
"Ternyata benar, Dedek Sansan mau dilamar anak Kyai Bahar, aku harus gimana?" gumam Raja begitu dia sampai di depan gerbang rumah Sania.
Seketika hati Raja menjadi kacau, perasaannya gundah. Dia hendak mengurungkan niatnya menjemput Sania namun sayang, kedatangannya sudah diketahui Abah Mudin.
"Raja! Ngapain bengong di situ?" tanya Abah Mudin setengah berteriak dan membuat Raja sedikit tersentak.
"Eh iya, Bah," Balas Raja sembari tersenyum kikuk. Dia pun melajukan motor tanpa menyalakan mesinnya menuju pelataran rumah Abah Mudin dekat teras.
Setelah turun dari motor dan menginjakkan kaki di teras rumah Sania, Raja langsung memberi salam kepada Abah Mudin dan Kyai Bahar. Kedua pria itu pun menjawab salam Raja dengan santun.
"Mau menjemput Sania?" tanya Abah.
"Iya, Bah," jawab Raja. Dia masih merasa canggung dan tentu saja hatinya masih tidak enak. Apa lagi jika tatapannya beradu dengan tatapan Kyai Bahar. Raja seperti mendapat intimidasi.
"Menjemput Sania?" tanya Kyai Bahar. Sepertinya dia terkejut mendengar tujuan Raja datang ke situ.
"Iya," jawab Abah sembari mengulas senyum tanpa ragu sedikitpun.
"Kok bisa Sania di jemput laki laki? Kan belum mukhrim?" tanya Kyai Bahar lagi. Kini tatapannya seperti menajam ke arah Raja.
"Ini cuma kebetulan saja," jawab Abah dan dia pun menceritakan kejadian yang menimpa putrinya dari awal hingga Sania di jemput Raja sore ini. Nampak Kyai Bahar hanya manggut manggut beberapa kali.
"Kamu anaknya Pak Abdul, Kan?" tanya Kyai Bahar dan Raja terperanjat mendengar pertanyaan seperti itu. Kyai Bahar kenal ayah Raja dan pasti dia tahu juga kelakuan buruk Raja.
"Iya, Pak kyai," Balas Raja. Perasaanya semakin takut dan gundah.
Kyai Bahar hanya manggut manggut dan bibirnya mengulas senyum. Namun Raja tahu maksud dari senyum Kyai tersebut. Dan dari senyum itu. Entah apa arti senyum yang terkembang di bibir Kyai Bahar, yang pasti Raja merasakan sesuatu yang tak enak di dalam hatinya.
"Apakah Ramzi sudah mulai berdakwah?" tanya Abah. Kemungkinan obrolan mereka tadi terpotong karena kedatangan Raja.
"Bagus lah, masih muda sudah berani dakwah," puji Abah dan pujian tersebut membuat nyali Raja semakin ciut.
"Masih belajar, Din. Biar dia juga bisa evaluasi diri, letak kesalahannya dimana," jawab Kyai Bahar merendah. Entah itu sengaja atau bukan, yang pasti Raja semakin tidak nyaman.
"Harusnya tadi Ramzi ikut kesini, tapi sayang, dia ada undangan mengajar pemuda di kampung sebelah," Lagi lagi ucapan Kyai Bahar semakin membuat hati Raja resah. Dan Raja semakin yakin kalau Sania benar benar akan di jodohkan.
Saat Abah akan membalas ucapan Kyai Bahar tiba tiba Sania keluar rumah dan sudah bersiap diri.
"Udah datang kok nggak ngasih tahu? Orang ditungguin dari tadi juga," ucap Sania sedikit ketus dengan senyum yang dipaksakan karena ada Kyai Bahar di sana.
"Jangan marah sama Raja. Abah yang salah tadi nggak langsung manggil kamu," balas Abah sebelum Raja membuka suaranya.
"Ya udah, yuk berangkat, Abah, Pak Kyai, saya permisi dulu yah," Sapa Sania mohon diri mau pamit berangkat mengajar. Dan tentu saja Abah dan Kyai Bahar pun mempersilahkan. Tak lupa Raja dan Sania mengucapkan salam sebelum pergi.
"Apa kamu tidak curiga, kalau anak Pak Abdul, hanya ingin mendekati putri kamu, Din?" tanya Kyai Bahar begitu Raja dan Sania sudah berlalu meninggalkan mereka.
"Selama niat Raja baik dan tidak membahayakan putri saya, ya saya sih nggak keberatan apapun alasan dia, Har," balas Abah lagi lagi sembari mengulas senyum. Abah Mudin benar benar tidak mau berprasangka buruk terhadap siapapun.
Sepanjang perjalanan, Raja dan Sania hanya terdiam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, yang pasti Raja merasa gundah dengan berita tentang Ramzi yang akan melamar Sania. Dia meyakini Sania pasti akan menerima lamaran tersebut. Wanit mana coba yang tidak terpikat dengan pesona Ramzi dengan ilmu agama yang sangat bagus.
Namun saat dalam perjalanan dan Raja sedang asyik dengan pikirannya sendiri bersamaan fokus melajukan motornya. Mata Raja dikejutkan dengan dia menangkap sosok yang sangat dia kenal. Di persimpangan jalan dimana lampu merah menyala di ke tiga sisi, Raja melihat Pria yang nampak mesra dengan seorang wanita di atas motor. Wanita itu dengan santainya melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang pria dengan dagu bergelayut manja di pundak kiri pria itu. Dan sang pria nampak tenang tenang saja, bahkan dia sangat senang menikmati perlakuan wanita dibelakangnya
"Bukankah itu Ramzi? Kok di peluk oleh perempuan gitu, dia diam saja? atau jangan jangan..."
...@@@@@...