
"Baiklah Om tante, aku terima niat baik, Om dan Tante." ucap Sania dengan tersenyum tipis.
"Alhamdulillah." ucap Abdul dan Lastri. Nampak sekali ada kelegaan dalam wajah mereka. Suasana yang begitu tegang pun berubah cair dan menghangat.
"Kamu udah yakin dengan keputusanmu, San?" tanya Umi.
"Insya Allah, Umi. Sania yakin," jawab Sania mantap.
"Syukurlah, makasih ya, San. Mau menerima Raja. Dan jangan lelah membuat Raja menjadi pria lebih baik lagi." ucap Lastri tulus.
"Sama sama tante, insya Allah saya akan berusaha membantu Bang Raja. Doakan saja yang terbaik, ya Tante, Om," balas Sania.
"Tentu, kami pasti akan mendoakan. Kami juga akan secepatnya melamar kamu secara resmi," balas Adbul antusias.
"Tapi ingat, Nak. Sebelum halal, kalian harus jaga diri. Jangan sampai kalian kebablasan." ucap Abah.
"Yang diomongin kayak gitu jangan Sania dong, Bah. Raja juga. Kan biasanya laki laki yang suka nyosor." protes Sania.
"Eh ada orang tuanya kok ngomong kayak gitu?" tukas Umi dan Sania pun spontan menutup mulut dengan tangannya.
"Maaf tante, Om, Sania keceplosan." ucap Sania merasa tak enak.
"Nggak apa apa. Biar nanti Om sam tante yang ngomongin Raja." balas Abdul.
Mereka pun tak henti hentinya tertawa bersama dengan melanjutkan obrolan ringan hingga tak terasa waktu maghrib pun hampir tiba. Akhirnya Abdul dan Lastri pun pamit undur diri.
"Bapak sama Ibu darimana?" tanya Raja begitu melihat sang orang tua datang dan nampak rapi.
"Habis kondangan, kan tadi Bapak udah bilang, kondangan di tetangganya Abah Mudin." jawab Bapak sambil duduk di dikursi yang ada di teras. Sedangkan Ibu langsung masuk rumah.
"Hah! Lama amat? Masa maghrib baru balik? Tamunya rame banget apa?" tanya Raja keheranan.
"Huu! Membludak sampai nggak bisa gerak." kilah Abdul. Raja berdecih tak percaya. Sedangkan Kirno dan Antto hanya tersenyum bersamaan.
"Gimana hasil hari ini? Banyak? tanya Abdul lagi.
"Lumayan, Gan. Apa lagi beberapa tengkulak juga nyicil hutangnya juga. Walau nggak Banyak tapi mending lah daripada sama sekali nggak bayar." balas Anto sambil menyerahkan beberapa nota hutang kepada Abdul.
Mereka pun kembali fokus membaca, mencatat dan menghitung cacatan keuangan mereka hingga tak terasa suara adzan maghrib pun berkumandang. Mereka segera mengangkhiri pekerjaannya.
Raja dan yang lain pun sholat berjama'ah di rumah Raja dengan Abdul bertindak sebagai imam. Setelah selesai, Raja mengajak makan malam kedua anak buahnya di luar sekalian mengantar motor Sania.
"Pak, sudah ngomong sama Raja belum?" tanya Lastri begitu melihat Raja pergi dengan Anto dan Kirno.
"Ya ampun, Pak! Tinggal ngomong doang apa susahnya sih," protes Lastri.
"Tadi kan ada Anto dan Kirno. Masa ngasih tahu rencana keluarga di depan orang lain. Nggak etis lah, Bu." ucap Abdul berasalan.
Lastri hanya mendengus kemudian dia pergi meninggalkan Abdul menuju kamar.
Raja, Kirno serta Anto berhenti di warung mie ayam langganan mereka. Berhubung Raja pakai motor Sania, maka untuk sementara Anto memakai motor Raja dan Kirno membawa motornya sendiri. Mereka pun menikmati mie ayam sembari ngobrol berbagai macam topik.
Tak lama kemudian, begitu selesai menikmati mie ayam. Mereka bertiga langsung cabut menuju rumah Sania.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah Sania dan mereka di sambut oleh Abah Mudin.
"Ini Bah, Raja nganterin motor Sania. Takutnya dia ada perlu malah bingung nggak ada motor." ucap Raja begitu salamnya di jawab Abah Mudin.
"Oh iya, Ja. Makasih ya? Tapi maaf, Sania lagi ada dirumah itu, lagi bantu bantu." balas Abah sambil menunjuk rumah yang sedang hajatan.
"Nggak apa apa, Bah. Ini juga aku mau langsung pamit." ucap Raja.
"Oh ya udah. Nggak mau mabuk mabukan lagi kan?" tanya Abah setengah meledek.
"Enggak lah, Bah." balas Raja sambil cengengesan. "Ya udah, Bah. Raja pamit dulu."
"Baiklah, Apa bapakmu sudah ngomong sama kamu?"
Raja tertegun dan tak jadi melangkah. "Bapak? Bapak tadi kesini Bah?"
"Iya, dia ngomong nggak sesuatu sama kamu?" balas Abah.
"Nggak, Bah. Ngomong apaan sih, Bah?" tanya Raja penasaran.
"Oh. Ya udah nanti kamu tanya Bapak kamu aja."
"Baik, Bah. Kalau gitu aku pamit, Bah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Dan Raja serta yang lain pun pergi meninggalkan kediaman Abah Mudin. Dalam perjalanan, Raja pun bertanya tanya. Apa yang Abah dan Bapak omongin tadi? Apa ada hubungannya Kyai Bahar? Kalau iya, awas aja!
...@@@@@...