
Tak lama kemudian suara adzan maghrib pun berkumandang. Kali ini tanpa menunggu perintah, Raja langsung memposisikan menjadi imam. Awalnya Jani heran melihat perubahan sikap sang adik. Namun setelah mendapat bisikan dari Rumi, Jani pun mengerti kenapa sang adik berubah alim begini. Senyumnya pun tersungging.
Dan seperti malam malam sebelumnya, setelah sholat selesai, kembali Rumi dan Raja belajar ngaji dengan Sania. Kali ini Fatar sang keponakan juga berada disana. Sementara Ibu dan Jani berada di dapur menyiapkan makan malam sedangkan Bapak dan suami Jani memilih pergi ke masjid.
"Bu, itu si Raja serius? Bisa berubah kayak gitu?" tanya Jani sembari meracik adonan bakwan.
"Ya seperti yang kamu lihat. Sejak beberapa hari ini adik kamu banyak perubahan," balas Ibu sambil memindahkan nasi dari rice cooker ke wadah khusus nasi.
"Syukurlah, kalau itu anak mau berubah. Udah tua, jangan mikir senang senang terus," ucap jani.
"Yah, ibu harap sih adikmu selamanya kayak gini, Jan.Hati Ibu tenang melihatnya." ucap ibu.
"bu, kenapa kita nggak lamar Sania aja buat Raja?" usulan Jani membuat Sang Ibu terperangah. Beliau pun duduk di kursi meja makan setelah menaruh nasi.
"Penginnya Ibu juga gitu, Jan. Tapi bapak kamu nggak percaya diri. Ya semua itu juga karena faktor kelakuan Raja jadi bapakmu nggak berani," tutur Ibu.
"Ya dicoba aja dulu, Bu. Tapi jangan bilang sama Raja. Kalau seandainya di tolak, tu anak jadi nggak kecewa banget," Ibu mencerna usulan anak sulungnya dan usulan itu tidak ada salahnya.
"Ya udah, ntar Ibu coba bicarakan sama Bapak," ucap ibu akhirnya. Mereka pun kembali melanjutkan kegiatannya. Sedangkan di tempat sholat, sesekali terdengar suara tawa dari Fatar yang seakan akan mengejek Raja karena Raja sering melakukan kesalahan saat membaca ayat demi ayat yang ditunjuk Sania.
Tak lama kemudian, waktu isya pun datang. Seperti biasanya, Raja dan yang lain sekalian melakukan sholat isya berjama'ah dan lagi lagi Raja didaulat sebagai imam.
Setelah sholat isya selesai, mereka pun menuju meja makan setelah mengemas peralatan sholat. Tak lama berselang, Bapak dan Kamal pun datang bersamaan.
"Wah, sudah pada ngumpul nih," ucap Bapak yang langsung duduk. Begitu juga dengan sang menantu.
"Wuih! Eyang masak udang? Mah, Fatar makan sama udang lah." Celoteh Fatar yang duduk di dekat Mamahnya.
"Makan sendiri yah? Udangnya udah dikupasin ini?" tawar Jani dan Fatar pun mengangguk.
"Lauknya kayak lagi banyak banget apa ya, Bu?" tanya Rumi yang merasa heran. Karena dihadapannya saat ini ada udang balado, bandeng goreng dan beberapa lauk lainnya.
"Ya seperi yang kamu lihat, Rum," Jani yang menjawabnya.
"Makan yang banyak, San." ucap Abdul.
"Iya, Om. Ini udah juga udah banyak," balas Sania canggung.
Mereka pun mulai menyantap hidangan yang ada. Sesekali obrolan pun terjadi diantara mereka sambil menikmati santapannya. Hingga tak terasa, acara makan bersama pun selesai.
Rumi langsung mengajak Sania ke kamarnya karena memang Sania kan tidur bersama dia. Sedangkan Raja memilih ngobrol bersama Bapak Ibu serta jani dan suaminya diruang tengah.
Obrolan mereka pun diwarnai seputar usaha yang mereka geluti. Suami Jani juga punya usaha sendiri si bidang furnitur dan mode. Sementara di dalam kamar, Sania dan Rumi juga sedang mengobrol.
"Itu yang kamu tadi ceritakan tentang Nunik apa itu benar, Rum?" tanya Sania sambil melihat beberapa koleksi foto Rumi dalam sebuah album.
"Iya, Mbak," jawab Rumi sambil memainkan ponselnya.
"Emang gimana ceritanya, Rum? Kok bisa gitu?" tanya Sania. Entah kenapa dia jadi penasaran dengan kehidupan Raja dengan wanita wanita yang mengaku punya hubungan dengan pria itu.
Rumi pun menghentikan bermain ponselnya, kemudian dia menceritakan kejadian yang antara Raja dan Nunik secara detail dari awal sampai akhir. Sania hanya menanggapi semuanya cerita itu dengan mengangguk ataupun menggeleng.
"Kok bisa kayak gitu ya, Rum? memanfaatkan kebaikan orang untuk kepentingan pribadi," ucap Sania begitu Rumi selesai bercerita.
"Ya begitulah, Mbak,"
"Tapi kok kenapa aku yang selalu dituduh sebagai penyebab Raja tidak mau bersama mereka? Dari Pipit hingga Nunik?" tanya Sania heran.
Rumi pun sontak tersenyum seketika. "Ya karena mereka tahu, Bang Raja itu sudah lama suka sama Mbak Sania."
"Apa!"
...@@@@@...