
Raja melajukan motornya dengan pelan. Sepanjang jalan senyummya terkembang. Sebenarnya rumah Sania masih satu kampung dengan Raja, cuma kampung mereka lumayan luas. Rw Raja di ujung utara sedangkan Rw Sania di bagian selatan. Membutuhkan waktu sekitar lima belas menit jika membawa motor dengan laju sedang.
Di jok belakang, Sania pun hanya terdiam. Dia benar benar menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Raja. Melihat pria di hadapannya, Sania jadi teringat kejadian beberapa tahun silam.
Dulu saat dia berusia enam belas tahun dan baru pulang dari pondok, Sania tak sengaja bertemu Raja pada pertandingan sepakbola antar Rw yang diadakan oleh pemuda kampung dalam memeriahkan hari kemerdekaan.
Sania yang sedang asyik menyaksikan pertandingan bola dan melepas rindu bersama teman temannya tiba tiba di datangi segerombolan anak muda yang usianya tak jauh darinya dan ada Raja diantara mereka.
Dengan berbagai suara, mereka menggoda Sania dan kawan kawan. Niat Raja awalnya hanya ingin kenalan, namun cara mereka mengenalkan diri membuat Sania dan teman teman merasa risih dan jengah.
"Sombong banget. Diajak kenalan aja nggak mau, sok cantik." Cibir salah satu anak muda itu. Sania dan temannya hanya diam tak menanggapi ucapan pemuda itu. Mereka hendak pergi namun Raja dan beberapa temannya malah menghadang.
"Mau kemana cewek belagu? Berjilbab tapi di ajak kenalan sok sokan." Ucap Raja menatap tajam Sania dengan seringai jahatnya.
"Palingan berjilbab buat nutupin kedok doang tuh, biar dikatakan alim." Ucap yang lain dan semuanya tertawa.
"Bisa minggir nggak!" Bentak Sania yang sudah merasa muak dengan Raja dan kawan kawan.
"Kalau aku nggak mau, kalian mau apa?" Tantang Raja.
"Kalian apa apaan sih? Ganggu orang aja, nggak ada kerjaan apa gimana?" sungut salah satu teman Sania.
"Justru karena kita nggak ada kerjaan makanya kita di sini mau ngerjain kalian wanita wanita angkuh." Balas teman Raja dan mereka serentak tertawa.
"Angkuh apaan? Orang ngajak kenalan kok maksa." Balas teman Sania yang lain.
"Maksa bagaimana? Kita udah tanya baik baik tadi kan? Tapi kalian malah memandang kita dengan tatapan jijik." Ungkap Raja.
"Loh kita juga nolak baik baik, kalian aja yang terus nyindir nyindir kayak mulut perempuan. Laki laki kok gitu?" Balas rekan Sania.
"Udah yuk ah, kita pulang. Nggak enak dilihat yang lain tuh." Tunjuk Sania dan mereka segera menerobos gerombolan Raja.
"Jangan kurang ajar deh kalian? Sini kembalikan!" Bentak Sania berang sembari berusaha merebut kerudung dari tangan Raja.
Raja bukannya segera memberikan kerudung itu malah mengangkatnya tinggi tinggi dN semakin meledek Sania.
"Ambil kalau bisa." Ledek Raja dan semua temannya menertawakan Sania.
Sania yang begitu geram secara reflek menendang betis Raja hingga Raja kesakitan.
"Aduh, sialan, brengsek. Kamu mau main kasar, Hah!" Bentak Raja. Sania bukannya takut malah semakin memberi perlawanan.
"Jangan kayak banci deh, beraninya sama cewek." Ejek Sania pedas.
Raja yang awalnya hanya akan meledek malah terpancing emosinya.
"Jadi kamu nantangin?" Ucap Raja sembari tersenyum sinis.
"Kembalikan sini kerudungku! Nggak perlu banyak omong!" Hardik Sania. Raja kembali tersenyum sinis.
"Oke! Nih, ambil?" Ucap Raja sembari mengulurkan tangan yang memegang kerudung.
Sania yang tak mencurigai apapun seketika mengulurkan tangannya juga hendak merebut kerudung itu. Namun naas, Raja melempar kerudung ke arah belakangnya dan menarik tangan Sania hingga perempuan itu oleng dan jatuh menempel pada tubuh Raja. Tangan Raja segera beraksi. satu tangan memegang pinggang Sania dan satu tangan memegang kepala belakang Sania kemudian Raja memajukan kepalanya dan
Cup.
Raja menempelkan bibirnya pada bibir Sania dalam waktu yang cukup lama.
...@@@@@...