
Setelah ibu muda itu berlalu, Raja melangkah dengan santainya hingga beberapa saat dia berjalan, Raja baru menyadari, Sania tidak mengikutinya. Dia menoleh dan dahinya berkerut. Sania masih mematung di tempat semula.
"Kenapa masih di situ?" tanya Raja begitu badannya memutar arah.
"Takut ada orang salah paham lagi kayak barusan? Mending kamu jalan dulu deh," jawab Sania sambil memberi perintah. Tapi seorang Raja mana mungkin mau jalan duluan. Yang ada dia malah menggunakan kesempatan ini agar Raja terlihat dekat dengan Sania. Raja tahu betul kekuatan mulut tetangga itu ampuhnya bukan main. Sekali berucap, gosip langsung menyebar.
"Ya ampun dedek, jangan hiraukan pandangan orang napa? Yang penting kan kitanya nggak ngapa ngapain?" tukas Raja sembari kembali melangkah mendekat ke arah Sania.
"Aku tahu, tapi kan..."
"Kamu malu karena jalan berdua dengan seorang pemabuk, gitu?" Sania langsung terdiam seketika ucapannya terpotong oleh pertanyaan Raja. Sebenarnya salah satu alasannya memang seperti itu tapi tidak mungkin Sania jujur. Dia masih bisa menjaga perasaan orang lain.
"Maksudku bukan begitu," balas Sania dengan kepala menunduk. Meski dia membenci pria dihadapannya, namun dia juga tidak mau membuat Raja tersinggung dengan ucapannya. Walau dia sadar sering bersikap sinis namun dia tidak pernah mengolok ngolok keburukan Raja yang pemabuk.
"Kenapa kamu terlalu peduli dengan tanggapan orang lain? Kamu itu ilmu agamanya lebih bagus dariku loh, Dek. Harusnya kamu tahu akibat bergosip itu apa, kalau benar itu menjadi ghibah tapi kalau salah itu menjadi fitnah. Yang rugi siapa? Mereka, bukan kita," Ujar Raja dengan tenang.
Sania terdiam. Dia mencerna ucapan Raja dengan kepala tertunduk menatap jari jari tangannya sendiri yang saling bertautan.
"Udah ayok jalan. Entar keburu maghrib," ucap Raja lagi.
Sania mendongak, "Kamu jalan duluan, aku ngikutin dari belakang," balas Sania.
"Baiklah," Raja pun kembali melangkahkan kakinya. Dan setelah beberapa langkah, Sania mulai berjalan di belakang Raja.
Dengan sengaja, Raja memelankan langkah kakinya. Sepanjang perjalanan, banyak mata memandang dengan tatapan heran. Tentu saja ada juga yang kasak kusuk. Sania sesekali kepalanya tertunduk pura pura tidak melihat orang yang sedang menatapnya. Sedangkan Raja, dia malah terkesan bahagia dengan peristiwa ini.
"Eh ada Sania," pekik Lastri, ibunya Raja. Begitu Sania sampai di halaman rumah Raja.
"Assalamu'alaikum tante," ucap Sania sembari menjabat tangan dan mencium punggung tangan Lastri.
"Wa'alaikum salam, jadi ngajar ngaji?" tanya Lastri.
"Jadi dong, Bu." Raja yang menjawab dengan sangat antusias.
"Rumi ada, lagi mandi mungkin. Ini kamu nggak kerepotan ngajar dua orang," ucap Lastri.
"Ya enggak lah, Bu. Sania kan cerdas. ngajarin Fatar dan anak anak lain aja bisa, apa lagi ngajarin kita yang dua orang," Lagi lagi Raja yang nampak semangat menjawab pertanyaan ibunya.
"Yang ditanya Sania, kenapa kamu yang lantang menjawab?" sungut ibu dan hal itu sukses membuat Raja tergelak dan Sania tersenyum manis hingga Raja terpana memandangnya.
"Kan aku mewakili, Bu. Biar nanti Sania tidak capek pas mulai mengajar karena terlalu banyak menjawab pertanyaan ibu," Seketika sang ibu melayangkan cubitan di pinggang Raja begitu anak itu dengan entengnya berasalan yang tidak masuk akal dan seakan memberi perhatian pada Sania.
"Kalau modus bisa aja ya kamu, Ja," cibir Lastri.
"Siapa yang modus? itu kejujuran loh, Bu." kilah Raja dan sepertinya ibu menyerah. Tidak mau berdebat terlalu panjang dengan putranya.
Tak lama kemudian, suara adzan pun terdengar berkumandang pertanda telah memasuki waktu maghrib. Lastri mengajak Sania masuk ke dalam.
"Mba Sania udah datang? Kita sholat dulu, yah?" tanya Rumi yang nampak sudah segar saat dia keluar dari kamarnya.
"Iya, Rum. Pinjam mukenanya yah?"
"Siap, mba." Rumi kembali masuk ke dalam kamar mengambil salah satu mukena yang dia punya.
"Raja! Mau kemana? Sholat maghrib dulu," Ucap Lastri begitu melihat sang putra melangkah menuju kamar.
"Sholat di kamar, Bu." kilah Raja begitu langkahnya terhenti.
"Laki laki kok sholatnya di kamar, nggak malu apa ada Sania. Laki laki tuh sholat di masjid. Udah sana wudlu, kita jamaah bareng, kamu jadi imam,"
"Wadidaw!"
Seketika Raja mematung mendengar titah sang ibunda.
...@@@@@...