Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 83



Hati Sania mencelos mendengar ucapan Abah. Rasa bersalah pun langsung bersarang di hatinya. Dia bergegas mencari keberadaan Raja. Tapi dia bingung mau mencari dimana, sedangkan yang dia tahu, Raja pasti tidak mengenal orang sini.


Sania melihat mobil Raja masih terparkir di samping rumah tantenya jadi tidak mungkin Raja pergi jauh. Tapi kemana Raja pergi. tak ada satupun yang tahu.


Amar yang terpaksa di bangunkan oleh Umi pun akhirnya sedikit meluapkan emosinya ke sang adik. "Tadi kan aku sudah bilang, San, Raja ditemenin, eh malah kamunya ngeyel mentang mentang Raja ngertiin."


"Aku kan tadi tahunya Raja masih sama kamu, Bang," ucap Sania membela diri.


"Tapi ya tetep saja kamu jangan mengabaikan. Bukannya menghargai orang yang sudah mau bantuin, kamunya malah angkuh gitu. Abang memang temannya, tapi Abang sudah berkeluarga, jangan samakan saat Abang masih bujang." ujar Amar sedikit mengeraskan suaranya.


"Yang angkuh juga siapa, Bang? Orang namanya nggak tahu ya mau gimana lagi," ucap Sania kesal. Dia pun langsung pergi menghindari perdebatan yang bisa saja semakin memanas. Mata Sania berkeliling ke sekitar, berharap Raja sedang bercengkrama dengan warga sekitar. Namun sayang sekali harapan Sania pupus.


Sania pun mendekat ke arah mobil Raja, berharap Raja mungkin berada disana. Dan benar saja, saat kepala Sania melongok ke kaca mobil yang terbuka, dia melihat Raja sedang tidur di kursi tengah mobil. Seketika Sania pun merasa lega dalam hatinya. Dia segera memberi tahu yang lain.


Setelah Sania menyampaikan kabar keberadaan Raja, dia kembali menuju ke tempat Raja berada. Perlahan dia membuka pintu mobil dan duduk di tempat yang tadi Sania dudukin pas berangkat.


Niat Sania duduk disana adalah agar tidak kena omel Amar lagi. Jadi dia mengambil inisiatif dengan menemani Raja meski pria itu tertidur.


Sania bingung saat berada di dalam mobil. Dia hanya bengong sambil sambil main ponsel. Matanya melirik Raja yang sedang terlelap. Dari yang awalnya melirik, mata itu menjadi menatap dan terus menatap.


Wajah Raja meski terlihat lelah namun saat tidur terlihat damai dan manis "ups!" Sania langsung menutup mulutnya saat hatinya tanpa sadar memuji pria itu. Hati Sania pun menjadi berdebar tak karuan. Untuk menormalkan detak di dadanya, Sania berpaling pandangan ke arah depan. Namun itu tak berlangsung lama. Hati kecilnya seakan akan mendorong Sania untuk kembali menatap wajah Raja.


Beberapa detik menunggu, Sania tidak mendengar suara apa apa. Dia pun kembali melirik secara perlahan dan dia terlihat menghembuskan nafasnya karena merasa lega Raja masih tertidur. Sania pun kembali memandangi wajah Raja.


Tanpa Sania sadari, sebenarnya Raja terbangun saat bergerak dan melenguh barusan. Namun saat mata dia perlahan terbuka, Raja terkejut melihat Sania berada dalam satu mobil dengannnya. Dia pun penasaran, apa yang Sania lakukan di dalam mobil sendirian? Batin Raja pun bertanya tanya.


Saat Raja melihat kepala Sania seperti hendak berpaling, buru buru dia memejamkan matanya kembali. Raja penasaran apa yang akan Sania lakukan.


Hati Raja seperti sedang meletup letup saat ini. Betapa dia sangat bahagia saat wajah mata Sania terus memandangi wajahnya yang terpejam. Sungguh Raja penasaran tentang isi hati Sania saat ini. Apa yang sedang Sania pikirkan saat mata itu memandangi wajah Raja diam diam.


Ya. Saat ini, Sania memang sedang memikirkan pria yang sedang dia pandangi. Memikirkan kejadian kejadian yang mereka alami akhir akhir ini. Dan memikirkan fakta fatka yang Sania ketahui tentang perasaan Raja terhadapnya.


"Kamu itu tampan, kamu itu baik, Bang. Banyak wanita yang menyukaimu. Tapi dari yang aku dengar katanya kamu sudah lama menyukaiku? apa itu benar?" gumam Sania pada diri sendiri. Dia berpikir kalau Raja tidak mendengarnya.


"Maaf ya, Bang. Jika selama ini sikapku sering menyakiti kamu hanya gara gara masa lalu kita di awal pertemuan. Aku sendiri juga nggak tahu, Bang. Perasaanku saat ini bagaimana ke kamu. Tapi yang jelas tadi aku sempat nggak rela saat bude mau mengenalkan anak perempuannya sama kamu. Makanya aku jawab saja kalau kita pacaran."


Deg


...@@@@@...