
Raja terus melajukan motornya. Setelah berbicara panjang lebar kepada perempuan yang mengejarnya, entah kenapa tiba tiba dirinya merasa lapar. Raja memutuskan pergi ke warung mie ayam langganannya buat mengisi perut.
Tak butuh waktu lama, Raja pun sampai ke tempat yang di tuju. Warung mie ayam tersebut letaknya di desa sebelah dan terlihat warung itu masih sepi. Mungkin karena siang hari jadi warung itu tak terlalu ramai. Biasanya warung mie ayam tersebut rame pada sore dan malam hari.
"Mang, biasa yah?" ucap Raja begitu dia memasuki warung tersebut.
"Siap, Juragan," balas pedagang mie ayam yang usianya lebih tua dari Raja.
Setelah memesan, Raja pun langsung duduk di pojokan. Sembari menunggu, Raja mengambil ponsel dan mengecek beberapa chat dan akun media sosialnya. Sementara pesan dari Sania sengaja dia tandai paling atas meski belum dia baca. Dia hanya mengistimewakan kontak gadis pujaannya tersebut.
"Raja!" panggil seseorang dari arah pintu masuk. Raja mendongak dan dia tersenyum saat matanya menangkap sosok yang dia kenal memanggil namanya. Terlihat orang itu mendekat ke arahnya setelah memesan makanan.
"Sendirian kamu, Ja?" tanya orang itu begitu mendaratkan pantatnya pada kursi di hadapan Raja.
"Seperti yang kamu lihat, Zi. Kamu nggak sama pacarmu?" ucap Raja sembari bertanya balik ke seorang bernama Ramzi.
"Tadinya sih hendak berdua, eh dia mendadak ada urusan. Ya udah terpaksa aku makan sendirian," balas Ramzi.
Pesanan Raja pun telah selesai di siapkan dan kini semangkuk mie ayam tersaji dihadapannya. Raja langsung memberi pelengkap mie ayam berupa saus dan sambal kemudian mengaduknya.
"Makan dulu, Zi," ucap Raja begitu mie ayamnya sudah siap dia santap.
"Monggo di enakin aja, Ja,"
Raja pun mulai menikmati semangkuk mie ayam menggunakan sumpit. Tak lama kemudian pesanan Ramzi juga datang. Dia langsung melakukan hal yang sama seperti yang Raja lakukan.
"Gimana masalah kamu dengan Pak kyai? Udah ada titik terang?" tanya Raja di sela sela menikmati mie ayamnya.
"Yah, masih butuh perjuangan keras, Ja. Lumayan susah naklukin Abi," balas Ramzi.
"Terus berusaha, kali aja suatu hari ada keajaiban," saran Raja.
"Pasti lah, Ja. Kamu sendiri gimana dengan Sania?" ucap Ramzi tanya balik.
"Yah, masih lempeng belum ada kemajuan," balas Raja dengan perasaan yang terasa berat. Paling tidak memang itu yang dia rasakan. Ramzi tersenyum sejenak. Dia mengerti dengan apa yang dirasakan sang juragan. Meski beda jalan cerita, keduanya sama sama sedang berjuang.
"Yang ada dia semakin menjauh, Zi. Susah naklukin dia. Apa lagi dari awal aku ada salah sama dia. Makin susah perjuanganku,"
"Kamu punya salah? Salah apaan emang?"
Raja pun langsung menceritakan kejadian beberapa tahun yang lalu hingga kebencian tumbuh di hati Sania. Awalnya Ramzi melongo namun beberapa detik kemudian dia tergelak mendengar kisah miris pria di hadapannya.
"Berarti kamu ngejar Sania udah berapa tahun tuh?" tanya Ramzi setelah ketawanya reda.
"Lebih dari lima tahunan," jawab Raja sembari menerawang.
"Astaga! Setia amat kamu, Ja? Nggak capek nunggu selama itu?"
"Entah, aku sendiri heran. Kok aku bisa begini amat ke Sania. Padahal perempuan yang ngejar aku banyak tapi aku malah nggak berselera, aneh ya?" ucap Raja sembari nyengir sejenak. Begitu juga Ramzi. Dia ikutan nyengir kemudian sama sama melanjutkan makan mie ayamnya.
Obrolan mereka pun berlanjut hingga ke hal lainnya sampai tiba tiba obrolan mereka terhenti saat mata Raja menangkap tiga wanita yang baru masuk ke warung bakso.
"Tuh, orang yang diomongin nongol," ucap Raja dan seketika Ramzi menoleh.
Di dekat gerobag, Sania dan kedua sahabatnya terlihat sedang memesan mie ayam. Sania mengedarkan pandangannya ke sekiling. Dan pandangannya terpaku pada dua pria yang sedang menikmati mie ayam dipojokan.
"Kita duduk dimana nih?" tanya Lita sembari mengedarkan pandanganya.
"Situ aja," tunjuk Sania. Lita dan Mita seketika matanya membulat melihat arah yang ditunjuk Sania.
"Duduk di dekat Raja? Kamu berani?" tanya Mita. Tanpa menjawab, Sania langsung saja melangkah meninggalkan kedua sahabatnya yang melongo.
Raja yang pura pura tidak melihat kedatangan Sania, seketika hatinya menjadi berdetak hebat saat dia melirik sekilas Sania melangkah ke arahnya. Dan jantung Raja semakin terpacu lebih cepat saat Sania duduk tepat di sebelahnya.
"Assalamu'alaikum Mas Ramzi, Bang Raja. kita boleh gabung di sini?"
...@@@@@...
Hai reader, apa kabar, makasih ya sudah setia mengikuti kisah Raja sampai bab ini. Maaf jarang balas komen kalian. Dan buat yang minta crazy up juga maaf belum bisa memenuhi permintaan kalian kalian. Karena di kehidupan nyata aku punya kesibukan lain dan aku juga menulis di tempat lain. Yang penasaran apa judulnya, komen aja, nanti balas. Sekali lagi maaf banget ya reader dan akhir kata saya ucapkan terimakasih atas dukungannya.