
"Gimana?" tanya Umi saat melihat Airin ikut gabung bantu bantu para ibu membuat hidangan untuk pengajian nanti malam.
"Lagi di bangunin Sania, Mi," balas Airin.
"Rajanya mau pindah?" tanya Umi lagi memastikan.
"Ya aku nggak tahu, Mi. Tadi setelah ngasih tahu Sania, aku langsung pergi mandiin irsyad terus kesini setelah ngasih Irsyad ke ayahnya." balas Airin. Umi pun nampak manggut manggut. Dan saat itu juga Umi melihat Amar lewat.
"Mar!" panggil Umi sedikit teriak.
Amar yang hendak mandi pun seketika menghentikan langkahnya. "Apa, Mi?"
"Itu si Raja udah pindah belum tidurnya? Kasian, dia tidur di mobil pasti nggak enak." ucap Umi nampak khawatir.
"Tadi sih aku lihat dia lagi ngobrol sama Sania di dalam mobil." balas Amar.
"Loh? Kok malah di ajak ngobrol?" tanya Umi terkejut.
"Ya nggak tahu. Ngantuknya udah hilang kali, Mi."
"Ya udah, biarin aja, Sarah. Mereka cuma ngobrol kan? Nggak ngapa ngapain?" timpal Budhe.
"Ya enggak lah, Budhe. Insya Allah mereka tahu batasan batasannya," balas Airin.
"Lagian di depan juga banyak orang yang melihat mereka." balas Amar yang langsung melenggang ke kamar mandi.
Ucapan Amar memang ada benarnya. Di halaman rumah Hindun memang banyak orang. Apa lagi di sebelah rumah itu ada tempat pengajian untuk anak anak. Jadi lumayan rame.
Sementara di dalam mobil, Sania masih berdebat kecil dengan Raja. Raja terlihat menikmati saat saat seperti ini. Bercanda dengan Sania adalah momen yang tak pernah ada dalam perjalanan Raja selama ini.
Entah apa yang hati Sania rasakan saat ini. Namun yang pasti wajah Sania terlihat bersemu karena menahan malu akibat pertanyaan sederhana tapi membuat hati gundah gulana.
Tiba tiba Sania merasa kesal saat Raja memintanya mengenalkan Adiba dengan Raja. Bahkan Sania secara tak sadar membentak dalam menolak keinginan Raja tadi. Sungguh ini benar benar bukan Sania yang sebenarnya.
Dalam pikiran Raja, bisa saja sikap Sania yang baru saja dia lihat adalah sikap cemburu. Apalagi sampai Sania mau berbohong kalau kalau dia dan Sania sedang pacaran. Sungguh sikap Sania yang satu ini membuat Raja senang tak terkira. Raja menganggap langkah awal untuk meluluhkan Sania sedikit berhasil.
"Kenapa diam sih, Dek? Terus kenapa wajahnya hadap sana?" tanya Raja dengan nada meledek.
"Tahu ah, Bang. Cepet ini pintunya buka!" rengek Sania frrustasi.
"Ya makanya jawab dulu pertanyaan Abang. Orang pertanyaan mudah kok. Masa nggak mau jawab?" ucap Raja dengan mata lurus menatap anak anak yang sedang bermain tak jauh dari mobilnya berada.
"Pertanyaan yang mana sih? Perasaan dari tadi pertanyaannya banyak banget?" sungut Sania hingga Raja kembali terlegak.
"Ya hadap sini dong, Dek? Nggak sopan tahu, ngobrol berdua tapi lawan bicaranya dikasih punggung. Kalau ada Abah, pasti kamu kena tegur. Tuh, Abah melihat ke arah sini."
Raja langsung terpingkal pingkal sampai wajahnya maju ke arah setir mobil. Sania pun merasa kesal. Entah dapat keberanian darimana, tiba tiba dia melayangkan tangannya dan mencubit pinggang Raja dengan kuat.
"Aduh! Sakit, Dek. Sakit, Dedek ampun! Sakit!" rintih Raja sembari tertawa.
"Berhenti nggak ketawanya?" ancam Sania galak.
"Iya, iya, Abang berhenti. Udah ya?" pinta Raja sembari memaksa menghentikan tawanya. Sania pun langsung melepas cubitannya.
"Aduh, dek. Sakit banget ini?" keluh Raja sambil mengusap usap pinggang yang tadi dicubit Sania.
"Salah sendiri pake bohong segala," balas Sania sebal.
"Loh? Kenapa aku nggak boleh bohong? Kamu aja bisa bohongin Budhe dan saudara kamu? Masa aku bohong malah kena cubit." protes Raja.
"Ya itu beda cerita. Nggak ada sangkut pautnya." kilah Sania.
"Apa bedanya? Coba katakan, aku pengin tahu dimana letak beda kebohongannya?" tantang Raja.
Lagi lagi Sania terpojok. Dia pun memilih berpaling demi menghindari rasa malu.
"Astaga! Ternyata benar ya? Perempuan itu nggak mau kalah. ish ish ish."
"Udah sih Bang, ini buka pintunya. Bentar lagi ashar," protes Sania.
"Jawab dulu pertanyaan Abang."
"Tahu ah! Ini buka ihh," rengek Sania.
"Iya iya." Balas Raja pasrah. Dengan berat hati dia pun menekan tombol buka kunci otomatis.
"Abang mau mandi nggak?"
"Iya lah,"
"Ya udah ayok turun. Nanti aku tunjukin kamar mandinya."
Raja pun mengangguk dan dia turun dari mobil menuju ke dalam rumah dengan hati riang tak terkira.
"Seenggaknya, aku sudah tahu ini hati kamu, Dek. Tinggal memastikannya. Yesss!" pekik Raja dalam hati.
...@@@@@@...