
"Assalamu'alaikum Mas Ramzi, Bang Raja. kita boleh gabung di sini?" tanya Sania namun pantatnya sudah mendarat sempurna di kursi sebelah Raja. Lita dan Mita merasa takjub dengan tingkah Sania. Baru kali ini, Sania bertingkah centil begini. Mereka tahu Sania ingin meminta maaf pada pria yang asyik menikmati mie ayamnya tanpa peduli orang orang di sekitar. Lita dan Mia akhirnya mau tak mau duduk di kursi yang ada disitu juga satu meja dengan Raja dan Ramzi.
Sementara Raja, sengaja memasang wajah cuek dan acuh meski hatinya girang bukan kepalang, namun Raja sebisa mungkin menahannya karena dia saat ini sedang dalam mode marah pada guru ngajinya. Raja sengaja memelankan makan mie ayamnya. Selain karena ada kesempatan duduk bersebelahan dengan Sania, dia juga penasaran ingin melihat reaksi Sania saat dia berubah acuh.
"Wa'alaikum salam, duduk aja, San. Silahkan," balas Ramzi. Pria itu hanya menyunggingkan senyum sembari melirik Raja.
"Mas Ramzi datang kesini sengaja bareng Bang Raja apa?" tanya Sania sambil sesekali melirik Raja yang nampak acuh sedari tadi.
"Enggak. Tadi kebetulan waktu aku kemari, Raja sudah disini," balas Ramzi.
"Ustad Ramzi nggak ngajar emang?" tanya Lita.
"Udah selesai. Ini mau pulang tapi lapar jadi isi perut dulu," ketiganya hanya manggut manggut mendengar jawaban Ramzi.
Suasana canggung mendadak menyelimuti mereka. Raja yang biasa rame, kini benar benar diam tanpa suara. Sikap diamnya membuat Sania semakin merasa bersalah. Gadis itu ingin bersuara menyapanya namun tidak ada keberanian. Selain tempatnya lumayan rame, dia juga sudah menyerah terlebih dahulu karena sikap acuh Raja saat ini. Sania hanya bisa sesekali meriliknya dan Raja menyadari hal tersebut namun dia mati matian berusaha menahan gejolak yang meletup letup di dadanya.
Tak lama kemudian, pesanan mie ayam Sania dan kawan kawan pun datang. Dan disaat bersamaan, Raja seketika berdiri. Sania melirik mangkuk Raja yang sudah kosong, ternyata pria itu sudah selesai makan.
"Zi, aku duluan yah? Mau langsung balik ke tambak," ucap Raja dan Ramzi pun mengangguk karena mulutnya sedang menyesap es teh. "Yuk semua!"
Raja segera saja beranjak menuju pedagang mie ayam meninggalkan Sania yang masih menatapnya. Setelah membayar, Raja langsung pergi. Sania menghembus kasar nafasnya. Dia pun mulai menikmati mie ayamnya dengan perasaan tak menentu.
"Sekarang gantian aku yang pamit ya?" ucap Ramzi.
"Oh iya, Ustadz, silahkan," balas Mita.
Setelah mengucap salam, Ramzi beranjak meninggalkan tiga perempuan itu.
"Kenapa kamu diam aja? Katanya mau minta maaf?" tanya Lita di sela sela menikmati mie ayamnya yang lumayan pedas.
"Gimana mau ngomong, Rajanya aja acuh gitu," cicit Sania.
"Wajar sih acuh. Dia masih kecewa pasti. Orang kamu udah dibaik baikin malah ngomong kayak gitu," ucap Lita.
"Ya kan aku nggak sengaja," bela Sania.
"Karma?"
"Iya, dari dulu kan kamu yang sering acuh ke Raja, sekarang anggap aja Raja sedang membalas perbuatanmu,"
Sania tertegun dengan ucapan Lita. Bisa jadi apa yang dia ucapkan benar. Ini adalah balasan sikap Sania kepada Raja. Dari dulu Sania bersikap dingin, acuh bahkan galak meski Raja sudah meminta maaf dan selalu bersikap baik kepadanya. Sekarang dia tahu apa yang dirasakan Raja karena saat ini dia juga merasakan ada yang perih saat di diamkan dan diacuhkan.
Sania semakin merasa bersalah. Dari dulu sikapnya sudah keterlaluan. Meski dia sudah memaafkan Raja, namun sudah pasti sikapnya malah menyakiti pria itu. Terus apa gunanya dia memaafkan Raja kalau sikapnya bisa saja menyakiti hati Raja meski pria itu tidak pernah menunjukkan rasa kecewanya selain kejadian malam tadi.
"Terus aku harus gimana?" ucap Sania sambil mengaduk aduk mie ayamnya.
"Ya terus berjuang dong, Raja aja dari dulu berjuang kok, masa kamu nggak bisa?" Saran Mita sambil memonyongkan bibirnya karena kepedasan.
"Ya ampun, Mit! Entar aku dikira wanita apaan?" tolak Sania manyun.
"Loh? Yang penting kan minta maaf dulu! Kalau emang ngerasa salah ya nggak perlu mikirin yang lain," balas Mita.
"Nggak perlu gengsi juga, toh kamu yang salah ini," balas Lita.
Sania langsung mencebikkan bibirnya. Meski begitu, dia tetap memikirkan saran kedua sahabatnya. Dia pun melanjutkan menikmati mie ayamnya.
Beberapa saat kemudian ketiganya nampak sudah menghabiskan mie ayam mereka. Setelah cukup istirahat setelah makan, mereka beranjak menuju pedagang buat membayar.
"Berapa, Mang?" tanya Sania.
"Semuanya sudah dibayar, Mba," balas si penjual.
"Apa? Dibayar? Oleh siapa, Mang?" tanya Sania heran.
"Juragan empang,"
"Hah!"
...@@@@@...