
Mendengar penuturan Abdul tentu saja membuat Sania tercengang. Dia bahkan sejenak menghentikan makannya karena mendengar hal tersebut.
"Yang bener, Om?" Tanya Sania mengharap kepastian dari apa yang baru saja dia dengar.
"Iya, nanti kamu tidur bareng Rumi. Kalau mau tidur sendiri, itu ada kamar kosong bekas kakaknya Raja," balas Abdul semakin menguatkan kalau berita itu memang benar.
Raja yang mendengarnya ingin sekali rasanya bersorak dan melompat lompat. Hatinya begitu girang mendengar wanita pujaannya akan tinggal bersama dia. Namun berhubung dia dalam mode pura pura marah, sebisa mungkin dia menahan rasa senangnya. Dia terus saja makan seakan akan tidak peduli dengan apa yang dia dengar.
"Tapi Om, apa nanti nggak ngerepotin?" Tanya Sania merasa tak enak hati.
"Hust, jangan ngomong kayak gitu. Kita nggak merasa di repotkan. Tante malah seneng bisa membantu, Sania," balas Lastri.
"Lagian Abahmu ya nggak bakalan tega lah ninggalin kamu tinggal di rumah sendirian. Kalau siang kamu boleh balik dan mengurus toko, tapi malamnya kamu kesini tidur disini. Biar besok Raja bantuin kamu bawain barangnya," sambung Abdul.
Sania menoleh ke arah pria yang sedari tadi diam nampak asyik dengan makanannya. Sania pun tersenyum kecut. Dia merasa Raja tidak senang jika dia tinggal disini.
"Nanti biar aku ngomong dulu sama Abah ya, Om. Soalnya aku masih kaget aja mendengarnya," balas Sania.
"Silahkan," balas Abdul.
Mereka pun melanjutkan menikmati hidangannya. Hingga beberapa saat kemudian acara makan bersama pun selesai. Setelah makan, mereka pun kembali ngobrol ke hal yang lainnya. Dan tak terasa waktunya Sania pulang pun tiba.
Raja yang biasa sangat antusias mengantar Sania pulang, malam ini malah terkesan membiarkan Sania pulang sendirian. Dia bahkan dengan sengaja tidak menanggapi ucapan pamit Sania.
"Abang masih marah sama Sania?" Tanya Rumi begitu motor Sania sudah menjauh dari halaman rumahnya.
"Nggak," balas Raja singkat.
"Nggak marah tapi kok sikapnya ke Sania dingin banget. Dia pasti salah paham tuh melihat sikap cueknya Abang," Raja mengerutkan keningnya dan menatap sang adik.
"Sania pasti merasa Abang tidak suka kalau dia nginep disini, makanya dia akan kembali negosiasi dengan Abah Mudin. Dari tadi sore juga dia sudah terlihat tidak nyaman melihat sikap Abang. Kasian tahu, Bang. Kelihatan banget kalau dia tuh benar benar merasa bersalah, eh Abang malah kayak gitu, kayak anak kecil,"
Cibiran Rumi membuat hati Raja sedikit tersentil. Dia pun mendadak kepikiran dengan sikapnya terhadap Sania. Niat hati hanya ingin mengerjain tapi dia berpikir, apa sikapnya keterlaluan. Sedangkan Raja tahu, perempuan paling mudah salah paham hanya karena sikap. Sama seperti Pipit dan Nunik kepadanya.
Sementara di tengah jalan, Sania yang sedang santai melajukan motornya dikejutkan dengan suara teriakan dari motor yang melaju lumayan kencang di sebelahnya.
"Woi! berhenti kamu!" Teriak seseorang dari atas motor ke arah Sania. Tentu saja Sania bingung. Dia tidak merasa kenal dengan orang itu namun orang itu malah menyuruhnya berhenti.
Merasa diabaikan, orang yang tadi berteriak melajukan motornya lebih kencang sedikit hingga menghalangi laju motor Sania. Sania pun tentu saja menjadi panik, mau tak mau dia memelankan motornya, menepi kemudian berhenti. Sementara motor yang menganggunya juga ikutan berhenti dan dia segera beranjak ke arah Sania.
"Kamu siapa?" Tanya Sania heran sembari menatap orang yang terlihat marah kepadanya.
"Turun kamu!" bentaknya. Sania pun menurutinya. Begitu Sania turun dari motor, tiba tiba orang itu mencengkram kerudung Sania bagian belakang dan menariknya. Sontak saja Sania kaget.
"Eh perempuan sok suci! Jangan pernah kamu deket deket sama Raja yah? Kamu tahu, Raja sama aku tuh udah berhubungan lama, kamu mau jadi pelakor?"
Tentu saja Sania kaget mendengar ucapan perempuan tersebut. Sania segera saja bertindak. Dia tidak mau kalah. Segera saja tangannya terjulur menarik rambut perempuan itu.
"Heh! Siapa juga yang sengaja deketin Raja. Pede banget jadi perempuan. Ambil sana Raja kalau dia mau sama kamu!" bentak Sania tak mau kalah.
"Eh kamu nantangin?" ucap perempuan itu semakin tak terima.
"Iya, kenapa? Dipikirnya aku takut apa sama kamu?" balas Sania
Dan perkelahian dua perempuan itu pun terjadi di tepi jalan. Saling jambak dan saling adu mulut tak bisa terelakkan hingga mengundang warga sekitar dan beberapa pengguna jalan turun tangan melerainya.
...@@@@@...