
Setelah keduanya mandi serta bersuci, sepasang pengantin baru itu pun melakukan sholat subuh berjama'ah di kamarnya. Seperti mimpi yang menjadi nyata, Raja benar benar menjadi imam untuk seseorang yang dia impikan sejak lama. Bahkan Raja masih tidak percaya saat Sania mencium pungggung tangannya usai sholat dan melantunkan doa doa terbaik dan di aamiinkan oleh Sania. Sungguh kebahagiaan penuh syukur memenuhi relung hatinya.
"Bang, aku ke dapur dulu yah? Abang mau dibikinin teh apa kopi?" tanya Sania begitu mereka selesai sholat.
"Teh aja, Dek. Kalau ada sekalian cemilan ya?" pinta Raja sembari merebahkan kembali badannya meski masih memakai baju koko dan sarung.
"Baiklah," Sania pun keluar kamar meninggalkan Raja yang tersenyum melepasnya.
Begitu Sania sampai dapur, ternyata disana sudah ada Umi dan Airin sedang menyiapkan bahan bahan untuk sarapan. Sementara saudara saudara yang lain pada bercengkrama di ruang tamu.
"Mi, udah ada teh hangat apa?" tanya Sania.
"Udah, tuh di meja." balas Umi. Sania pun bergegas mengambil gelas terus melangkah menuju meja makan.
"Raja sudah bangun, San?" tanya Airin yang sedang sibuk memotong sayur.
"Sudah, Mbak." balas Sania sembari membuat teh manis dan menyiapkan satu toples biskuit.
"Nggak di suruh gabung sama yang lain?" tanya Airin lagi.
"Mungkin nanti, Mbak." balas Sania sembari berlalu menuju kamarnya dengan tangan membawa nampan berisi segelas teh manis dan setoples biskuit.
"Lagi ngapain sih, Bang?" tanya Sania begitu masuk ke dalam kamar.
Raja pun mendongak sejenak manatap istrinya. "Ini, ngasih tahu orang gudang siapa saja yang hari ini minta dikirimin bandeng. Udah tahu aku libur, masih saja pesan bandengnya ke Abang."
Sania pun manggut manggut. "Aku mau bantuin Umi masak dulu ya, Bang. Abang kalau butuh apa apa panggil aja"
"Iya, Dek."
Setelah mendapat ijin, Sania pun kembali ke luar kamar menuju dapur lagi.
"Cielah, pengantin baru. Jam segini baru keluar kamar aja." ledek Amar begitu melihat Raja mendekat bersama Sania ke arah meja makan.
"Lembur dong, Mar. Biar sekalian capek katanya," celetuk saudara sepupunya.
"Pastinya, langsung gaspol tanpa kendor." sambung yang lainnya hingga semuanya terbahak. Raja yang diledek hanya bisa senyum senyum. Sedangkan Sania, wajahnya sudah sangat merah menahan malu. Dia bahkan tak segan mencubit lengan Abangnya.
Suasana sarapan benar benar nampak begitu hangat. Kedatangan anggota keluarga baru semakin menambah keseruan dalam keluarga besar Sania.
Hingga menjelang siang, suasana ramai itupun berangsur angsur menyusut saat satu persatu keluarga besar Sania pulang ke kampungnya masing masing. Begitu juga keluarga Amar dan Airin. Mereka turut serta pulang.
Dan kini sore telah menampakkan kuasanya. Bahkan sore sedang beranjak menuju senja dimana waktu maghrib sebentar lagi datang. Setelah semua keluarganya pulang, Raja membantu sang istri beres beres rumah dan merapikannya. Di depan rumah tenda dan panggung pernikahan pun sudah selesai di bongkar. Tak lupa, Abah dan Umi pun membagi sedikit rejeki kepada tetangga yang dengan suka rela membantu terlaksana acara pernikahan anaknya.
Waktu benar benar cepat berlalu. Kini Malam telah bertahta menyelimuti langit. Setelah makan malam, Raja memilih ngobrol bareng Abah Mudin di teras rumah.
"Setelah menikah, rencana kamu kedepannya apa, Ja?" tanya Abah setelah menyesap sedikit kopi yang udah agak dingin.
"Yah, nggak ada rencana istimewa, Bah. Tetap seperti biasa. Paling cuma tambahan kios itu buat Sania, biar dia nggak suntuk terus terusan di rumah." terang Raja.
Abah pun nampak manggut manggut. "Yah, Abah sih cuma berharap, rumah tangga kalian berjalan sesuai apa yang kalian harapkan. Kalau pun ada masalah, mending cepat cepat dibicarakan. Jangan biarkan berlarut larut. Nanti efeknya nggak baik." ucap Abah menasehati.
"Baik, Bah." balas Raja.
Merasa sang istri tidak keluar dan bergabung bersamanya, Raja pun mohon diri untuk masuk ke dalam rumah. Firasat Raja, sang istri pasti berada di kamarnya. Dan benar saja, begitu Raja membuka pintu kamar, sang istri sedang berbaring memunggunginya. Raja pun perlahan masuk dan menutup pintu kemudian langsung berbaring dan melingkarkan tangan di pinggang sang istri.
"Abang!" pekik Sania kaget.
...@@@@@...