
Setelah sekian menit berlalu, Raja kini sudah terlihat sedang ngobrol dengan kedua orang tuanya. Obrolan itu di dominasi tentang perkembangan tambak bandeng dan udang yang mereka kelola. Selebihnya adalah obrolan tentang kehidupan.
Berhubung waktu mulai merangkak menuju larut, ketiganya pun terpaksa menghentikan obrolan mereka dan masuk ke dalam rumah menuju kamar masing masing. Sedangkan sang adik nampaknya sudah berada di dalam kamarnya sejak tadi. Karena sebelum masuk kamar setelah Sania pulang, Rumi berkata kalau dia mau mengerjakan tugas kuliahnya.
Sesampainya di dalam kamar, seperti biasa, Raja mencopot semua yang menempel di badannya kecuali celana boxer. Dia pun mulai merebahkan badannya di atas ranjang. Ponsel yang tadi tak sempat dia bawa, diambilnya dari atas meja. Di bukanya kunci layar dan pilihnya aplikasi chat berwarna hijau. Satu persatu dia membaca chat yang masuk.
Isi pesan chat tersebut kebanyakan dari para pedagang bandeng dan udang dari berbagai daerah yang menanyakan stok barang dan pesan chat dari teman teman yang berisi nada protes dan keluhan karena malam ini Raja tidak hadir dalam acara dangdutan di rumah juragan Kadir.
Diantara puluhan chat yang masuk, ada satu chat yang membuat Raja tiba tiba mengulas senyum. Tentu saja chat itu datang dari nomor wanita yang membuat hatinya jungkir balik sejak lama. Meski chat itu cuma berisi kata "Bang," namun kata itu cukup ampuh membuat hati Raja berbunga bunga. Raja pun segera saja membalas pesan chat ke nomer kontak bernama Dedek Sansan dengan lambang tiga hati.
"Iya, Dek," balasnya dan langsung dia kirim pesan tersebut. Sambil menunggu balasan, Raja pun membalas beberapa pesan dari yang lainnya. Raja juga tidak terlalu berharap Sania membalas pesan chat saat ini karena waktu sudah malam. Bisa saja Sania sudah tidur. Toh pesan yang Sania kirim tertera waktu lebih dari lima belas menit yang lalu.
Namun pikiran Raja meleset. Saat dia asyik membalas pesan chat yang lain, terlihat pemberitahuan kalau Sania membalas pesan chatnya. Bergegas jempol Raja menyentuh pesan itu dengan senyum bahagia.
"Kirain sudah tidur?" balas Sania dalam pesan chatnya. Raja pun bergegas menekan simbol balas dan mulai merangkai kata kata. Berbalas chat pun dimulai.
"Belum, maaf baru bales, tadi abis ngobrol dengan Bapak dan Ibu," balas Raja.
"Oh, ngobrolin apaan?" balas Sania.
"Ngobrolin rencana pernikahan kita," balas Raja dengan diringi simbol emot tertawa dengan mulut tertutup tangan. Dan Raja sendiri juga cengengesan saat membalas pesan seperti itu.
"Ish apaan sih, Bang. Oh iya, Bang. Makasih ya soal yang tadi," balas Sania.
"Soal yang mana?" balas Raja.
"Soal Bang Raja yang membelaku di depan wanita itu," balas Sania.
"Oh, itu doang?" balas Raja.
"Sama aku mau minta maaf soal kemarin," balas Sania yang diiringi dengan emot tersenyum dengan pipi memerah.
"Soal kemarin? Soal yang mana ya, Dek?" balas Raja pura pura lupa. Pesannya juga dikasih emot wajah sedang berpikir.
"Yang kemarin itu?" balas Sania.
"Yang kemarin yang mana, Dek?" balas Raja masih pura pura tak tahu.
"Ya ampun! Masa lupa? Orang baru kemarin malam juga?" balas Sania. Sejenak Raja terpingkal. Di lihat dari emot yang Sania kirim, perempuan itu sudah nampak kesal karena emot yang dia pakai adalah emot wajah dengan hidung mengeluarkan asap.
"Maaf soal aku yang keceplosan ngatain Abang pemabuk," balas Sania pada akhirnya.
"Emang Dedek Sansan kapan ngomong kayak gitu?" balas Raja sengaja meledek.
"Ya ampun, Abang!" balas Sania. Lagi lagi disertai emot wajah mengeluarkan asap dari hidung sebanyak lima kali.
"Lah? Kenapa? Emang Abang lupa kok," balas Raja dusta sambil cekikikan.
"Tahu ah, yang penting aku udah minta maaf, huu!" balas Sania.
"Udah? Cuma mau ngomong kayak gitu doang?" balas Raja.
"Terus? Ngomong apa lagi?" balas Sania dengan emot wajah yang sedang berpikir.
"Ya kali aja ada yang mau diomongin lagi?" balas Raja.
"Ngomongin apaan?" balas Sania.
"Ya ngomongin tentang perasaan kita misalnya," balas Raja dengan emot wajah tertawa.
"Ih apaan sih, udah ah aku mau tidur, udah malam," balas Sania.
"Yakin? Udahan?" balas Raja.
"Yakinlah, aku tidur dulu, Bang, Assalamu'alaikum," balas Sania.
"Wa'alaikum salam, met bobo, jangan lupa mimpiian Abang ya?" balas Raja.
"Nggak janji, udah jangan dibalas," balas Sania dan berbalas pesan pun berakhir.
Raja meletakkan ponselnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Dengan senyum yang tersungging, Raja mulai memejamkan matanya.
Sementara di rumah dan kamar berbeda. Wanita yang baru mengakhiri berbalas chat, juga memejamkan mata dengan bibir tersenyum.
...@@@@@...