
"Hati hati Umi, Abah, kalau ada apa apa, kabari Sania?" Ucap Sania saat Abah dan Umi sudah duduk di dalam mobil travel.
"Kamu juga jaga diri di rumah," ucap Umi. " Nak Raja, Umi nitip Sania, jagain baik baik loh,"
"Siap Umi," balas Raja lantang dan riang.
"Apaan sih Umi, ih," sungut Sania.
Dan, setelah saling mengucap salam, mobil yang membawa Abah dan Umi pun melaju meninggalkan halaman rumah.
Kini lagi lagi di sana tinggal Sania dan Raja. Mereka kembali duduk di kursi teras.
"Bang, aku mau mandi dan siap siap ke toko. Kalau Bang Raja mau pulang dulu nggak apa apa," ucap Sania tiba tiba. Sebenarnya Sania canggung berduaan seperti ini dengan Raja. Ini pertama kalinya Sania berdua dengan pria yang bukan dari kalangan keluarganya.
Tapi bagi Raja, ini adalah saat saat yang sangat membahagiakan. Ada dua faktor yang membuat Raja saat ini sangat bahagia. Pertama, sikap Sania tidak galak lagi. Bahkan Sania lebih sering menunduk dan berbicara dengan suara lembut. Kedua, Raja bisa berduaan dengan Sania dan dia akan sering bertemu Sania karena perempuan itu akan menginap di rumahnya.
"Ya udah sana kamu siap siap, biar aku tungguin," balas Raja enteng. Namun membuat kening Sania berkerut.
"Apa nggak kelamaan?" Tanya Sania memastikan.
"Enggak, enggak. Lagian kan Umi sudah ngasih amanat agar aku jagain kamu," beruntung Raja punya senjata biar Sania tidak mampu menolaknya lagi. Terbukti Sania langsung pasrah.
"Baik lah, aku masuk dulu," ucap Sania dan Raja hanya mengangguk serta mengulum senyum membiarkan wanita itu beranjak.
Buat mengusir jenuh, Raja memilih mengambil ponsel dan bermain game. Bagi dia, lebih baik menunggu disini dari pada pulang. Kapan lagi ada kesempatan berdua dengan wanita impian. Apalagi sang wanita sudah tidak galak lagi, makin semangatlah Raja menjalaninya.
"Sudah siap?" Tanya Raja begitu melihat Sania keluar rumah beberapa saat kemudian.
"Sudah," balas Sania.
"Mau berangkat sekarang atau..?"
"Ya sekarang, mau nunggu apa lagi,"
Raja pun mengulas senyum kemudian bangkit dan beranjak menuju motor Sania. Tak butuh waktu lama, motor itu pun melaju menuju arah pasar.
"Ya udah, kalau begitu aku pulang dulu, nanti sore di jemput jam berapa?" Tanya Raja begitu sampai di depan toko dan Sania turun dari jok belakang.
"Nanti Bang Raja jemputnya pas aku di rumah aja deh, biar nanti aku pulang nebeng Vita," tolak Sania.
"Vita siapa?"
"Ya udah, hati hati, kalau ada apa apa ngasih kabar," balas Raja akhirnya mengalah. Dan Sania hanya mengangguk.
Raja pun akhirnya pamit dan mengucap salam. Setelah Sania membalasnya, Raja langsung melajukan motor meninggalkan toko Sania.
Mata Vita terus menatap tajam ke arah Sania dari dia masuk toko hingga dia menaruh tas di balik meja dimana Vita sedang duduk.
"Kenapa lihatinnya gitu amat?" tanya Sania yang baru menyadari tatapan Vita kepadanya.
Bukannya langsung menjawab, Vita malah menyeringai. "Sepertinya ada yang baru jadian nih?"
Sania kembali menatap Vita dengan dahi berkerut, "Jadian?"
Vita menggangguk. "Sejak kapan, Mbak, jadiannya?"
Sania makin tercengang dengan.pertanyaan gadis muda itu. "Apa maksudnya?"
Vita mencebikkn bibirnya seaakan mengejek, "Jangan pura pura ngak tahu deh, Mbak. Sekarang udah berani antar jemput nih,"
Sania semakin heran dan dia pun berpikir mencari tahu apa maksud ucapan Vita barusan. Dan beberapa saat kemudian, "Hah! Jadi kamu berpikir aku jadian sama Raja?"
"Emang benar kan, Mbak?" Sania malah terpingkal mendapat tuduhan seperti itu. Sedangkan Vita malah mendengus merasa di ledek.
"Siapa juga yang jadian? Orang dia di amanahi Umi, buat jemput aku. Aku kan untuk sementara akan tinggal di rumahnya," balas Sania.
Vita mengerucutkan bibirnya dan manggut manggut. Dia nampak sedang berpikir sambil menatap Sania.
"Tapi kok aku ngerass sikap Mbak San ke Bang Raja beda yah?" ungkap Vita.
"Beda gimana?" Tanya Sania di sisa sisa tertawanya.
"Ya beda aja, Mbak San terlihat lebih lembut gitu ke Bang Raja nggak kayak kemarin kemarin," selidik Vita.
"Jangan ngarang deh, Vit," elak Sania sambil berpaling. Dan hal itu malah membuat Vita menyimpulkan sesuatu seraya kembali menyerringai.
"Mbak Sania menyukai Bang Raja yah?"
"Hah!"
...@@@@@@...