
cuplikan bab karya baru.
"Hiks.. hiks.."
Suara lirih sebuah tangisan terdengar menggema dalam satu ruangan terkunci. Hingga suara isak tangis itu menyadarkan seseorang yang sedang terlelap di atas ranjang tepat di sebelah orang yang tersedu.
Mata yang terpejam mengerjap perlahan terbuka. Satu tangannya memegang kepala yang terasa berat dan sangat pusing.
Saat mata itu terbuka lebar, sang pemilik mata langsung memicing melihat seseorang disebelahnya menangis menutup wajah pada kedua lututnya dengan tubuh dibalut selimut. Setelah memperhatikan lebih teliti, mata itu langsung membelalak dan dia segera bangkit.
"Jamal! Apa yang kamu lakukan di kamarku? Kenapa kamu menangis disini?" tanya orang yang baru saja terbangun dari tidurnya dengan wajah yang begitu terlihat syok dan bingung.
Orang bernama Jamal itu pun menoleh dengan mata memerah juga air mata yang berderai. Matanya menatap tajam orang yang baru bangun tersebut.
"Apa yang aku lakukan di kamar Non Selin? Apa Non Selin nggak salah bertanya? Atau Non Selin pura pura lupa?" ucap Jamal sinis. Tatapnya menyiratkan penuh kebencian.
Seseorang bernama Selin itu pun nampak bingung dengan apa yang terjadi. "Wajarlah aku bertanya? Kamu lancang masuk ke kamarku dan kamu menangis di atas tempat tidurku."
Jamal menatap tajam anak majikan itu. "Apa Non Selin lupa, apa yang Non Selin perbuat semalam? Apa harus aku yang mengingatkan apa yang terjadi diantara kita?"
Selin terperangah. Pikirannya langsung bekerja mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Namun sayang, kepalanya yang terasa pusing membuat dia susah untuk mengingatnya hingga akhirnya dia pun menggeleng sebagai jawaban kalau dia tidak ingat apapun yang terjadi.
Jamal menghapus airmatanya, dengan dada yang sangat bergemuruh Jamal pun berkata dengan sangat lantang, "Aku telah ternoda. Kebujanganku telah hilang di renggut oleh Non Selin. Puas!"
Selin kembali membelalak. Kedua tangannya sontak menutup mulutnya yang membulat. "Bagaimana bisa?" tanya Selin antara percaya dan tidak percaya.
"Non Selin lihat ini?" tanya Jamal sambil menunjuk tangan kiri yang terikat pada tiang ranjang. "Non Selin mengikat saya dan melucuti semua pakaian saya. Non Selin mengancam saya dan Non Selin membuka semua pakaian saya dan juga pakaian Non Selin. lihat!"
Selin pun langsung melihat dirinya sendiri dan lagi lagi hanya rasa terkejut yang dia tunjukan. "Bagaimana bisa?" ucapnya gugup.
Selin kembali mencoba mengingat dan pada akhirnya kejadian semalam pun berhasil dia ingat. Selin di jemput Jamal dan pulang dalam keadaan mabuk berat. Selin antara sadar dan tidak sadar berkeluh kesah dan menggoda Jamal karena rasa frustasi akibat ulah orang tua dan kekasihnya. Selin pun mengingat semua saat mengikat tangan Jamal dan memaksa Jamal melakukannya dengan memberi ancaman Jamal akan dipecat jika tidak mau nurut.
"Ya udah kamu berhenti nangis dong, Mal. Harusnya yang nangis itu aku. Aku juga kehilangan apa yang seharusnya aku jaga dan kamu yang merenggutnya." protes Selin bersungut sungut. Dirinya pun kini diliputi rasa panik. Dia bahkan menarik selimut yang sedang digunakan Jamal untuk menutupi tubuhnya. Mata Selin membulat saat melihat tubuh polos Jamal meski posisi Jamal duduk dengan menekuk kedua kakinya.
"Ya itu semua karena salah Non sendiri. Coba kalau Non Selin nggak maksa aku pake ngiket tangan segala kayak gini." ucap Jamal membela diri dan kembali menarik selimut secara paksa dari tangan Selin.
"Kenapa kamu nggak lawan? Harusnya kamu lawan, orang aku lagi mabuk malah kamu pasrah," Oceh Selin semakin kesal. Dia pun kembali menarik Selimut itu.
"Gimana mau ngelawan? Mana aku berani, Non. Non Selin mengancam akan memecatku jika aku nggak nurut. Coba kalau aku dipecat? Orang baru kerja lima hari udah dipecat. mau ditaruh dimana mukaku, Non." balas Jamal kembali menarik selimut itu.
"Kenapa jadi rumit gini sih, Mal? sekarang aku sudah ternoda, mana ada laki laki yang mau sama aku, Jamal?" pekik Selin frustasi. Bahkan dia akhirnya menyerah dari berebut selimut dengan Jamal.
"Bukan Non saja yang bingung. Aku juga bingung. kebujanganku juga hilang Non. dan jika Non hamil, gimana nasib aku coba? Bisa bisa tuan murka. Apa yang harus aku perbuat Non?"
"Hamil? Berarti kamu sampai ngeluarin di dalam?" tanya Selin dengan mata membelalak.
Jamal pun mengangguk, "Katanya enak kalau keluar di dalam."
Selin sontak saja langsung mendelik.
"Tuh! Bekas darah Non Selin," tunjuk Jamal pada seprei putih milik Selin. Dan tentu saja mata Selin kembali membulat tak percaya.
"Kenapa bisa jadi begini? Argggghhhh!"
Dan setelah berdebat, keduanya saling diam dengan pikiran yang sangat kacau. Sungguh ini diluar dugaan namun semua sudah terlanjur. Entah apa yang akan terjadi kedepannya pada mereka. Yang pasti keduanya saat ini hanya termenung kebingungan.
########
Gimana gengs? Seru nggak? Penasaran dengan kisah mereka? ikuti yuk di karya baru othor, udah edar loh gens