Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 71



"Wah, bau enak nih, masak apa sih, Bu?" Suara seorang perempuan bergelar ibu muda terdengar menggema memenuhi ruangan dapur dan tengah. Gema suara itu mengagetkan seorang ibu yang sedang mengaduk masakan hingga ibu itu menoleh.


"Eh, Jan. Sendirian?" tanya sang Ibu kepada anak sulungnya.


"Sama Fatar dan Mas Kamal, Bu. Fatar lagi jajan itu di depan," Jawab sang anak sembari melongok ke dalam wajan, "Wuih, udang balado. Tumben, Bu masak banyak?"


Sekilas sang ibu tersenyum, "Ide nya Raja ini, minta dimasakin spesial."


"Raja?" Tanya Jani memastikan. Sang ibu mengangguk dan Jani sontak terbahak, "Lagi kumat apa tuh bocah, Bu? Aneh aneh aja."


"Yah, ini semua karena anak Abah Mudin mau menginap disini, jadi Raja berpesan, tamu harus diperlakukan spesial. Dia yang punya keinginan malah ibu yang dibikin repot begini," dumel ibu.


Jani seketika terperangah meski tawanya juga ikut pecah, "Anak Abah Mudin nginep disini? Siapa, Bu?"


"Sania," Lagi lagi Jani terperangah mendengar jawaban ibu. Namun tak lama kemudian bibir Jani mengulas senyum.


Jani tahu betul kalau sang adik memang sudah lama menyukai wanita itu. Bahkan pernah suatu kali, Raja datang ke rumahnya dalam keadaan mabuk dan terlihat sangat frustasi. Saat itu Raja cerita, dia sangat bingung dan kehabisan akal buat meluluhkan hati Sania. Raja bahkan sempat menangis tergugu dan merasa lelah dengan pengejaran yang dia lakukan. Namun hati dan ucapan Raja beda haluan.


Jani lah yang dulu sering kasih semangat sang adik agar jangan menyerah jika memang niatnya baik. Dan karena nasehat sang kakak lah, sampai detik ini Raja berjuang dan sepertinya perjuangan Raja ada secercah harapan kali ini. Itulah kenapa, meski sempat kaget, Jani pada akhirnya mengulas senyum.


"Eh, Mbak Jani, Fatar mana?"


Jani menoleh ke sumber suara. Keningnya mengernyit dan seketika terbahak, "Ya ampun, ini Raja? wow, kenapa kamu mendadak jadi alim gini sih?"


"Apaan sih Mbak. orang biasa kayak gini kali, Mbak Jani aja yang nggak pernah lihat," kilah Raja bersungut sungut.


"Jangan percaya, Mbak Jani. Ini karena Bang Raja lagi modus aja sama seseorang," ucap Rumi tiba tiba. Entah sejak kapan itu anak sudah ada diantara mereka.


"Ini lagi, pulang kuliah bukannya salam apa gimana, malah jadi kompor," sungut Raja. Dia segera berbalik badan dan melangkah meninggalkan ketiga perempuan yang sedang menertawakannya.


"Eh ada Om Raja," ucap sang keponakan begitu Raja sampai di teras depan rumah.


"Eh ada Fatar," balas Raja.


"Mau kemana, Ja? Tumben jam segini rapi?" Lagi lagi ada yang heran melihat penampilan Raja. Sekarang giliran sang kakak ipar.


"Mau ke rumah Abah Mudin, Bang,"


"Mau ngapain?"


"Ada perlu aja, Bang," ucap Raja. Terpaksa Raja berdusta. Yang ada nanti kena ledek lagi dia.


"Om, Fatar ikut dong," pinta sang ponakan.


Tak butuh waktu lama, motor pun melaju meninggalkan halaman rumah. Raja mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Selain karena ada Fatar yang ada di depannya, dia juga tidak mau terlihat terburu buru meski hatinya sangat ingin sampai di tempat tujuan secepatnya.


Beberapa menit kemudian, motor yang dkendarai Raja sampai di halaman rumah yang dituju. Keduanya sontak turun. Bersamaan dengan itu Sania pun keluar dari rumah dengan menentenga godie bag.


"Eh ada siapa ini?" sapa Sania begitu melihat santrinya.


"Beri salam sama ustadzah dong, Tar," perintah Raja.


"Assalamu'alaikum ustadzah," sapa Fatar sembari mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Wa'alaikum salam, duh pinternya," balas Sania riang, Raja pun ikutan tersenyum melihatnya.


"Sudah siap?" tanya Raja.


"Sudah," balas Sania sedikit canggung.


"Mending kita jalan sekarang, yuk," ajak Raja dan Sania pun mengangguk.


Setelah Sania mengunci pintu, dia menyusul Raja sang sudah menunggu di atas motor. Begitu Sania sudah duduk di jok balakang, motor pun mulai melaju meninggalkan rumah Sania.


Dalam.perjalanan, Fatar merengek minta jus mangga. Terpaksa Raja mencari penjual jus. Beruntung tak perlu jalan jauh, Raja langsung menemukan pedagang jus.


Bukan hanya Fatar yang di belikan. Raja juga beli buat Sania dan yang lain yang ada di rumah. Saat mereka lagi menunggu tiba tiba ada yang memanggil Raja.


"Raja?"


Faja pun menoleh, "Eh Yoga? Wuih apa kabar?"


"Baik, kamu sendiri?" balas orang itu yang ternyata teman lama Raja.


"Yah seperti yang mamu lihat," ucap Raja.


Mata Yoga sedikit menyipit saat melihat wanita dan seorang bocah berdiri disebelah Raja. Yoga meengingat ingat wanita karena merasa kenal. Dan beberapa detik kemudian matanya berbinar.


"Kamu sudah nikah? Wahh, tapi entar dulu, bukankah ini Sania? Wuih mantap, akhirnya cintamu terbalas juga, Ja."


Deg


...@@@@@...


Aneh, padahal yang tanya judul udah aku jawab tapi kok jawabannya pada ilang yah? kayaknya nggak di ijinin promo deh karena beda tempat. Dan yang masih setia dengan juragan empang, jangan lupa dukungannya juga. Semoga kalian tidak lelah mengikuti kisah ini. Dan makasih juga buat yang sudah bantu merekomendasikan karya ku ini ke temen yang lain. Makasih semuanya.