Bagaimana bisa dia punya pikiran lain hanya dengar kata bermesraan.
"Bang, lepasin?" rengek Sania lagi.
"Jawab dulu, maksud Dedek, bermesraan itu apa? Kalau tidak jawab ya bakalan tidak akan Abang lepas sampai siang sekalipun." ancam Raja dan hal itu sukses membuat Sania melotot.
Sania pun menghela nafasnya dalam dalam kemudian dia mengehmbuskannya terus di tatapnya wajah sang suami yang sedang senyum senyum ke arahnya.
"Menurutku bermesraan itu hubungan suami istri yang sudah sah hingga tertanam benih dalam perut."
Sontak Saja Raja tergelak mendengar jawaban Sania yang sedang menutup muka.
"Oh, jadi Dedek sudah pengin yang itu? Oke! Mau sekarang apa nanti malam?"
Sania langsung terperangah.
...@@@@@...