
Raja sekuat hati menahan senyum setelah mendengar sindiran yang terlontar dari mulut Sania. Jika bukan karena gengsi, mungkin dia sudah terbahak bahak karena sindiran tersebut. Apalagi saat dia melihat ekspresi wajah yang Sania tunjukkan. Ingin rasanya dia mencubit pipi perempuan itu.
Raja tidak menyangka, Sania bisa menemukan cara seperti itu dalam menyindir perbuatannya yang mengabaikan pesan Sania. Entah dapat ide darimana yang pasti sindiran tersebut sukses membuat hati Raja berdesir.
Sania juga tidak menyangka bisa menyindir Raja dengan cara seperti itu. Ingin rasanya dia tersenyum, namun melihat wajah Raja yang nampak biasa saja, membuat dia mengurungkan niatnya. Sementara Rumi, hanya bisa menggelengkan kepalanya meski dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
Pelajaran pun dilanjutkan, Raja mengulang kembali ayat yang tadi dengan cara seperti yang Sania ajarkan. Perlahan namun pasti, akhirnya Raja bisa menyelesaikan bacaan ayat ayat tersebut.
Akhirnya belajar mengaji malam ini pun selesai. Sembari menunggu isya, Raja memilih masuk ke dalam kamar sedangkan Rumi dan Sania masih mengobrol di tempat sholat berbagi pengetahuan ke hal yang lainnya.
Raja sebenarnya ingin gabung dengan dua perempuan tersebut. Namun mengingat dia yang lagi pura pura masih marah ke Sania membuat dia memilih mengurungkan niatnya dan beranjak menuju kamar.
Di dalam kamar, Raja tak henti hentinya tersenyum, bahkan terkikik pelan mengingat semua kejadian yang dia alami terutama sikapnya kepada Sania. Entah sampai kapan dia akan mengakhiri sandiwara kemarahannya. Yang jelas, Raja sangat menikmati rasa bersalah yang Sania tunjukan.
"Bang Raja terlihat masih marah ya, Rum," ungkap Sania di sela sela obrolannya.
"Yah, sepertinya, Mbak. Tapi baru kali ini loh Mbak, Bang Raja marah ke seseorang tapi memilih diam," balas Rumi.
"Kok bisa?"
"Iya, Mbak. Biasanya, Bang Raja kalau marah tuh langsung ngomong ke orangnya udah gitu selesai dan marahnya nggak pernah lama," mendengar fakta dari bibir Rumi, tentu saja membuat Sania semakin resah.
"Berarti aku sudah sangat keterlaluan dong, Rum. Dia bahkan marahnya beda dan juga lama," tutur Sania. Entah kenapa rasa benci yang selalu Sania kibarkan, menguap begitu saja sejak rasa bersalahnya muncul. Mungkin benar ini karma buat dia.
"Udah, jangan terlalu dipikirkan, Mbak. Entar juga Bang Raja capek sendiri jika terus terusan diam kayak gitu," saran Rumi. Dia juga tidak tega melihat Sania semakin merasa bersalah.
Tak terasa suara adzan pun terdengar, pertanda waktu sholat isya sudah tiba. Kini mereka kembali sholat berjamaah denngan Raja sebagai imam kembali. Sholat pun berjalan dengan hikmat. Selesai sholat, kini semuanya menuju meja makan.
Saat mereka baru saja duduk di kursi yang tersedia, mereka mendengar ada suara dari arah depan rumah. Raja kenal betul suara siapa itu.
"Tuh, Bang. penjemputnya sudah datang," ujar Rumi. Raja beranjak malas menuju pintu utama.
"Penjemput?" bisik Sania.
Namun tak lama kemudian Raja kembali masuk bersama Bapak. Sedangkan Ibu nampak baru keluar kamar setelah menaruh mukena yang tadi dia kenakan.
"Bang Raja nggak pergi?" tanya Rumi yang merasa heran melihat sang kakak duduk bersama mereka.
"Enggak," balas Raja singkat.
"Loh? Kenapa?" tanya Rumi makin penasaran.
"Ya nggak apa apa dong Rum, kakakmu nggak pergi, bukankah itu hal bagus," kini malah Bapak yang menjawab. Bapak menjawab seperti itu karena dia tadi juga menyaksikan penolakan Raja kepada anak buahnya. Bapak juga sebenarnya heran namun dia cukup senang. Dia berharap ini adalah langkah awal buat anaknya agar berubah menjadi pria yang lebih baik lagi.
"Iya sih, Pak. Tapi aku ngerasa aneh aja Bang Raja tidak nonton dangdutan,"
"Udah, udah, jangan diperbdebatkan, lebih baik sekarang kita makan. Kasian Sania, sudah nungguin," ucap Ibu.
Akhirnya Rumi pun terdiam. Kini semuanya segera mengambil nasi dan lauk secara bergantian. Dengan tenang mereka menikmati hidangan yang ada. Bahkan sesekali terjadi percakapan diantaranya.
"Abah sama Umi katanya besok mau pergi ya, San?" tanya Abdul tiba tiba.
"Iya, Om. Kom Om Abdul tahu?" tanya Sania heran.
"Iya, tadi pas Om mau ke empang, ketemu Abah di jalan. Akhirnya Om mampir deh dan dia ngasih tahu," balas Abdul.
"Oh gitu," balas Sania singkat.
"Kata Abah, besok kamu disuruh nginep dan tidur di sini sementara, kedua kakakmu nggak bisa menemani kamu, jadi Abah minta nitipin kamu di sini,"
"Apa!"
...@@@@@...
Hai reader, gimana hari terakhir puasa kalian? masih semangat kan? harus! Oh iya mulai siang ini, karyaku di pf sebelah mulai up ya? yang udah tanya tanya, cek aja di komentar, aku sudah balas pertanyaan kalian. Yang penasaran dengan karya ku di tempat lain, bisa di cari di laman komentar episode kemarin. pasti ada tuh judul dan tempatnya. jangan lupa pada mampir loh yah? makasih semuanya.