
Aku juga diajari baca Al Qur'an ya?" tanya Raja tiba tiba membuat sang adik mengernyitkan dahinya dan kemudian terbahak.
"Bang Raja mau belajar Qur'an? Nggak salah?" tanya adik Raja yang akrab di panggil Rumi.
"Emang kenapa? Kan abang mau belajar memperbaiki diri?" kilah Raja.
"Memperbaiki diri tuh karena Allah, Bang. Jangan karena wanita." ucap Rumi yang memang sudah mencium tanda tanda keanehan pada abangnya.
Selama jadi adik, Rumi tidak pernah melihat Abangnya suka rela menolong perempuan. Bahkan menawari sesuatu kepada perempuan. Itu adalah hal terlarang bagi Raja. Selain tampan, dimata perempuan, Raja adalah pria yang angkuh dan bermulut tajam. Tidak pernah ada basa basinya terhadap perempuan. Kalau tidak suka dengan sangat tegas Raja bilang tidak suka.
Namun saat ini Rumi melihat perubahan yang mencolok pada diri abangnya sejak ada perempuan manis bernama Sania. Dan Rumi yakin Abangnya pasti ada hati sama perempuan yang saat ini duduk di sebelahnya.
"Entar kalau jadwalnya Rumi belajar, aku kasih tahu ya, Dek. atau gini aja, ini kan aku mau ngantar kamu pulang, sekalian aku minta ijin deh sama Ustad Mudin." ucap Raja dengan pedenya. Sang adik semakin mendengus, begitu juga dengan Sania.
Tentu saja Sania sebenarnya keberatan. Dia benar benar ingin menghindari laki laki yang pernah kurang ajar terhadapnya dulu.
"Besok sore, kamu temui aku aja di balai masjid ya? Nanti kita bicarakan jadwal belajar kamu di sana." Usul Sania kepada Rumi. Sedangkan Raja yang permintaanya di cuekin hanya bisa mencebikan bibirnya.
"Siap, Mba. Eh Mba mau pulang ya? Aku aja yah yang ngantar." tawar Rumi.
"Enak aja! Nggak bisa. Dek Sansan abang yang ngantar. Apa apaan sih kamu." sergah Raja.
"Dih! Jangan maksa gitu dong, Bang," cibir Rumi.
"Siapa yang maksa? Ayo, dek, Abang antar." ajak Raja dengan lembutnya. Rumi mengeluarkan ekspresi ingin muntah mendengar ucapan Raja. Benar benar menggelikan.
Raja melangkah duluan sedangkan Rumi dan Sania mengekor di belakangnya. Pas tiba diteras, mereka berpas pasan dengan orang tua Raja.
"Loh, bukanlah ini?" tanya Ibu.
"Sania, Tante, Mm." balas Sania ramah.
"Ah, iya, anaknya Umi sarah kan? Kok bisa di sini." tanya Ibunya Raja heran.
Sania hendak menjawab namun Raja dengan cepat yang bersuara dan menjelaskan apa yang terjadi. Kedua orang tua Raja kembali serentak mengernyitkan dahi mereka. Tentu saja lagi lagi mereka heran dengan sikap anak laki lakinya. Tidak biasanya Raja bersikap seperti ini.
"Ayo, dek San." ajak Raja sembari menuju motor sportnya. Sania bukannya melangkah malah mengernyitkan dahinya.
"Iya, kenapa? Keren kan?" Jawab Raja bangga. Kedua alisnya sengaja dia turun naikkan.
"Sania mana mau naik motor begituan, belum muhrim, Raja." balas Bapak. Ibu dan Rumi hanya bisa terkikik lirih.
"Lah, kan aku punyanya cuma motor ini." keluh Raja dan itu hanyalah sebuah dusta.
"Jangan dusta deh, Bang. Ya udah ayok Mba aku aja yang antar, jangan nurut sama bang Raja." ucap Rumi sembari melangkah maju.
"Nah bener tuh, Rumi aja yang ngantar." dukung Ibu.
Raja semakin mendengus kesal namun dia tidak akan menyerah begitu saja. Malam ini dia harus berhasil mengantar Sania bagaimana pun caranya.
"Nggak bisa, enak aja. Ntar aku mau ambil motor matic." ucap Raja akhirnya mengalah. Dia bergegas masuk mengambil kunci matic.
Mau tidak mau Sania menunggu lagi. Sedangkan kedua orang tua Raja benar benar masih merasa terkejut dengan sikap putranya, begitu juga Rumi.
"Udah, ayok, naik." ucap Raja tak lama kemudian setelah dia mengambil motor di garasi belakang rumah.
Dengan berat hati Sania melangkah menuju keberadaan motor Raja.
"Om, Tante, Sania pamit pulang dulu ya?" ucap Sania ramah.
"Oh iya, hati hati ya." balas ibu Raja.
Sania mengangguk. Tak lupa pula dia mengucapkan salam sebagai tanda pamit. Dan motor pun meluncur bersamaan senyum Raja yang terkembang sempurna.
"Raja kok aneh gitu sih, Bu?" tanya Bapak yang masih terpaku di teras.
"Ibu juga heran pak. Nggak biasanya Raja bersikap seperti itu sama perempuan." balas Ibu.
"Ya ampun, ibu, bapak. Bang Raja bersikap kayak gitu tuh karena Bang Raja lagi jatuh cinta."
"Apa!"
...@@@@@@...